Bakery love story

Bakery love story
Sangat tersentuh



Keesokan harinya.


Keluarga Alister sudah datang mengunjungi Chika diruangannya. Chika merasa senang mendapatkan kunjungan dari mereka. beruntung sekali rasanya mendapat kunjungan dari keluarga terpandang seperti mereka, sudah kaya baik lagi.


Sementara keluarga Alister datang, Gantian Alira dan Madan pulang untuk membersihkan diri, setelah itu nanti kembali lagi.


"Bagaimana keadaanmu Chika?" Tanya Nyonya Hanna yang sudah mengenal Chika, karena dulu ia sering datang ke toko roti. menurutnya Chika gadis yang baik, periang tapi dewasa. tidak manja seperti Bella.


"Sudah lumayan tante"


"Syukurlah"


Bella memperhatikan Chika dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Jadi dia Chika. Hmm Masih cantikan aku.


"Bella?" Panggil Nyonya Hanna kepada putrinya yang sedang melamun. Bella pun tersadar.


Baiklah, dia bukan sainganku.


Bella lalu memperkenalkan dirinya pada Chika, dengan menjabat tangan Chika yang sedang terbaring.


"Bella. Adik ipar kak Anin yang paling cantik."


"Chika. pegawainya kak Anin." Balas Chika ramah.


"Ya, kita pernah bertemu waktu itu."


"Benar, saat hari pertama tante Hanna datang ke toko roti."


Bella dan Chika mulai mengobrol ringan. Anindira dan Nyonya Hanna tersenyum melihat mereka yang terlihat akrab dengan cepat.


Ternyata dia asik juga orangnya. Batin Bella


Tak lama kemudian Kevin datang bersama Kanaya. kebetulan ini hari minggu jadi Kanaya libur.


Semua yang ada disitu langsung melihat kearah mereka karena mereka berdua datang bersama.


Sebenarnya Kanaya ingin pergi sendiri tadi, tapi Kevin menelponnya dan mengajak untuk pergi bersama karena tujuan mereka sama, yaitu menjenguk Chika. Karena kegigihannya dalam mendapatkan nomor telepon Kanaya, akhirnya ia pun berhasil mendapatkannya. entah dari mana hanya dia yang tahu.


"Kevin? Kanaya? kalian datang bersama?"


"Iya Tante" Jawab Kanaya malu-malu.


"Wah jangan mau kak sama kak Kevin. dia itu playboy." Sahut Bella.


Lagi-lagi kata itu yang didengar Kanaya.


Playboy? bahkan keluarganya bilang dia playboy. apa itu memang benar?


Hmm... Pasti itu hanya masa lalunya. Kanaya masih berpikir positif.


Saat Kanaya hendak membuka mulutnya menanyakan kabar pada Chika. Kevin menanyakan terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Sudah lebih baik, Tuan."


"Panggil aku kakak saja, seperti Bella memanggilku. sepertinya kalian seumuran."


"Baiklah kak. terimakasih karena sudah menolongku kemarin."


Kevin mengusap kepala Chika, membuat Chika heran dan juga Kanaya. Kanaya sedari tadi memperhatikan Kevin yang sepertinya sangat peduli dengan Chika, apalagi saat dia mengusap kepala Chika, Kanaya langsung membelalakkan matanya.


Dasar genit, aku tidak mau tertipu dengannya. Batin Kanaya.


Hubungan mereka saat ini sudah lumayan dekat. Kevin selalu berusaha untuk mendekatinya. meskipun banyak rumor yang mengatakan kalau Kevin playboy, tapi menurut Kanaya itu hanyalah rumor. karena ia tak pernah melihat Kevin menggoda wanita lain selain dirinya. Kanaya rasa ia harus memberikan kesempatan untuk Kevin.


Kevin sudah pernah menyatakan perasaannya, bahkan dia meminta agar Kanaya menjadi kekasihnya. tapi saat itu Kanaya tidak menjawab, ia perlu waktu untuk memikirkannya.


Kanaya berpikir dia akan menjawab Kevin hari ini. dia berencana akan menerima Kevin. apa salahnya memberikan kesempatan pikirnya.


Tapi apa ini? apa yang kulihat barusan? membuat cemburu saja.


Kanaya membatalkan rencananya untuk menerima Kevin menjadi kekasihnya.


Tak lama kemudian Alira dan Madan datang.


"Terimakasih ya Chika, demi menyelamatkan menantuku kamu sampai mau mengganti posisinya yang akan tertusuk pisau kemarin. kamu sampai berkorban seperti itu." Ucap Nyonya Hanna sambil mengelus kepala Anindira.


"Jangankan menggantikan posisi kak Anin yang akan tertusuk pisau, matipun saya rela asalkan kak Anindira selamat."


"Chika kenapa bicara seperti itu?"


Anindira marah dengan apa yang Chika katakan.


Chika tersenyum lalu mulai mengeluarkan isi hatinya.


"Kakak adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. kakak sudah banyak membantuku. aku tidak tahu harus membalas dengan apa."


Chika masih berusaha tersenyum di setiap kata-katanya.


"Aku sungguh rela mati demi menyelamatkan nyawa orang lain, apalagi orang itu berhati baik seperti kakak."


"Kalau aku mati sekalipun, tidak akan ada orang yang bersedih. bahkan saat aku sakit seperti ini aku sendirian. keluargaku tidak ada bersamaku, karena aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini." Ucapnya dengan berlinang air mata yang berusaha tidak ia jatuhkan dari tadi.


Mereka yang ada disitu ikut sedih mendengar perkataan Chika, mereka kasihan dan iba melihat Chika. Apalagi Anindira, ia yang paling sensitif. pipinya sudah banjir air mata. Aksan memeluk istrinya yang sedang menangis.


Anindira tak menyangka Chika yang biasanya periang dan tak pernah menunjukkan kesedihannya, kini menunjukkan sisi rapuhnya. ia bahkan rela mati demi menyelamatkan nyawanya. sungguh Anindira sangat tersentuh.


Anindira berpikir bahwa hidupnya sangat beruntung. Dia selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, tapi semua orang baik yang dikenalnya memiliki cerita sedih dan kelamnya masing-masing. bahkan lebih menyedihkan dari dirinya.


"Chika jangan bicara seperti itu. kau membuat menantuku sedih. itu tidak baik untuk kesehatan bayinya." Ucap Nyonya Hanna.


"Aku juga sendiri. aku tinggal sendiri dan berjuang sendiri. kuatkan dirimu Chika. kami ada untukmu. kami bersamamu." Ucap Kanaya.


Chika mengusap air matanya. dan memegang tangan Anindira yang berdiri disebelanya.


"Kak, maaf membuatmu sedih. aku terbawa suasana karena sakit. aku kira aku akan mati saat tertusuk pisau kemarin. Tapi ternyata Tuhan masih ingin aku hidup karena pahala ku belum cukup. aku sangat bodoh." Ucap Chika sambil tertawa membuat mereka semua juga tertawa.


"Anak ini." Ucap Alira.


Chika memang seperti itu, gampang senang gampang sedih. sesedih apapun dia, pada akhirnya akan tertawa juga karena dia sangat riang. Anindira tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


***


Hari sudah sore, keluarga Alister pun sudah pulang, begitu juga dengan Kevin dan Kanaya.


Tinggallah Alira dan Madan. karena Chika yang tidak memiliki siapa-siapa, jadi Anindira menyuruh mereka untuk menjaganya kembali seperti semalam.


Alira memperhatikan Madan yang sedari tadi diam saja. seperti ada yang aneh. daritadi Madan menatap Chika dengan wajah yang sulit diartikan.


Alira merasa Madan ingin membicarakan sesuatu kepada Chika, Alira pun berinisiatif untuk meninggalkan mereka sebentar berdua saja.


"Emm, aku cari makan dulu ya."


Madan diam saja tak menjawab. Alira dan Chika menatapnya. Chika melihat Alira seolah bertanya ada apa dengan Madan. Alira mengangkat bahunya mengisyaratkan kalau dia juga tidak tahu. Ia pun segera pergi keluar meninggalkan mereka.


Kalau aku beli makan disini akan sangat cepat aku kembali. sebaiknya aku cari makan diluar saja. sekalian jalan-jalan sore.


Alira pun berjalan keluar meninggalkan rumah sakit ini.


Sementara di ruang perawatan, Chika masih heran dengan sikap Madan yang daritadi diam saja, tidak seperti biasanya. biasanya Madan selalu bertanya padanya, apa ada yang sakit?, atau apa dia lapar?. bahkan Madan selalu menghiburnya agar tidak bosan.


Ada apa dengannya?


"Kak Madan ada apa?"


"Tidak ada."


"Tapi kakak tidak seperti biasanya, ada apa kak?"


"Tidurlah kau harus istirahat." Ucap Madan lalu berjalan menuju sofa.


Kenapa dia jadi seperti itu? biasanya dia peduli padaku?


"Kak Madan?"


Chika terus berusaha memanggilnya, namun Madan diam saja.


Tak kehabisan akal, Chika pun hendak mengambil minum di meja. ia sengaja menjatuhkan tutup gelasnya, membuat Madan langsung datang dan membantunya untuk minum.


"Kalau butuh sesuatu bilang." Ucapnya setelah meletakkan kembali gelasnya ke meja, lalu berbalik menuju sofa, tapi Chika langsung memegang tangannya.


"Apa aku membuat kesalahan?"


"Tidurlah." Ucap Madan sembari melepaskan tangan Chika.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau kakak mendiamkan ku seperti ini? apa salahku?" Ucapnya sedih. Madan menghela nafasnya. lalu mulai berbicara.


"Siapa aku dimatamu?" Tanya Madan serius.


"Apa tadi kau bilang? kalau kau mati tidak akan ada orang yang sedih?, lalu kau anggap apa aku ini? kau merasa kau sendirian padahal aku selalu bersamamu." Jelas Madan membuat Chika terdiam. ia tak mengira kalau perkataannya tadi akan membuat Madan tersinggung.


"Maaf"


"Apa kau tahu bagaimana perasaan ku? apa kau tahu betapa aku menghawatirkan mu? aku takut kehilanganmu." Madan mengeluarkan seluruh isi hatinya membuat Chika tersentuh.


"Maafkan aku, aku tidak tahu"


"Sebenarnya ini juga salahku, aku tidak mengatakan yang sebenarnya padamu."


Madan menarik nafasnya. lalu melanjutkan perkataannya.


"Aku mencintaimu."


Chika tersenyum bahagia mendengarnya, ia sangat terharu. baru kali ini ada orang yang menyatakan perasaan cinta padanya.


"Aku juga"


"Juga apa?"


"Aku juga mencintaimu kak Madan." Ucap Chika malu-malu membuat Madan tersenyum.


Sebenarnya Chika juga mulai menyukai Madan sejak kedekatan mereka dimulai.


Madan dan Chika akhirnya resmi berpacaran. meskipun usia Chika enam tahun dibawahnya, tapi usia bukanlah masalah bagi mereka.


Bersambung. . .