Bakery love story

Bakery love story
Liburan ke Bali



Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, kini keluarga Alister tengah bersiap-siap untuk berlibur ke Bali.


Para pelayan kini tengah memasukkan Beberapa tas dan barang keperluan mereka ke dalam mobil.


Anindira merasa sangat senang, pasalnya ia belum pernah naik pesawat ataupun pergi ke Bali. ini akan menjadi pengalaman pertama baginya, ia sudah tidak sabar untuk segera tiba disana.


Hal yang sama juga dirasakan adik iparnya, Bella. meskipun sudah pernah ke sana, tapi kalau urusan jalan-jalan dia selalu senang. Mereka berdua sangat bersemangat.


Sembari menunggu barang-barang mereka masuk ke mobil, Bella mengajak Anindira untuk berfoto. Rencananya Bella akan membuat status di akun sosial medianya sebelum mereka pergi.


Bella seorang selebgram yang cukup terkenal. ia terkenal karena parasnya yang cantik dan juga stylenya yang modis. Bella sering mengupdate tentang kesehariannya di akun sosmed nya. Bagi seorang putri dari keluarga konglomerat tentu saja kesehariannya tidaklah membosankan.


"Kakak ipar ayo kita foto dulu."


Nyonya Hanna yang sedang lewat langsung ditarik oleh Bella supaya ikut bergabung.


"Bella mama tidak suka foto, kalian saja."


"Ayolah ma, kitakan belum pernah foto bertiga dengan kakak ipar."


"Pamali foto bertiga." Sela Tuan David.


"Ah itu mitos." Ucap Bella.


Karena putrinya memaksa akhirnya Nyonya Hanna pun ikut berfoto bersama mereka.


Mereka tertawa melihat hasil foto mereka yang lucu karena Tuan David mengacau dengan menunjukkan wajah jeleknya dikamera. ia sengaja menampakkan dirinya difoto itu karena tidak ingin mereka foto bertiga. Sedangkan Aksan menggelengkan kepalanya melihat kenarsisan mereka.


"Ah papa ganggu pemandangan aja deh. . . Wah kakak ipar cantik sekali. . .


Mama juga keliatan lebih muda disini. . .


Kalau aku memang selalu cantik. . ." Ucap Bella saat melihat-lihat hasil foto mereka.


"Jadi aslinya mama tua gitu?" Tanya Hanna


"Sedikit." Ucap Bella


"Enak aja, umur boleh tua tapi wajah awet muda. hahaha." Ucap Hanna tertawa lalu meninggalkan mereka.


Mereka semua tertawa. para pelayan yang mendengarnya juga ikut tersenyum. sementara Tuan David menyengir mendengar perkataan istrinya barusan.


"Upload di sosmed ah, like nya pasti banyak. Tapi yang mana ya semuanya bagus dan lucu." Ucap Bella


"Tidak boleh" Ucap Aksan.


"Kenapa? Bolehkan kak?". Tanya Bella melihat Anindira. Anindira melihat Aksan. ia tidak tahu kenapa suaminya melarang.


"Pokoknya tidak boleh. Aku tidak mau ada orang yang melihat foto istriku. bagaimana kalau ada yang tertarik dengannya setelah melihat foto itu. Aku tidak mau wajah istriku jadi konsumsi publik." Ucap Aksan. Anindira dan Bella tercengang mendengar perkataannya.


Jauh sekali pemikirannya. Batin Anin


"Sampai segitunya, cinta banget ya sama istrinya." Goda Bella.


"Awas ya Bel, kakak bisa tau kau mempostingnya atau tidak. Kakak akan suruh orang kakak untuk menghilangkan akun sosial media kamu, mau?"


"Eh jangan kak, iyaiya gak di posting kok tapi jangan apa apakan akunku, followers ku sudah banyak tau."


- - -


Setelah semua barang sudah masuk ke mobil, mereka langsung berangkat menuju villa pribadi milik mereka terlebih dahulu. perjalanan menuju villa hanya memakan waktu setengah jam dari Mansion atau rumah utama. karena disana sudah ada jet pribadi milik mereka yang sudah menunggu.


Mereka semua berada dalam satu mobil yang dibawa oleh sekretaris Malik. Sedangkan barang-barang mereka berada di mobil satunya lagi yang dibawa oleh supir pribadi Anin dan beberapa bodyguard yang ikut untuk menjaga mereka disana nanti.


Loh inikan bukan jalan menuju Bandara. Batin Anindira


Jalan menuju villa ini melewati pepohonan karena letaknya di dekat hutan. meskipun belum pernah naik pesawat tapi Anindira tahu kalau ini bukan jalan menuju bandara.


"Wah likenya banyak sekali." Ucap Bella saat melihat postingan terbarunya yang sudah dibanjiri like dan komentar pujian. Ia duduk di depan bersama sekretaris Malik yang sedang mengemudikan mobil.


Aksan yang duduk dikursi belakangnya langsung merebut ponsel Bella dari tangannya. ia mengira Bella telah memposting fotonya bersama Anindira. Dilihatnya postingan adiknya yang hanya menampilkan fotonya sendiri dengan caption "Foto dulu sebelum berangkat😋".


"Cihh alay" ucapnya lalu mengembalikan ponsel adiknya. Bella memutar bola matanya.


"Daripada kakak, Foto kakak ipar aja gak boleh diliat orang, lebay wekk." Ejek Bella sambil menjulurkan lidahnya. Aksan mendorong kursi Bella dari belakang.


"Kalian ini bertengkar terus kerjaannya." Ucap Hanna. ia duduk di kursi belakang bersama suaminya. suasana di dalam mobil pun senyap saat mobil mulai memasuki kawasan hutan. Tuan David membuka sedikit kaca jendela, menikmati sejuknya udara. mereka semua merasakan kesejukan dan ketenangan alam disana. terkecuali Bella, ia masih fokus dengan ponselnya.


Kemudian ia melirik ke sebelahnya yang dari tadi diam saja hanya fokus pada kemudinya. sifat jahilnya pun muncul.


"Kak Malik, aku cantik kan." Tanyanya pada Malik, Malik hanya diam saja.


"Kak Malik, jawab dong. gausah malu-malu bilang aja, aku cuman tanya kok. lagian semua orang juga mengakui kalau aku cantik." Ucap Bella panjang lebar dengan percaya dirinya. Malik menghela nafasnya.


Kakak adik sama saja.


Bella terus mengganggunya dengan pertanyaan pertanyaan anehnya.


"Kak Malik, kakak kan lebih tua setahun dari kak Aksan, kenapa kakak belum menikah juga?, kakak pasti belum punya pacar kan?"


"Anda memang cantik Nona, tapi bukan tipe saya." Akhirnya Malik bersuara, Anindira tertawa sedangkan Aksan menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang terlalu percaya diri dan konyol itu. sementara Bella tercengang mendengar perkataan Malik barusan.


"Kak Malik juga bukan tipe Bella." Ucap Bella sambil memutar bola matanya. ia kembali memainkan ponselnya.


Akhirnya dia diam juga.


Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di villa pribadi mereka. Jet pribadi sudah standby menunggu mereka di atap, para pengawal langsung memasukkan barang-barang mereka kedalamnya.


Anindira terpukau melihat Villa ditengah hutan ini. pasti sangat menyenangkan tinggal di tempat seperti ini. udaranya sejuk dan jauh dari kebisingan kota.


Ia lebih terpukau lagi saat melihat sebuah pesawat jet yang berada diatas villa ini. ia tak mengira bahwa mereka akan pergi dengan menaiki sebuah pesawat jet pribadi. Ia memandangi jet didepannya itu Sambil memegangi topi yang sedang ia pakai agar tidak terbang karena anginnya sangat kencang.


"Kita naik itu suamiku?"


"Iya, kau senang?" Anindira mengangguk.


Aku belum pernah naik pesawat biasa, tapi sekarang aku naik pesawat pribadi.


Mereka semua pun masuk dan duduk dengan nyaman, lain halnya dengan Anindira, meskipun Senang tapi ia juga takut karena ini pertama kali baginya. Aksan menggenggam tangannya.


"Jangan takut, ada aku" Aksan menenangkannya lalu mencium tangan istrinya yang di genggamnya. Anindira menarik nafasnya dan tersenyum. Setelah Anindira merasa agak tenang, Aksan pun memerintahkan sang pilot untuk segera berangkat. Mereka pun berangkat menuju tempat tujuan yaitu Bali.


Sekretaris Malik sudah mempersiapkan semua keperluan mereka selama di Bali. Ia sudah menyiapkan villa serta penjaga dan asistennya, juga kendaraan untuk mereka berpergian nanti.


Ditengah perjalanan Anindira mual-mual, ini sudah ketiga kalinya ia bolak balik ke toilet.


"Sayang buka pintunya, kenapa lama sekali?" Aksan menunggunya di depan pintu toilet karena Anindira mengunci pintunya. ia tidak ingin orang lain melihatnya muntah karena kata orang muntah itu menular.


Setelah memuntahkan isi perutnya, Anindira pun keluar dari toilet dengan wajah pucat.


"Sayang kau kenapa? wajahmu pucat sekali."


"Tidak apa-apa, aku hanya mabuk udara saja karena aku tidak terbiasa naik pesawat."


"Anindira kemari nak." Panggil Hanna, Aksan membawa Anindira duduk disebelah ibunya. Hanna mulai mengolesi kepala dan perut menantunya itu dengan minyak angin.


"Aku bisa sendiri mah." ucap Anindira merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, aku ini ibumu tidak perlu sungkan." Ucap Hanna lalu memijat kepala Anin.


Anindira jadi teringat dengan ibunya. dulu saat Anindira sakit ibunya yang sering mengoleskan minyak angin dan memijat kepalanya meskipun dia sudah besar. ibunya dulu sangat memperhatikannya.


"Terimakasih bu, eh terimakasih ma."


Hanna tersenyum, ia tahu apa yang sedang dipikirkan Anindira. " Kau sedang memikirkan ibumu?" Anindira mengangguk. ia sedang merindukan ibunya.


Setelah merasa lebih baik, Aksan mengajak Anindira kembali ke tempat duduk mereka tadi. Anindira yang duduk dekat jendela pesawat sangat terpukau melihat pemandangan dibawah, ia melihat pulau pulau kecil serta pantai yang sangat indah.


"Wahh. . ." Anindira benar-benar dibuat kagum dengan pemandangan yang dilihatnya. melihat pemandangan dari ketinggian memanglah menakjubkan.


Beberapa saat kemudian.


Tibalah mereka di sebuah villa di pulau Bali. lokasi villa ini berada dekat dengan pantai. Mereka turun dari pesawat dan langsung masuk ke villa, para pengawal membawa barang-barang mereka kedalam. para pelayan dan penjaga memberikan hormat kepada mereka.


"Asik villanya kali ini dekat pantai." Ucap Bella senang karena mereka bisa kepantai kapan saja.


"Iya, lokasinya bagus ya." Ucap Nyonya Hanna.


"Malik memang bisa diandalkan, kerjanya bagus melebihi ayahnya dulu." Ucap Tuan David.


"Cih, itu semua karena perintahku. aku yang menyuruhnya mencari villa dekat pantai."


Tentu saja Aksan yang memerintahkannya dan Malik selalu menjalankan perintahnya dengan sangat baik.