
Setelah memperhatikan Anindira dari jauh, pria berjas hitam itu masuk kedalam mobilnya.
"Jalan" Ucapnya pada sang asisten. Sang asisten langsung melajukan mobilnya.
"Dia tidak berubah. dia masih suka menolong orang lain." Ucap Pria berjas hitam itu sambil tersenyum mengingat Anindira, pria itu tak lain dan tak bukan adalah Kenan. tapi senyumannya hilang seketika mengingat tadi perut Anindira yang sudah besar, jelas kalau dia sedang hamil. ada perasaan sakit dihatinya mengetahui hal itu.
Kenan memerintahkan asistennya melajukan mobil ketempat biasa.
selama ini Kenan selalu pergi ke club saat dirinya merasa tertekan. kebiasaan ini ia lakukan setelah Anindira meninggalkannya dengan menikahi pria lain.
Kini Kenan sudah kembali dari luar negri, sekarang dia sedang menjalankan perusahaan keluarganya ditanah air. itupun atas perintah dari papanya.
"Tuan anda sudah banyak minum. ayo kita pulang." Ucap sang asisten. Kenan kini sudah mabuk karena minum terlalu banyak. dia masih belum bisa melupakan Anindira.
****
Di kamar Anindira dan Aksan.
Aksan sedang sibuk dengan laptopnya dia atas tempat tidur. sementara Anindira sedang bertelepon dengan Chika di meja riasnya.
"Tenang saja kak, ibu ini sangat baik. dia bahkan memasakkan makan malam untuk kami. sepertinya yang dia katakan memang benar, dia itu tidak gila. tega sekali keluarganya yang menganggapnya gila dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa sampai bertahun-tahun." Ucap Chika dari balik telpon.
"Aku juga merasa begitu. yasudah kalau butuh sesuatu kabari kakak ya."
"Iya kak"
Setelah selesai bertelponan, Anindira mengusap-usap perutnya yang terasa kedutan, sepertinya anaknya sedang menendang.
"Nak, kamu aktif sekali sih di dalam. ibu jadi tidak sabar segera melihatmu." Ucapnya masih mengelus perutnya. Anindira sering sekali merasakan pergerakan anaknya di dalam perutnya.
Tiba-tiba Aksan memeluknya dari belakang lalu mencium kepala istrinya.
"Suamiku, coba rasakan." Anindira mengarahkan tangan Aksan ke perutnya.
"Dia menendang" Ucap Aksan senang. dia terus meraba perut Anindira merasakan pergerakan anaknya.
"Aku sudah tidak sabar, aku ingin melihatnya." Ucap Aksan antusias. ia sudah tidak sabar untuk segera melihat anaknya lahir ke dunia ini.
"Aku juga. putriku pasti cantik seperti ku" Ucap Anindira sambil tertawa.
"Benarkah? aku rasa dia putra yang tampan sepertiku." Aksan tak mau kalah.
"Tidak, dia putri yang cantik seperti ku."
"Dia putra yang tampan sepertiku."
Ucap Aksan lagi sambil menggelitiki Anindira, Anindira yang digelitiki merasa kegelian dan tertawa sambil terus menghindar, namun Aksan tetap mengejarnya berkeliling kamar sampai membuatnya lelah.
"Aku lelah" Ucap Anindira dengan nafas yang tersengal-sengal, lalu berjalan menuju tempat tidur disusul Aksan.
Anindira sudah mengantuk, ia menarik selimut untuk segera tidur.
Aksan ikut masuk kedalam selimut dan memeluknya dari samping.
"Sayang?"
"Suamiku aku lelah dan mengantuk." Ucap Anindira lalu membelakangi Aksan. ia tahu Aksan akan mengatakan apa.
Aksan menghela nafasnya, belum saja dia bicara tapi Anindira sudah mengatakan kalau dirinya lelah.
"Baiklah kali ini aku melepasmu." Ucap Aksan lalu mematikan lampu tidur dan ikut tidur sambil memeluk istrinya. Anindira tersenyum mendengarnya.
***
Keesokan harinya di toko roti.
"Halo semuanya." Ucap Kanaya yang baru datang. mereka semua terkejut melihat kedatangan Kanaya. tumben sekali dia datang siang-siang begini.
"Hay kak"
"Naya" Ucap Anindira senang melihat sahabatnya datang.
"Anin"
Mereka berdua berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.
"Wah.. lihatlah perutmu itu, sudah bertambah besar ya, aku sampai sulit memelukmu." Ucap Kanaya sambil tertawa membuat Anindira cemberut lalu memukulnya.
"Hahaha, kenapa cemberut? justru bagus sebentar lagi akan ada bayi disini."
Kanaya menggandeng Anindira untuk duduk.
"Mbak, saya pesan semua rotinya ya."
"Iya bu, sebentar ya" Sahut Chika. mereka semua pun tertawa.
"Kamu gak kerja Nay?"
"Aku lagi izin cuti, soalnya kakak ipar udah lahiran, jadi ini lagi repot-repotnya gitu."
"Katanya repot, tapi kok bisa kemari kak?" Tanya Chika sambil membawakan roti.
"Sstt.. anak kecil ga boleh ikut campur."
Ucap Kanaya lalu memakan rotinya.
"Kalian tahu gak, kakak ipar aku tuh nyebelin banget orangnya." Ucap Kanaya setelah memajukan kursinya, Mode rumpi diaktifkan. mereka semua juga ikut merapatkan kursi ingin mendengarkan Kanaya yang akan bercerita.
"Nyebelin gimana Nay?"
"Masak tuh ya, dia yang lahiran tapi aku yang repot. semua kerjaan rumah mereka aku yang ngerjain. bayangkan kalau aku ga ada, udah kacau balau tuh rumah mereka."
"Yaelah kak telen dulu kali" Ucap Alira yang melihat Kanaya bercerita dengan pipinya gembung karena roti yang disimpannya dimulut.
"Hahaha"
Kanaya lanjut bercerita setelah menelan rotinya.
"Kerjanya cuman tiduur saja, bahkan bayinya nangis dia gak kedengeran. aku juga yang ngurusin, untung aku sayang"
"Sama kakak ipar kamu?" Tanya Anindira.
"Dih, sama ponakan aku lah"
Mereka terus bercerita lebih tepatnya bergosip. membuat Madan yang baru masuk kedalam menggelengkan kepalanya saat melihat mereka sedang bergosip sampai membentuk sebuah lingkaran.
"Sayang"
Suara berat seseorang yang sepertinya sangat mereka kenal membuat mereka menoleh, dan benar saja itu adalah suara Aksan. sontak mereka semua langsung berdiri dan bubar. entah kenapa mereka merasa panik padahal tidak melakukan apa-apa.
Chika kembali ke tempatnya melayani tamu. Anindira berdiri disamping kursi, sedangkan Alira berdiri dibelakangnya, dan Kanaya dia yang paling tegang disitu.
"Suamiku kau datang?" Tanya Anindira pada Aksan, entah kenapa dia juga merasa tegang. mungkin karena terkejut melihat Aksan datang tiba-tiba.
"Kau tidak tahu?" Ucap Aksan Sambil berjalan kearah istrinya, dan mengajaknya untuk duduk.
"Aku tidak tahu" Jawab Anindira menggeleng.
Aksan kemudian melirik Malik seolah bertanya apa dia tidak memberitahu Alira tadi. Malik pun mengerti dengan tatapan Aksan.
"Kau tidak melihat pesanku?" Tanya Malik pada Alira. Alira langsung membuka ponselnya dan terkejut melihat pesan masuk dari Malik yang memberitahu kalau mereka akan datang.
Mati aku, aku tidak memeriksa pesannya.
"Kau disini?" Tanya Malik saat melihat Kanaya ada disitu. Malik mengenali Kanaya sebagai salah satu karyawan di perusahaan.
Dia melihatku. batin Kanaya. padahal dia sudah menunduk dan berusaha menghindar agar tidak terlihat.
"Saya, saya izin cuti Tuan, karena kakak saya melahirkan, dan tidak ada yang membantu mereka." Jawab Kanaya takut-takut.
"Apa kau bidannya?" Ucap Malik membuat mereka yang mendengarnya tertawa meskipun pelan. Kanaya diam saja tak bisa menjawab.
"Urusan kita belum selesai." Ucap Malik melihat Alira. Alira langsung merapatkan bibirnya.
Sekarang gantian Kanaya yang menertawai Alira.
"Lalu kenapa kau disini?"
"Saya mampir sebentar untuk membeli roti Tuan."
"Apakah menggosip bagian dari membeli roti?"
Hening.
"Sudahlah Malik, kau tidak perlu membesar-besarkan hal ini." Ucap seorang pria yang baru datang. pria itu adalah Kevin. "Lagian dia juga sudah izin, iyakan?" Ucapnya lagi sambil mengedipkan matanya kepada Kanaya.
Kenapa dia juga ada disini? seharusnya aku tidak mengunjungi Anindira hari ini. mereka semua ada disini.
"Lain kali jangan izin kalau tidak penting." Ucap Malik memperingatkan Kanaya.
"Baik Tuan"
Sebaiknya aku pulang saja. daripada aku dimarahi lagi.
"Chika, mana roti pesananku?"
"Bukannya sudah kakak makan tadi saat bercerita, apa kakak lupa?" Jawab Chika dengan polosnya.
Kanaya membulatkan matanya,
"Kenapa kakak melotot begitu?"
Kanaya memejamkan matanya melihat kepolosan Chika yang tak bisa diajak bekerja sama.
Aku ingin menjitak kepalanya.
"Bisa tidak kau membantuku sedikit?" Bisiknya pada Chika. akhirnya Chika pun mengerti, dia segera membungkuskan roti untuk Kanaya.
"Bagaimana keadaanmu Chika?" Tanya Kevin.
"Baik Tuan." Jawab Chika sembari menyiapkan roti pesanan Kanaya.
"Tuan?"
"Eh maksudnya Baik kak" Ucap Chika tersenyum manis, Kevin mengusap kepalanya membuat Kanaya memutar bola matanya.
Chika memberikan pesanannya.
"Saya permisi Tuan" Ucap Kanaya sambil memberi hormat.
"Kau sudah mau pulang? kenapa terburu-buru? aku antar ya?" Ucap Kevin.
"Tidak perlu tuan, saya bawa kendaraan."
Justru aku terburu-buru untuk menghindari kalian.
"Anin aku pulang ya". Ucap Kanaya pamit kepada sahabatnya.
Kanaya langsung buru-buru keluar meninggalkan mereka semua.
Yah cepat sekali Kanaya pergi. Anindira sedih, padahal mereka baru bertemu setelah berminggu-minggu.
"Kau mengikutiku?" Tanya Aksan kepada Kevin. pasalnya Kevin baru saja dari kantornya tadi untuk melihat Kanaya tapi tidak ada. dan ternyata mereka malah bertemu disini.
"Tentu saja, aku tau kau akan menemui kakak ipar disini. aku juga ingin tahu toko roti kakak ipar yang sangat terkenal ini seperti apa. ternyata lumayan besar ya. tempatnya asik." Ucap Kevin sambil melihat-lihat toko roti ini.
"Suamiku, kenapa Sekretaris Malik galak sekali? dia membuat Kanaya dan Alira takut." Bisik Anindira kepada suaminya.
"Dia hanya tegas. itu bagus agar mereka disiplin dan bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka."
Apa bedanya galak dan tegas?
Anindira menyuruh Chika kebelakang untuk membuatkan mereka minuman. dia juga kembali ke ruangannya untuk mengambil tasnya, dan Alira mengikutinya.
"Tuan Malik galak sekali ya, aku jadi takut dengannya." Ucap Chika sembari membawa minumannya.
"Tapi aku tetap suka padanya. dia sangat cool" Ucap Alira
"Sudah dimarahi masih bilang cool"
"Dia tidak memarahi ku dia cuman menasehatiku."
"Kakak suka dia?" Alira mengangguk. "Tapi dia tidak suka kakak. hahaha"
"Diamlah"
Anindira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua.