
Keesokan paginya
Anindira bangun untuk menyiapkan keperluan suaminya seperti biasa. Tak lupa ia mengecek kembali barang yang sekiranya dibutuhkan Aksan selama diluar kota nanti. jujur saja Anindira bingung karena ini pertama kalinya ia mengurus hal seperti ini.
"Ada yang ketinggalan tidak ya? aduh aku bingung sekali"
Akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan barang yang penting-penting saja. lagipula Aksan hanya pergi selama tiga hari.
Setelah dirasa semua sudah beres, ia pun bergegas untuk membangunkan suaminya.
Sebelum membangunkannya, seperti biasa Anindira selalu menatap wajah tampan sang suami yang sedang tidur. gadis itu merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Aksan, dia hanya perlu mengambil hatinya saja.
"Suamiku bangun" Malu-malu ia memanggil Aksan dengan kata suamiku. meskipun terdengar menggelikan ditelinga tapi sebutan itu lebih baik dari pada panggilan tuan. Tak hanya bagi Anindira saja, Aksan pun juga merasakan hal yang sama, akan tetapi ia tak terlalu memusingkan hal itu.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Aksan langsung pergi bersama Malik tentunya.
***
Sore hari tiba, Kanaya yang baru pulang dari kantor langsung menemui sahabatnya itu di toko karena mereka sudah janjian untuk pergi setelah Kanaya pulang.
"Lama banget sih". Ucap Anin saat Kanaya baru memarkirkan mobil.
"Iya nanggung tadi kerjaan dikit lagi".
Jawab Kanaya.
"Yasudah kalau begitu. Ayo!"
Mereka berdua pun segera pergi dengan mobil yang terpisah tentunya, karena Anindira memang sudah memiliki supir pribadi sendiri. itupun karena paksaan dari ibu mertuanya.
Mereka berdua pergi ke tempat makan rumahan langganan mereka dan memesan banyak makanan, Anindira juga menyuruh supirnya untuk memesan makanan namun supirnya itu menolak dan memutuskan untuk menunggu mereka diluar saja.
Dan seperti yang sudah-sudah, setelah makanan habis ludes mereka akan tuduh-tuduhan karena memesan begitu banyak makanan.
"Padahal aku mau diet" Ucap Kanaya setelah menghabiskan teh manis dingin yang tersisa sedikit lagi di teko.
Anindira memutar bola matanya mendengar ucapan Kanaya.
"Terlalu kurus juga tidak baik. mau sekurus apalagi kau ini." Ucap Anindira kesal, pasalnya sahabatnya ini bisa dibilang sudah seperti orang cacingan semenjak bekerja ini. tubuhnya sudah kurus hanya saja pipinya yang sedikit chubby.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman favorit mereka sebelum pulang. tempatnya tak jauh dari tempat makan langganan mereka ini.
Hanya beberapa menit berjalan saja mereka sudah sampai di taman. mereka berjalan mengitari taman sambil bercerita banyak hal. tak ketinggalan sang supir yang ikut mengawal mereka namun berada sedikit jauh dibelakang.
"Apa kau ingat jembatan itu? Jika dulu kak Kenan tidak menarikku aku mungkin sudah tenggelam saat itu". Ucap Anindira melihat ke arah jembatan di atas danau itu, mengingat masa saat ia terpuruk dulu.
"Sudahlah tidak perlu diingat lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita nikmati saja hidup ini".
"Apa kabar kak Kenan ya? setelah hari pernikahanku dia menghilang begitu saja tanpa kabar. pesanku juga tidak di balas. apa dia ada mengabarimu?"
"Tidak ada, pesan terakhir ku juga tidak di balas. aku yakin dia pasti patah hati".
"Entahlah".
Mereka berjalan sembari menikmati udara malam di taman yang terasa sejuk, banyak pohon pohon tua yang besar serta akar pohonnya yang besar pula tumbuh mengelilingi taman. serta lampu lampu jalan bewarna kuning yang berjejer disepanjang jalan taman, ada juga lampu hias berwarna warni yang dihias dipohon menambah kesan menarik di taman ini. Pengunjung yang datang dimalam hari tidak sebanyak yang datang disiang atau sore hari, tapi itulah yang menyenangkan karena tidak terlalu ramai, sehingga cocok untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau di suasana yang tenang dan damai seperti di taman ini. Itu sebabnya taman ini menjadi taman favorit bagi mereka berdua.
"Indah sekali suasana malam di taman ini, sudah lama sekali kita berdua tidak kesini malam-malam seperti ini". Ucap Kanaya.
Sepanjang menyusuri taman ini mereka bernostalgia mengingat kenangan di masa lalu sambil tertawa bersama.
Setelah pukul delapan malam mereka memutuskan untuk pulang.
"Hati-hati Nay, jangan ngebut, langsung istirahat jangan begadang". Ucap Anin pada Kanaya yang sudah berada di dalam mobilnya.
"Baiklah besti tenang saja. yasudah aku duluan ya. Daah"
Setelah Kanaya pergi, Anindira segera masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sang supir, dan mereka langsung bergegas pulang ke mansion.
"Mah maaf ya Anin baru pulang. Tadi sepulang dari toko Anin pergi bersama teman Anin". Anindira minta maaf meskipun ibu mertuanya itu sudah mengizinkan saat dia minta izin tadi siang.
"Tidak apa-apa nak, selama kamu perginya ditemani supir dan kamu aman itu tidak masalah." .
Setelah menemui ibu mertuanya Anindira langsung ke kamarnya untuk segera membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri Anin langsung menuju tempat tidur untuk segera beristirahat.
Sepi juga ya tidak ada dia. Dilihatnya bantal kosong disebelah yang biasanya ditiduri suaminya itu. kemudian pandangannya beralih ke ponselnya.
"Apa dia tidak ada niatan untuk menelponku" Anindira sedang galau saat ini.
Sementara orang yang digalaukan saat ini tengah sibuk menyesap sebatang rokoknya.
Di balkon kamar hotel berbintang ini, Aksan tengah memikirkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenaknya yang membuatnya bingung. tentu saja semua itu menyangkut tentang dirinya dan Anindira, dan juga hubungan baru pernikahan mereka.
Apa yang akan terjadi pada hubungannya bersama Anindira kedepannya?
Kenapa setiap bersama gadis itu ia merasa tidak terganggu? bahkan ia merasa nyaman, padahal mereka adalah dua orang asing yang baru bertemu.
biasanya cukup sulit bagi Aksan untuk menerima orang asing selama ini, tapi kenapa pada gadis itu berbeda?
Kenapa bayang-bayang Anindira selalu muncul dibenaknya, bahkan saat sedang bekerja, membuatnya kadang tak fokus pada pekerjaan.
Apakah mungkin dia mulai menyukai gadis itu?
Apakah perasaan aneh yang dirasakannya akhir-akhir ini adalah perasaan cinta?
Kenapa setiap melihat gadis itu terlelap membuatnya merasakan kedamaian? dan kenapa ia begitu betah memandangi wajah damai yang sedang tertidur itu?
Tidak bisa dipungkiri bahwa sering ada hasrat yang tiba-tiba muncul begitu saja saat berdekatan dengan gadis yang menjadi istrinya itu, namun sekuat tenaga ia menahannya. dan kenaoa ia harus menahannya? bahkan ia bebas melakukan apa saja kepada istri sah nya itu. tapi apa yang dia lakukan? apa yang selama ini coba ia pertahankan? ego? hanya karena trauma dengan penghianatan dimasa lalu membuatnya menghancurkan kehidupan di masa depan?
Apakah benar jika semua wanita itu sama?
Apakah salah jika dia ingin memulainya bersama gadis itu? tapi bagaimana jika dirinya kembali dikhianati? inilah yang menyebabkan ia takut untuk memulai dan bersikap dingin.
Tapi di lubuk hati yang terdalam dirinya sangat ingin memiliki hubungan yang normal layaknya suami istri pada umumnya. ingin rasanya ia memeluk gadis itu saat tidur. ingin diperhatikan, dan masih banyak keinginan lainnya.
Perasaan apakah ini sebenarnya?
Begitulah kira-kira berbagai macam pertanyaan dan kenyataan yang ada dalam benak pria itu.
Lama ia memikirkan hal-hal yang telah mengusik pikirannya selama ini. Setelah cukup merasa tenang ia pun memadamkan puntung rokoknya yang tinggal setengah lalu membuangnya.
Setelah itu dia masuk untuk segera membersihkan diri, karena ia memang baru kembali ke kamar hotel setelah menemui rekan bisnisnya.