
Setelah membuat keputusan, Aksan memberitahu keluarganya tempat yang sudah ia pilih untuk liburan mereka nanti.
"Aku sudah memutuskan kita akan liburan di Bali." Ucap Aksan.
"Bali?". Ucap mereka semua kompak. Aksan mengangguk.
"Bagaimana?"
"Papa setuju" Ucap Papanya.
"Aku juga setuju" Ucap Bella.
"Mama ikut saja" Ucap Hanna.
Wah pergi ke Bali. aku belum pernah pergi ke Bali.
Anindira membayangkan dirinya sedang berada di pantai yang indah disana.
"Sayang?" Tanya Aksan pada Anindira yang melamun. mereka semua menunggu jawabannya. Anin pun tersadar, mereka semua menatapnya. ia malu karena lagi-lagi kedapatan sedang melamun lebih tepatnya menghayal.
"Aku setuju" Ucapnya semangat. Aksan pun tersenyum mengelus kepalanya.
- - -
Aksan dan Anindira sudah berada di dalam kamar, bersiap-siap untuk tidur.
"Kau senang kita akan pergi ke Bali?". Tanya Aksan yang berbaring sambil memeluk istrinya. Anindira tersenyum dan mengangguk.
"Aku belum pernah pergi kesana".
"Benarkah?" Anindira mengangguk lagi.
"Suamiku?"
"Hmm"
Anindira bangun mengambil ponselnya di nakas, ia membuka internet dan mencari sesuatu disitu kemudian menunjukkannya pada suaminya.
"Coba lihat, dia seorang model terkenal, namanya zoya." Aksan melirik istrinya sepertinya ia tahu arah pembicaraan Anindira. Aksan menariknya kembali kedalam pelukannya. ia sibuk menciumi rambut Anindira yang sangat wangi baginya.
"Suamiku lihat ini" Anindira berusaha menunjukkan foto itu pada Aksan.
"Kau sedang apa Anindira?"
"Lihat dulu." Aksan pun melihat ponsel istrinya yang menampilkan foto seorang model bernama Zoya itu.
"Tidak ada yang lebih cantik dari istriku."
Ucapnya lalu meletakkan ponsel Anindira dinakas dan kembali memeluknya. Anindira terdiam mendengar perkataan suaminya. ia tersenyum di pelukan Aksan.
- - -
Siang hari di Toko Roti.
Seorang pria tengah berdiri memandangi bangunan yang berdominan kaca yang ada dihadapannya. pria itupun masuk diikuti seorang pria lagi yang baru tiba sehabis memarkirkan mobilnya.
Ting.
"Selamat datang Tuan." Sambut Chika menundukkan kepalanya.
"Dimana istriku?".
Chika kemudian melihat ke arah orang tersebut.
"Tuan Aksan" Ucap Chika terkejut.
"Dimana istriku Anindira?"
"Ada dibelakang, Tuan".
Wah tampan sekali. baru kali ini aku lihat Tuan Aksan secara langsung, selama ini aku hanya melihat dari majalah bisnis. eh itu yang dibelakangnya juga tampan.
Batin Chika. ia terus menatap makhluk-makhluk tampan yang ada dihadapannya. sampai suara deheman keras seorang pria dibelakang Aksan menyadarkannya, pria itu tak lain adalah Malik.
"Eh, tunggu sebentar Tuan, biar saya panggilkan."
"Tidak usah, antarkan saja saya kebelakang"
"Baik Tuan, mari."
Aksan dan Malik mengikuti Chika menuju ruangan tempat pembuatan roti. aroma harum khas roti tercium dimana-mana.
Anindira sedang mengeluarkan roti-roti dari panggangan. "Sempurna" ucapnya senang karena roti itu mengembang dengan cantiknya, tekstur dan kematangan yang pas dan aromanya yang harum.
"Kak, Tuan Aksan datang" Ucap Chika kepada Anin yang tengah memperhatikan roti-roti buatannya yang baru matang itu.
"Ah yang bener kamu Chik". Ucap Anindira sambil mengolesi sesuatu diatas roti yang masih panas itu, membelakangi mereka.
Anindira mengira Chika hanya bercanda, ia tak percaya jika Aksan datang mengunjunginya ditokonya.
"Sayang." Suara dingin seorang pria yang sangat ia kenal terdengar. Anindira langsung berbalik dan benar saja suaminya sedang berdiri disana. ia terkejut karena Aksan selama ini tak pernah datang ke tokonya sebelumnya.
"Suamiku?"
"Kau sedang apa? bukankah kau berjanji hanya akan memantau saja? kenapa kau repot-repot membuat roti seperti ini." Suasana menjadi hening. Anindira mematung tak bisa menjawab. ia memang berjanji tak akan melakukan apapun. Semua pegawai yang berada disitu menunduk. hawa dingin mulai terasa.
"Apa pegawai disini kurang? apa perlu kutambah pegawai baru?" Masih hening, entah mengapa Anindira merasa takut, ia seperti sedang ketahuan berbuat salah.
Aksan menghela nafasnya kasar. "Kemari".
Anindira mendekat. "Aku hanya tidak ingin kau kelelahan". Ucapnya menangkup wajah Anin setelah Anindira berada dihadapannya.
"Apa kau menyimpan baju ganti disini?" Anindira mengangguk.
"Cepat ganti, kita akan keluar."
"Baiklah" mereka pun pergi keruangan Anindira yang berada di lantai atas.
Aksan menunggu Anindira yang sedang berganti baju sambil menikmati beberapa roti yang baru dihidangkan. Dia memang mengakui kalau rotinya sangat enak.
Sekretaris Malik menunggu di depan.
"Berapa jumlah pegawai disini?, apa pegawai disini perempuan semua?" Tanya Malik pada Chika yang sedang menyuguhkan beberapa roti dan kopi di meja.
"Silahkan Tuan"
"Cicipi saja Tuan."
Chika pun mulai menjelaskan tentang toko roti ini dan menjawab pertanyaan Malik. malik mendengarkan sambil mencicipi rotinya.
Hebat Nona. Batin Malik setelah mendengar kisah Anindira dari Chika, ia manggut-manggut sambil terus memakan rotinya.
Katanya gak suka roti tapi habis tiga.
Batin Chika.
- - -
Setelah Anindira selesai mengganti bajunya, kini mereka sudah berada di mobil, menuju sebuah restoran. ia mengenakan baju rajut berwarna ungu dengan celana panjang berwarna putih. hanya itu baju yang pernah ia simpan di tokonya.
"Kita mau kemana suamiku?"
"Makan siang." Anindira heran, Tumben Aksan mengajaknya makan siang bersama.
"Mulai sekarang kita akan makan siang bersama setiap hari." Ucap Aksan menarik Anindira untuk bersandar dipundaknya.
"Suamiku, kenapa kau tidak memberitahuku dulu kalau mau datang?"
"Kenapa?, kalau aku datang tiba-tiba kan aku jadi tahu apa yang kau lakukan disana."
"Memang apa yang bisa aku lakukan disana" Gumamnya.
Setelah tiba di restoran mereka langsung masuk dan duduk di kursi yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh sekretaris Malik.
Anindira melihat buku menu dengan bingung, ia tak mengerti semua makanan yang ada dimenu karena semuanya menu makanan Perancis.
"Mau pesan apa sayang?" Tanya Aksan. Anindira menggelengkan kepalanya.
"Gado-gado gak ada ya?"
Aksan tertawa mendengar perkataan istrinya. "Sayang, inikan restoran Perancis. mana ada gado-gado." Akhirnya Anindira memesan pesanan yang sama dengan suaminya.
Setelah selesai makan Aksan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan memberikannya pada Anindira.
"Apa ini?"
"Itu Black card, kau bisa membeli apapun sepuasnya dengan kartu itu."
"Wah jadi seperti ini kartunya, kartu tanpa batas." Gumam Anin sambil memperhatikan kartu yang berada ditangannya itu.
"Tapi suamiku, aku tidak bisa menerimanya."
"Aku itu suamimu, aku harus memberimu nafkah dan memenuhi semua kebutuhanmu. anggap saja itu nafkah dariku."
"Tapi aku tidak tahu harus menggunakan kartu ini untuk apa."
"Beli pakaian dengan kartu itu"
"Tapi pakaianku sudah penuh dilemari."
"Beli lemari dengan kartu itu." Anindira tertawa.
"Beli semua kebutuhan mu dengan kartu itu." Ucap Aksan lagi.
"Tapi semua kebutuhan ku sudah terpenuhi suamiku."
"Jangan tolak." Ucap Aksan sambil melotot.
"Baiklah"
Sebenarnya aku takut kartu ini hilang. aku harus menyimpannya dengan hati-hati.
"Ayo ikut aku ke kantor." Ucap Aksan
"Ke kantor?, Tapi apa yang akan aku lakukan disana?"
"Kau hanya perlu duduk menemaniku bekerja."
Sebenarnya Anindira menolak ikut Aksan ke kantornya, pasti banyak orang yang akan memperhatikannya nanti. karena ia adalah istri dari bos pemilik perusahaan itu. namun setelah dipikir-pikir ia bisa bertemu dengan Kanaya nanti disana, akhirnya ia memutuskan untuk ikut.
Di dalam mobil.
"Bagaimana penampilanku? bagaimana pakaianku?," Anindira tidak percaya diri dengan penampilannya, ia takut membuat Aksan malu. ia berkaca di ponselnya dan mengambil lipstik yang ada di tasnya. ia memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah.
"Untuk apa kau berdandan. kau mau menggoda siapa dengan bibir merahmu itu?" Ucap Aksan langsung merebut lipstik yang sedang dipakainya.
"Suamiku, aku tidak ingin membuatmu malu dengan penampilan ku".
"Apa yang kau katakan, kau sudah cantik."
"Benarkah?"
Aksan memasukan lipstik dan ponselnya kembali kedalam tas. lalu ia mendekat dan mencium bibir Anindira. Anindira membelalakkan matanya dan memukul dada suaminya itu. bisa-bisanya Aksan menciumnya di saat seperti ini.
"Apa yang kau lakukan suamiku?" Tanya Anin kesal setelah Aksan melepaskan ciumannya.
"Ada sekretaris Malik disini." Bisiknya sambil melirik kearah depan.
"Dia tidak lihat, dia sedang menyetir." Ucapnya santai. sementara Malik yang tak sengaja melihat adegan tadi hanya menelan salivanya kasar.
"Bibir merah mu itu sangat menggoda."
Anin mengambil tissue dan mengelap lipstik diujung bibirnya. kemudian mengelap lipstik yang menempel dibibir suaminya.
Setelah turun dari mobil, Aksan langsung merangkul pinggang Anin dengan mesra. semua mata tertuju pada mereka. Anindira tersenyum kepada mereka semua, sedangkan Aksan tidak memperdulikan tatapan semua orang.
mereka berjalan menuju lift khusus untuk Presdir dan orang-orang penting.
"Apa itu istri Tuan Aksan?".
"Cantik ya. kalau gitu aku ikhlas melepas pujaan hatiku Tuan Aksan dengan Nona manis itu".
"Dari wajahnya sih sepertinya dia baik". "wajah-wajah orang baik memang seperti itu." para staff dan karyawan saling berbisik dan berkomentar.
Sekretaris Malik baru selesai memarkirkan mobilnya. suasana lobby yang tadinya berisik menjadi senyap saat dia datang.
Bersambung. . .