Bakery love story

Bakery love story
Merasa bersalah



Aksan sudah tiba dirumah sakit yang di beritahukan Kevin lewat telpon tadi.


Dengan terburu-buru Aksan berjalan diikuti Malik dibelakangnya. dari kejauhan ia melihat istrinya yang sedang duduk bersandar bersama sang asisten.


Melihat kedatangan suaminya dari jauh Anindira langsung berdiri dengan berlinang air mata.


"Suamiku"


"Sayang" Aksan langsung memeluk istrinya berusaha menenangkannya. Anindira terus menangis dipelukan Aksan, ia merasa sangat bersalah dan sedih saat ini. apalagi dirinya yang tengah hamil jadi perasaannya sangat sensitif.


Ternyata inilah yang membuat perasaan Aksan gelisah tadi. seharusnya ia tidak mengijinkan Anindira pergi.


Aksan menangkup wajah istrinya lalu menghapus air matanya. Anindira tampak lesu dan pucat. Karena cemas Aksan segera membawa Anindira untuk di periksa.


Setelah dokter memeriksa dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Anindira, pemeriksaan pun selesai.


Dokter mengatakan kalau Anindira hanya mengalami syok ringan dan terlalu banyak pikiran. Dokter menyarankan agar Anindira jangan terlalu banyak berpikir yang berat-berat karena itu tidak baik untuk janin dalam kandungannya.


"Kau dengar itu sayang, kau tidak boleh terlalu banyak pikiran." Anindira mengangguk, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada kandungannya.


Setelah selesai pemeriksaan mereka segera kembali ketempat tadi untuk mengetahui perkembangan Chika.


"Bagaimana Chika?"


"Entahlah kak, Dokter belum keluar dari tadi, sepertinya operasinya belum selesai." Jawab Alira yang sudah lelah menunggu.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruangan operasi.


"Bagaimana keadaan Chika dok?"


"Pasien sudah kami tangani, untungnya tusukannya tidak terlalu dalam, sehingga lukanya tidak terlalu parah. kami sudah menjahit lukanya, dan sebentar lagi dia akan siuman."


"Syukurlah, terimakasih dokter."


"Baiklah, saya permisi dulu"


Dokter pun pergi, dan Chika segera dipindahkan ke ruang perawatan.


"Apa kau sudah menyelidikinya?" Tanya Aksan kepada Kevin.


"Iya, anak buahku baru telpon, dia bilang setelah diperiksa ternyata ibu itu sakit jiwa. salah satu keluarganya datang bilang kalau wanita itu pernah keguguran saat hamil, dia tidak rela bayi dalam kandungannya meninggal dan akhirnya dia stres. makanya setiap melihat wanita hamil dia ingin mencelakainya agar bernasib sama sepertinya." Jelas Kevin, Anindira dan Alira tercengang mendengarnya. sedangkan Aksan kesal karena kegilaan wanita itu istrinya hampir jadi korban.


"Kenapa wanita gila seperti itu bisa masuk kesana? bagaimana petugas keamanan itu bekerja? kenapa kau mempekerjakan sembarang orang? kau pecat saja mereka semua." Ucap Aksan kesal kepada Kevin.


Berani sekali dia mau menjadikan istriku sama sepertinya, akan kubunuh dia jika sampai itu terjadi.


"Aksan saudaraku" Kevin merangkul bahu Aksan. "Bagaimana bisa aku memecat orang begitu saja?. aku juga tidak mempekerjakan sembarang orang, mereka semua itu sudah terlatih." Kevin menjelaskan dengan lembut. ia harus berhati-hati. ia takut Aksan akan bertambah kesal.


"Suamiku apa maksudnya? kenapa Kevin yang harus memecat para petugas keamanan itu?"


"Dia pemilik mall yang kalian datangi tadi." Ucap Aksan. Anindira dan Alira tak menyangka.


"lagian ibu itu penampilan tidak seperti orang yang sedang sakit jiwa, dia terlihat normal." Ucapnya lagi, Anindira dan Alira mengangguk karena yang dikatakan Kevin benar juga.


Aksan tidak menanggapi Kevin, dia memilih bicara pada istrinya untuk mengajaknya pulang.


"Sayang ayo kita pulang, kau harus istirahat."


"Tapi suamiku, Chika belum sadarkan diri."


"Sudahlah, dia baik-baik saja. diakan sudah diobati, tinggal menunggu pemulihannya saja."


"Tapi?"


"Besok kita kesini lagi. besok dia pasti sudah sadar. sekarang kita pulang dulu ya, ayo."


"Baiklah"


Anindira dan Aksan pun kembali ke rumah sedangkan Alira dan Madan tetap disini menjaga Chika. sebenarnya tadi hanya Alira yang ditugaskan, tapi dia meminta agar Madan tetap tinggal untuk menemaninya menjaga Chika.


"Berterimakasih lah padaku" Ucap Alira sambil memasang wajah pahlawan karena sudah menahan Madan agar tetap disini.


"Aku tahu kak Madan sangat mengkhawatirkannya"


Madan menaikkan satu alisnya.


"Kak Madan menyukainya kan? aku tahu itu, aku tahu" Jelas Chika sambil tertawa. bangga karena sudah mengetahui sesuatu.


Sebenarnya sudah beberapa bulan ini dia memperhatikan seperti ada yang aneh antara Madan dan Chika, Mereka yang bisanya selalu berdebat dan tak pernah akur kini berbeda. sekarang Madan menjadi lebih perhatian pada Chika dan Chika pun selalu berkata lembut dan manis padanya. ini semua bermula setelah kejadian pencopetan di toko roti waktu itu.


"Aduh aku lapar sekali" Ucap Alira sambil memegangi perutnya. sedari siang sampai malam ia belum makan atau minum apapun. tenaganya sudah terkuras.


"Aku akan cari makan dulu." Ucap Madan


Sementara Alira pergi untuk mencari makan.


"Cepatlah sembuh" Ucap Madan sambil mengelus kepala Chika yang masih belum sadarkan diri.


Tak lama kemudian Chika terbangun dan mendapati Madan yang sedang duduk disebelahnya sambil memperhatikannya.


"Aww"


"Jangan terlalu banya bergerak dulu. sebentar."


Madan pergi memanggil dokter karena Chika sudah sadar. dokter pun segera memeriksanya kembali dan menjelaskan beberapa hal pada mereka. setelah itu pergi.


"Kau dengar itu, tidak boleh terlalu banyak bergerak nanti jahitannya lepas." Ucap Madan dengan wajah serius, Chika hanya mengangguk.


"Aku sangat menghawatirkanmu." Ucapnya lagi, Chika tersenyum lalu menggenggam tangan Madan.


"Terimakasih sudah menghawatirkan ku"


"Iya sama-sama." Ucap Alira yang sedang bersandar di pintu membuat mereka terkejut. Chika langsung melepaskan tangan Madan.


"Kakak?" Ucap Chika grogi.


"Kau sudah kembali?" Pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan Madan.


"Tidak perlu ditutupi aku sudah tahu." Ucapnya sambil tertawa menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan mu?" Chika menjelaskan apa yang dirasakannya dan apa yang sudah dokter katakan tadi dengan antusias. "Baiklah baiklah, cepatlah sembuh." Alira mengusap-usap kepala Chika.


"Kak jaga dia ya, aku mau tidur sebentar."


ia berjalan ke sofa, melepaskan sepatunya dan membaringkan tubuhnya.


"Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu. hahaha"


***


Keluarga Alister sedang berkumpul untuk makan malam. Anindira menceritakan semua yang terjadi kepada mereka semua.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan cucuku tadi, lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya." Ucap Nyonya Hanna geram menggebrak meja dengan ujung sendok membuat mereka terkejut. berani-beraninya ada orang yang ingin mencelakai menantu dan calon cucunya.


"Sstt, makan makan" Tuan David menyendokkan nasi di sendok yang digenggam istrinya dan mengarahkan ke mulutnya.


"Chika itu hampir mirip dengan Bella, usia mereka juga sepertinya sama."


"Yang jelas aku lebih cantik darinya." Ucap Bella dengan sok cantiknya.


"Maksudnya sifatnya hampir sama denganmu, tapi dia lebih dewasa sedikit."


"Jadi kakak pikir aku tidak dewasa?" Ucap Bella merajuk.


"Hey, yang istriku bilang itu kenyataan. kau memang tidak dewasa, kekanak-kanakan, ceroboh dan manja." Sahut Aksan


"Mamah, lihat kakak dan kakak ipar" Ucap Bella mengadu.


"Dari tadi kami memang sudah melihat mereka."


"Papah?" Bella kini mengadu pada Papanya.


"Anindira, Aksan, Mamah" Ucap Tuan David dengan wajah datar. "Kalian memang benar." Ucapnya lalu tertawa. membuat Bella tambah kesal, dia hanya memutar bola matanya.


"Sebaiknya kita menjenguknya besok, kita harus berterima kasih pada gadis itu."


***


Disisi lain.


"Dasar tidak berguna." Teriak seorang wanita menggema di ruangannya.


"Kali ini kau beruntung wanita sialan, tapi tidak untuk nanti. tunggu saja pembalasanku selanjutnya." Ucapnya penuh emosi.


"Kau urus wanita itu, jangan sampai dia membuka mulutnya."


"Baik bos."


Jika aku tidak bisa mendapatkan Aksan, maka kau pun tidak boleh, Anindira.


Semua ini adalah rencana dari Tamara. ia sangat tidak terima jika Aksan dan Anindira hidup bahagia bersama. ia tidak rela.


Tamara sedang memikirkan sesuatu untuk membalas Anindira. dia merencanakan pembalasan yang lebih dahsyat untuk menghancurkan Anindira.


Bersiap-siaplah Anindira, dan Aksan lindungi istrimu karena Tamara sudah mulai beraksi. hihihi