Bakery love story

Bakery love story
Drama Pagi-pagi



Sore hari saat jam kerja telah berakhir. Para karyawan yang sudah lelah seharian bekerja langsung meninggalkan perusahaan tempat mereka mencari nafkah, perusahaan yang menggaji mereka dengan besar, sepadan dengan kerjakeras dan tanggung jawab mereka yang besar.


Aksan dan Malik sedang berjalan menuju tempat parkir khusus Presdir. Malik yang hendak membukakan pintu mobil untuk Tuannya terkejut melihat wanita yang sedang berdiri tepat di sebelah mobil mereka.


"Aksan" Ucap Tamara dengan senyuman diwajahnya. orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tamara langsung mendekati Aksan dan hendak memegang tangannya, tapi dengan cepat Aksan menepis tangan Tamara.


"Aksan aku ingin bicara denganmu, aku sangat merindukanmu." Ucap Tamara dengan wajah memelas dan berpura-pura sedih. "Aksan, tolong beri aku satu kesempatan. aku yakin kau masih memiliki perasaan untukku, iyakan?"


"Kau benar"


"Aku sudah menduganya." Tamara sangat senang mendengar perkataan Aksan dan langsung memeluknya. meskipun bermain-main dengan banyak pria, tapi Tamara tidak bisa melupakan Aksan. mantan kekasihnya yang paling kaya dan tampan diantara semua pria yang pernah bersamanya.


"Aku memang memiliki perasaan padamu. Perasaan benci." Aksan berkata jujur membuat Tamara terkejut dan langsung melepaskan pelukannya.


"Aksan?"


Aksan menyeringai.


"Kau tidak tahu malu ya? percaya diri sekali kau."


"Ini peringatan terakhirku untukmu. jangan beraninya kau mengganggu istriku lagi. dan jangan pernah menunjukkan dirimu yang sangat rendahan ini kepadaku." Aksan menekan di setiap perkataannya.


Aksan lalu membuka jasnya dan menyerahkannya pada Malik.


"Buang ini. Jas ini sudah ternodai olehnya." Malik pun langsung membuang jas mahal itu ke tong sampah di dekat situ. Tamara tak menyangka Aksan akan melakukan hal itu. Sebegitu hinanya Tamara dimata Aksan sampai dia harus membuang jasnya. Tamara merasa malu dan terhina dengan sikap Aksan.


"Ayo Malik, aku tidak ingin berlama-lama dengan wanita tak tahu malu ini." Aksan hendak masuk kedalam mobil namun dicegah oleh Tamara.


"Aksan kenapa kau bicara seperti itu padaku? dulu kau tidak seperti ini, dulu kau sangat mencintaiku. pasti istrimu yang telah merubahmu kan."


"Dulu? hahaha, dulu aku memang bodoh. aku tertipu dengan wanita licik sepertimu. Dan kau benar, istriku sudah merubahku menjadi lebih baik sekarang. aku sangat mencintainya, aku sangat beruntung mendapatkannya."


"Tapi Aksan?"


Aksan segera masuk kedalam mobil disusul sekretaris Malik. Malik pun segera melajukan mobil meninggalkan Tamara sendirian dengan perasaan kesalnya.


Tamara tak menyangka Aksan memperlakukanya seperti itu. ia kira beberapa kali memohon akan membuatnya luluh. Tetapi tidak, Anindira telah mengubahnya. Aksan yang dulu sangat mencintainya kini berubah menjadi orang yang sangat membencinya, bahkan perkataannya sangat kasar dan menyakiti perasaannya, meskipun yang dikatakan Aksan semuanya benar, tapi Tamara tak mengharapkan perlakuan seperti ini dari Aksan.


"Aku sangat membenci wanita itu. kau telah membuat Aksan berubah. Akan kubalas kau wanita sialan." Tamara berteriak dengan perasaan marah, kesal, dan sakit hati.


***


Semenjak hamil, Anindira jadi sangat menyebalkan. permintaannya sangat banyak dan aneh-aneh. terutama soal makanan. terkadang ingin makan ini terkadang ingin makan itu, tapi saat semuanya sudah ada didepan mata dia malah tidak menginginkannya lagi. Aksan hanya bisa menahan rasa kesalnya dan bersabar menghadapi istrinya.


Malam ini Anindira berulah lagi.


Anindira merasa sesak saat tidur disatu ranjang dengan suaminya, padahal tempat tidur ini sangat lebar. ia merasa kesempitan dan menyuruh Aksan untuk tidur ditempat lain.


Aksan dengan sangat sabar mengabulkan permintaan istrinya yang ingin tidur sendirian di kasur yang sangat lebar itu. Dengan terpaksa Aksan tidur di sofa kamar mereka demi menuruti permintaan Anindira.


Keesokan paginya.


"Huaa" Anindira menguap. ia baru terbangun dari tidur nyenyaknya. tubuhnya terasa sangat segar. lain halnya dengan Aksan. Badannya terasa sakit setelah tidur di sofa yang pas-pasan untuknya. meskipun sofa itu besar, tetap saja terasa sempit kalau untuk ditiduri. ia tak leluasa bergerak. ia bahkan berkali-kali terjatuh kebawah karena lupa kalau sedang tidur di sofa, karena ia biasanya tidur sambil memeluk istrinya.


Aksan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai kepala, seperti mayat. membuat Anindira terkejut dan takut saat melihatnya.


"Aaaa..."


Aksan langsung terbangun saat mendengar teriakkan istrinya. ada apa lagi kali ini pikirnya.


"Sayang ada apa?"


"Huh ternyata suamiku." Ucap Anindira kesal sambil memegang dadanya.


Aksan langsung bangkit menuju tempat tidur, mendekati istrinya.


"Benarkah? Jadi kenapa suamiku tetap tidur disana? Seharusnya suamiku tidur disini bersamaku. apa suamiku sudah tidak ingin tidur bersamaku lagi?"


Aksan jadi terpojok karena Anindira malah menyalahkannya.


"Tapikan kau yang menyuruhku tidur disana sayang."


"Tapi kenapa Suamiku setuju? suamiku memang tidak ingin tidur denganku lagi. sudah sana jangan dekat-dekat."


Aksan tidak mengerti dengan istrinya, sudah dia yang menyuruh Aksan untuk tidak tidur dengannya, dia pula yang marah. Aksan hanya bisa menghela nafasnya kasar. susah sekali menghadapi ibu hamil ini batinnya.


"Huaa suamiku tidak mencintaiku lagi." Anindira menangis sembari turun dari kasur. Aksan ikut turun mengikutinya dari belakang.


"Sayang apa yang kau katakan, aku masih mencintaimu aku akan selalu mencintaimu. selamanya."


"Benarkah?"


Dengan cepatnya Anindira senang karena mendengar perkataan Aksan barusan.


Aksan mengangguk lalu memeluk istrinya yang sangat sensitif itu. perasaannya mudah berubah-ubah, terkadang senang dan sedih tanpa sebab. membuat orang serba salah.


"Kenapa kau sensitif sekali? kau itu sangat menyebalkan tau." Ucap Aksan sembari mengusap kepala istrinya. Anindira langsung memukul dada Aksan sembari tertawa. Ia juga menyadari dirinya yang menjadi lebih sensitif semenjak hamil.


Kenapa aku jadi begini ya? perasaan ku cepat berubah-ubah. terkadang aku marah tanpa alasan, mungkin ini bawaan kali ya. kasian suamiku hehe.


Anindira mengeratkan pelukannya, meskipun dirinya sudah sangat menyebalkan dan merepotkan Aksan, tapi Aksan tetap sabar menghadapinya. ia bersyukur mendapatkan suami yang sangat mencintai dirinya.


Setelah drama pagi hari ini, mereka pun bersiap-siap segera mandi dan turun kebawah untuk sarapan.


Dimeja makan sudah ada Nyonya Hanna dan Tuan David. mereka selalu yang pertama tiba di dimeja makan.


"Kalian lama sekali, Papa sudah lapar tuh nungguin kalian." Ucap Nyonya Hanna kepada Putra dan menantunya yang baru turun.


"Eh kok papa? nanti Mama."


Bella baru turun dengan lesu menuju meja makan.


"Ini lagi anak satu lama sekali." Ucap Nyonya Hanna.


"Kamu kenapa Bel?" Tanya Tuan David melihat putrinya yang terlihat lemas.


"Aku tidak enak badan" Jawabnya dengan wajah lesu.


"Makanya, ini pasti kamu salah makan. kan sudah mama bilang jangan makan sembarangan." Nyonya Hanna memarahi Bella.


"Mana ada aku makan sembarangan."


"Mama tau kamu pasti masih makan makanan pinggir jalan itu kan. kamu memang tidak mendengarkan mama ya. Anindira kamu jangan ikuti dia ya. cucu mama tidak boleh merasakan makanan pinggir jalan. dia hanya boleh makan makanan yang sehat." Oceh nyonya Hanna panjang lebar. Anindira mengangguk.


"Mama, Tapi aku sudah tidak makan makanan pinggir jalan lagi." Ucap Bella jujur.


"Mana Mama percaya."


Bella memutar bola matanya karena mamanya tidak percaya. padahal ia berusaha untuk menahan godaan makanan pinggir jalan selama ini.


"Ssttt Mama, daritadi mama marah-marah terus. mama pasti kelaparan kan. sudah makan dulu makan dulu." Ucap Tuan David, ia tahu istrinya sedang kelaparan makanya marah-marah terus.


"Tau nih Mama, orang lagi sakit malah dimarahi." Sahut Bella merajuk.


Aksan yang sedari tadi melihat mereka, berpikir dan menyimpulkan sesuatu.


Ternyata tidak cuma orang hamil, orang kelaparan pun juga menyebalkan. aku tidak boleh membiarkan Anindira sampai merasa kelaparan, kalau tidak menyebalkannya akan dobel dobel. batin Aksan.