Bakery love story

Bakery love story
Pikirkanlah Masa Depan Kita



Keesokan harinya.


Hari ini cuaca cerah, mereka sangat senang terutama Anindira dan Bella. kalau cuacanya mendukung mereka jadi bisa pergi jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat wisata disini.


Hari ini mereka pergi ke sebuah pantai yang sangat terkenal di pulau Bali. pantai ini merupakan destinasi wisata yang sangat terkenal hingga ke mancanegara.


Pantai ini memiliki pemandangannya yang sangat mempesona, pasir putih bersih yang halus terhampar luas, dan ombak yang bagus dengan buih-buih di bibir pantainya, serta pesona sunset yang menawan menjadi daya tarik bagi para pengunjung.


Anindira yang baru pertama kali datang ketempat ini tak henti-hentinya berdecak kagum. ia sangat terpukau dengan keindahan dunia yang terletak di pantai ini.


"Indah sekali." Gumam Anindira takjub.


Apa ini mimpi? rasanya aku ingin menangis. Batin Anindira mengeluarkan setitik air mata, ia terharu bisa melihat semua keindahan ini secara nyata.


"Kakak ipar kenapa menangis?" Tanya Bella melihat mata Anindira berair. Aksan pun langsung melihat istrinya.


"Sayang kau kenapa? apa kau sakit? mana yang sakit?" Ucap Aksan panik melihat istrinya memang seperti menangis.


"Eh aku tidak apa-apa, aku tidak sakit. hanya kelilipan sedikit." Ucap Anindira tertawa sambil menghapus sisa air mata dimatanya.


Kalian berlebihan sekali, memangnya hanya orang sakit yang bisa menangis. Batinnya lucu.


Bella mengajak Anindira ke tepi pantai merasakan buih-buih ombak yang menyentuh kaki mereka.


"Huaa. . . ini seru sekali, aku sangat senang." Ucap Anindira berlarian di pinggir pantai. Bella juga sama dengannya. mereka asik bermain air.


"Mereka seperti anak kecil saja." Ucap Aksan yang sedari tadi mengawasi mereka dari jauh. Aksan bersama Tuan David dan Nyonya Hanna sedang duduk di kursi santai. menikmati indahnya hamparan laut yang luas dari sana.


"Kakak ipar sepertinya kau senang sekali." Tanya Bella, ia belum pernah melihat Anindira sangat antusias dan bersemangat seperti itu, sudah seperti dirinya yang seperti anak kecil.


"Iya, aku belum pernah kemari sebelumnya padahal tempat ini sangat bagus. aku hanya sering melihatnya di TV atau internet saja, dan sekarang aku bisa merasakan keindahan ini secara langsung. sebab itu aku senang." Ucap Anindira pada Bella. mereka kini berjalan menyusuri tepi pantai.


"Kau juga sepertinya senang sekali, inikan bukan pertama kalinya kau datang kemari?"


"Aku senang kak, karena bisa menikmati waktu liburan bersama keluarga seperti ini. aku memang pernah kemari tapi bersama teman-temanku. kali ini aku pergi bersama keluargaku, jadi aku senang." Ucap Bella. mereka terus berjalan menyusuri pantai sambil bercerita.


"Sangat jarang kami bisa liburan bersama seperti ini. dulu semenjak berpisah dari kekasihnya, kak Aksan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. dia berubah menjadi orang yang dingin dan pemarah, dia selalu marah-marah padaku padahal aku hanya bercanda tapi dia marah, huh menyebalkan sekali dia itu." Ucap Bella kesal mengingat kakaknya. kemudian ia melanjutkan ceritanya lagi.


"Mantan kak Aksan bernama Tamara, dia ketahuan selingkuh dan kak Aksan sangat marah, karena dia sangat mencintainya dulu. mulai dari situ kak Aksan berubah."


"Tapi sekarang sepertinya tidak lagi." Bella tersenyum menatap Anindira. "Kakak ipar telah merubah kakakku. walaupun sedikit." Ucap Bella menyatukan jari jempol dan telunjuknya. mereka pun tertawa bersama.


Dari cerita Bella, Anindira mengetahui segalanya.


Pasti dia sangat mencintai wanita itu, sehingga begitu berpisah dia jadi berubah. Batin Anindira.


Hari semakin sore, setelah melihat sunset yang menakjubkan, mereka segera kembali ke villa. perjalanannya lumayan jauh. mereka tiba di villa saat hari sudah gelap.


Setelah sampai mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat di kamar masing-masing.


Setelah mandi Anindira memakai pakaian tidurnya dan langsung berbaring di tempat tidur, ia cukup lelah hari ini. Anindira berbaring menghadap suaminya yang sedang bersandar di tempat tidur dengan laptopnya, sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu.


"Suamiku, kau sedang bekerja?"


"Iya," Ucap Aksan tersenyum.


Dia bekerja keras sekali padahal sudah sesukses ini. kurang kaya, apa?.


Aksan yang menyadari kalau Anindira terus menatapnya. "Ada apa?"


"Apanya?" Anindira tersadar dari lamunannya. "Oh tidak apa-apa"


Aksan meletakkan laptopnya di nakas, ia langsung mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur sebagai penerangan. ia masuk kedalam selimut dan mendekat pada Anindira.


"Ada apa sayang? kau ingin melakukan sesuatu?" Tanya Aksan dengan senyuman smirknya. Anindira memutar bola matanya.


"Tidak suamiku, lanjutkan saja pekerjaanmu, aku mau tidur."


"Tidak. katakan kenapa kau menatapku seperti itu tadi?"


"Kapan?"


"Tadi kau menatapku saat aku sedang bekerja, kau pasti menginginkan sesuatu kan, yasudah ayo."


"Ayo apanya?, aku tidak menatapmu suamiku, aku sedang memikirkan sesuatu."


"Apa yang kau pikirkan? pria lain?"


"Suamiku, apa kau masih memiliki perasaan dengan mantan kekasihmu dulu?"


"Ck, jadi kau memikirkan ini dari tadi?. berapa kali harus aku bilang, apa kau lupa perkataanku waktu itu?"


"Aku ingat, tapi melihat kau selalu sibuk bekerja seperti ini. . ., bukankah dulu ini cara agar suamiku bisa melupakan wanita itu? kau selalu bekerja keras, bahkan disaat sedang liburan sekalipun."


"Siapa yang memberitahumu kalau bekerja keras adalah caraku agar bisa melupakan wanita tidak tahu malu itu?" Tanya Aksan serius, Anindira diam tidak menjawab.


"Bella? pasti anak itu yang mengatakannya. benar kan?"


"Suamiku, jangan marahi Bella ya? aku yang bertanya padanya, dia hanya menjawab pertanyaan ku, karena aku memaksanya memberitahu semuanya." Anindira takut kalau Aksan akan memarahi Bella atau menghukumnya. ia berusaha membujuk suaminya agar tidak marah pada Bella.


Aksan menghela nafasnya panjang.


"Sstt. . ," Aksan menempelkan jarinya ke bibirnya. "Untuk apa aku memarahi Bella." Ucap Aksan sambil tersenyum, ia mengerti Anindira sangat menyayangi Bella. Anindira lega mendengar perkataan Aksan.


"Terimakasih suamiku."


"Bella adikku, aku juga menyayanginya." Meskipun sering bertengkar, dan kesal dengan ulah Bella, tapi Aksan tetap menyayangi adiknya.


"Dan soal bekerja keras, aku bekerja keras karena memang itu tugasku. suamimu ini adalah seorang CEO sukses, muda dan tampan. jika tidak bekerja keras bagaimana perusahaan akan bertahan? jadi jangan pernah membahas atau memikirkan wanita itu lagi. aku ingin ini terakhir kalinya kita membicarakannya." Jelas Aksan, Anindira sempat salah paham tapi kini ia sudah lega dengan penjelasan suaminya.


"Jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting. pikirkan saja masa depan kita." Ucap Aksan karena istrinya itu selalu memikirkan yang tidak-tidak. Anindira mengangguk.


"Kapan terisinya ya." Ucap Aksan sambil mengusap perut Anindira. Anindira merasa bersalah karena Aksan sudah sangat menginginkan anak dan mertuanya juga sangat mengharapkan cucu darinya.


Kenapa aku belum juga diberikan amanah menjadi seorang ibu ya?. Batin Anindira sedih.


"Tidak masalah, kita hanya kurang berusaha saja. jadi ayo kita berusaha lagi." Ucap Aksan membuat Anindira membelalakkan matanya.


"Ayo". Ucap Aksan sambil mengedipkan matanya.


"Suamiku apa kau tidak lelah?, semalam kan sudah." Ucap Anindira menyengir,entah kenapa ia sering merasa lelah padahal tidak melakukan pekerjaan berat.


"Tidak ada kata lelah, kita harus bekerja keras. kita tidak boleh bersantai sedikit pun." Ucap Aksan dengan senyuman smirknya. Anindira memutar bola matanya.