Bakery love story

Bakery love story
Dilema



3 hari sudah terlewati setelah kepergian Aksan keluar kota, tandanya hari ini pria itu akan pulang.


Anindira sangat senang pasalnya ia sudah merindukan suaminya itu. perasaan rindu di hatinya membuat hari-harinya menjadi tak bersemangat. ia merasa kesepian apalagi saat hendak tidur.


"Iya sayang, baiklah jaga dirimu ya". Ucap Nyonya Hanna pada seseorang ditelpon, lalu menutup telponnya.


"Siapa ma?". Tanya Tuan David.


"Aksan, dia bilang belum bisa pulang hari ini, Karena masih ada urusan yang belum selesai disana". Jelas Nyonya Hanna, Anindira yang hendak turun dari anak tangga terakhir mendadak kecewa, kecewa karena Aksan tidak jadi pulang, dan lebih kecewa lagi karena Aksan tidak pernah mengabarinya sama sekali. jangankan menelpon, bahkan mengirim pesan saja dia tidak pernah.


Terkadang ia berpikir seperti tak dianggap, ia seperti orang yang mengemis perhatian dari suaminya sendiri. hal itu membuatnya sakit. ditambah sikap Aksan yang dingin membuatnya semakin putus asa. apakah ia bisa kuat sampai akhir? apakah usahanya selama ini hanya sia-sia saja?


"Sayang kamu kenapa?". Tanya Hanna pada menantunya yang hanya berdiri saja sambil memegang ujung kursi.


Anindira tersadar dari lamunannya, ia kemudian tersenyum lalu menarik kursinya untuk duduk.


"Kamu pasti merindukan Aksan ya? kamu sedih karena dia tidak jadi pulang hari ini kan". Goda ibu mertuanya


"Bukan begitu mah". Anindira hanya bisa menampilkan senyum palsu diwajahnya, memang benar ia sedih. setelah dipikir-pikir banyak hal yang selama ini membuatnya sedih.


"Kenapa mah? Kakak tidak jadi pulang?". Tanya Bella yang baru turun dari kamar dan mendengar obrolan mereka.


"Iya, masih ada urusan katanya"


Bella kemudian melihat kearah Anindira dan tersenyum.


"Sabar ya kakak ipar, kakak harus menahan rindu sedikit lebih lama lagi".


Lagi-lagi Anindira hanya bisa menunjukkan seyum diwajahnya.


"Sudah-sudah jangan menggodanya lagi, ayo cepat makan" Ucap nyonya Hanna, saat melihat kesedihan di wajah menantunya..


Setelah selesai makan malam Anindira langsung kembali ke kamar karena dia sedang tidak mood sekarang. Dia lebih memilih berbaring di tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya karena udaranya saat ini memang cukup dingin. banyak hal yang dipikirkannya.


Dia tidak jadi pulang sekarang


padahal aku rindu. Dia bahkan tidak pernah menelponku, apa dia tidak merindukanku? apa dia tidak memiliki perasaan padaku walaupun hanya sedikit? apa dia begitu tak tertarik padaku? tapi kenapa?


Berbagai pertanyaan muncul dipikirannya. sambil menatap sisi ranjang disebelahnya.


"Apa lagi yang harus aku lakukan"


Dia dilema, saat ini perasaannya benar-benar kacau, dia benar-benar merasa sedih dan bingung dengan semua ini.


Anindira mencoba menahan air matanya, sekuat apapun dirinya, ingin rasanya oa menangis juga.


"Jangan lemah Anindira, ini baru awal. terlalu cepat untukku menangis sekarang, aku harus lebih berusaha lagi."


Anindira mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Disisi lain Aksan baru pulang dari kantor cabangnya yang ada diluar kota. Kini dia sudah berada di hotel tempat ia menginap. Seperti biasa ia langsung mandi untuk menyegarkan tubuh serta pikirannya. Masalah pekerjaan yang sedang ditanganinya tidaklah terlalu rumit, hanya saja memerlukan waktu yang lumayan lama. mungkin butuh waktu beberapa hari lagi untuk membereskannya.


Aku merindukannya.


Keesokan harinya Aksan kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. kehadiran Anindira sudah membawa banyak dampak di hidupnya. ia yang sudah biasa dilayani setiap keperluannya oleh Anin kini harus menyiapkan semuanya sendiri.


Semakin hari semakin terasa kalau ia sedang merindu.


Meskipun berada jauh tapi Aksan selalu mengetahui keadaan gadis itu melalui foto-foto yang dikirim oleh orang suruhan yang diutus untuk mengawasi Anindira dari kejauhan.


***


Malik yang sedang mengemudikan mobilnya melirik Aksan yang sedang fokus menatap ponselnya.


"Tuan sudah jatuh cinta dengan Nona"


Aksan tersadar saat mendengar ucapan Malik, ia langsung mematikan ponselnya yang menampilkan foto istrinya itu.


"Apa maksudmu?"


"Saya rasa anda sudah jatuh cinta dengan Nona Anindira" Pasalnya Malik sering kali memergoki Aksan yang selalu melihat foto-foto Anindira.


"Apakah ini bisa disebut jatuh cinta?"


"Saya kurang tahu tuan, karena saya belum pernah jatuh cinta"


"Ternyata ada hal yang kau tidak tahu juga ya" Sindir Aksan


Apakah benar ini cinta? Aksan menghela nafas kasar. ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. ia dilema


"Anda harus bertindak lebih cepat jika tidak ingin semuanya terlambat tuan. biar bagaimanapun nona pasti juga butuh perhatian dari anda"


"Cihh. tahu apa kau tentang perhatian"


"Sebelum dia mendapatkan perhatian dari orang lain diluar sana"


Aksan terdiam sesaat, ada benarnya juga yang dikatakan Malik. dia mengakui jika selama ini dia bahkan mengabaikan Anindira dan tidak perhatian padanya. hal itu membuatnya perasaan sedikit tak nyaman dan gelisah.


Sedang apa gadis itu? dengan siapa saja dia bergaul? apakah banyak pria disekitarnya selama ini?


Aksan mulai memikirkan hal-hal yang membuat otaknya panas.


Dia mulai menelpon seseorang


"Selalu awasi dengan siapa saja dia bertemu!"


"Baik tuan"


Setelah itu dia menutup teleponnya.


Malik merasa bosnya itu benar-benar sudah jatuh cinta, hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.