Bakery love story

Bakery love story
Persetujuan



Sebulan kemudian.


Ting. . . Suara pintu dibuka.


"Hallo nyonya selamat datang kembali".


Ucap Chika sambil membungkukkan badannya.


Hanna tersenyum lalu bertanya.


"Dimana Anin?".


Setelah memutuskan untuk mencarikan calon istri untuk anaknya, Hanna selalu mengunjungi Anin di toko rotinya. Ia memang berniat menjodohkan Anin dengan putranya. Sebulan mengenal Anin Hanna sudah tau bahwa Anin gadis yang tepat dan cocok untuk Aksan.


"Kak Anin sedang membuat roti, akan saya panggilkan. Silahkan duduk nyonya".


Chika pun berjalan menuju dapur untuk memanggil bos nya itu.


"Tante Hanna, ada apa?". Tanya Anin sambil berjalan ke arah nyonya Hanna.


"Anin, Tante ingin mengajakmu ke mall, apa kau bisa ikut dengan Tante?". Kedatangan Hanna setiap hari ke toko Anin membuat hubungan mereka dekat. Hanna selalu datang untuk membeli roti dan mengobrol dengannya.


Anin menyetujui ajakan wanita itu karena ia juga tidak terlalu sibuk hari ini. merekapun pergi ke mall menaiki mobil Nyonya Hanna.


Sesampainya mereka di mall.


Hampir satu jam mereka berkeliling tapi tidak ada satupun barang yang di beli.


"Kenapa barang disini tidak menarik semua sih". Ucap nyonya Hanna. "Bagaimana kalau kita pergi makan saja?". ajak nyonya Hanna karena memang dia mau mengatakan sesuatu pada Anin.


"Baiklah. Terserah tante saja". Ucap Anin yang memang sudah lapar dan lelah berkeliling.


Mereka pun menuju tempat makan yang ada di lantai atas sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Anin ada yang ingin Tante bicarakan dengan mu."


"Ada apa tante?" Anin menatap sambil mendengarkan apa yang akan dibicarakan Hanna.


"Begini, tante ingin meminta sesuatu dari mu." ucapanya serius.


"Apa yang Tante inginkan dariku?". Sambil mengerutkan dahinya ia memikirkan apa yang di inginkan tante Hanna darinya.


Apa yang diinginkan Tante Hanna dariku? Tante Hanna bahkan bisa membeli semua yang diinginkannya.


"Tante ingin meminta persetujuan darimu."


"Persetujuan?". Anin tidak mengerti.


"Jadi begini Anin, tante sudah pernah bilang padamu kan bahwa tante memiliki seorang putra. Tante ingin menikahkan putra tante denganmu." Jelas Hanna.


"Tante ingin kau menyetujuinya. Kau bersedia kan Anin menikah dengan putra tante."


"Emm. . . Anin belum memikirkan tentang pernikahan tante, maaf Anin tidak bisa."


"Tapi Anin, ini keinginan terakhir tante. Tante ingin mempunyai seorang cucu." Ucap Hanna menundukkan kepalanya.


"Sebelum tante tiada". Ucapnya lagi.


"Apa maksud tante sebelum tante tiada?". Tanya Anin tidak mengerti.


"Kepala tante sering sakit, rasanya itu sakit sekali". Anin yang serius mendengarkan.


Anin yang mendengar pun terkejut, dia merasa bersedih dan kasihan. Dia sudah merasa nyaman bersama tante Hanna, sifatnya yang perhatian dan penyayang membuat nya teringat dengan ibunya. Hanya saja tante Hanna sedikit lebih cerewet.


"Tante, apa tante serius?" Tanya Anin.


Hanna hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya dia berbohong soal umurnya yang tidak lama lagi. Tapi sakit kepala yang dialaminya memang benar adanya. Kepalanya memang sering sakit namun sebentar saja hilang.


"Tapi Anin bahkan belum pernah bertemu dengan anak tante. Anin juga tidak yakin dia mau menerima Anin."


"Kalau soal itu tante akan mengurusnya. Tante akan mengatur pertemuan kalian. Tante yakin dia akan menerima keputusan tante".


"Jadi tante hanya menunggu persetujuan darimu, kau bersediakan?". Ucapnya sambil memegang tangan Anin.


"Tapi. . ." ucap Anin ragu.


Anin merasa bingung dan bimbang. di dalam hidupnya dia hanya ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang dicintai dan mencintainya.


"Tante mohon". Sambil memegang kepalanya seperti sedang menahan sakit.


Menarik nafasnya panjang. "Baiklah". Ucap Anindira terpaksa.


Dengan polosnya dia mempercayai ucapan Nyonya Hanna tentang umurnya yang tak lama lagi dah akhirnya Anindira memutuskan untuk menyetujuinya dengan terpaksa. Dia merasa iba dan kasihan dengan penyakit yang diderita nyonya Hanna yang membuat umurnya tidak lama lagi.


"Terimakasih Anin". Ucap nyonya Hanna sambil tersenyum, ia sangat senang karena Anin mau menerima permintaannya.


maafkan Tante Anin, tante terpaksa berbohong. apapun akan aku lakukan demi mendapatkan menantu sepertimu.


- - -


Di lantai tertinggi di perusahaan Alister Company.


"Aksan aku mohon terima aku kembali. Aku tau aku salah, aku khilaf. Tolong maafkan aku. Aku masih mencintaimu Aksan. Mari kita mulai semuanya dari awal lagi". Seorang wanita tengah berlutut memohon sambil memegang kaki Aksan.


Wanita itu adalah Tamara, mantan kekasih Aksan. Orang yang dulu sangat dicintainya, tapi itu berlaku untuk dulu. Karena sekarang Aksan sudah membenci wanita yang sedang berlutut itu.


Hubungan mereka berakhir saat Aksan sengaja memerintahkan sekertaris Malik mengirim utusan untuk memata matainya dan pada saat itu terbongkar lah sifat asli Tamara. Ternyata diluar sana ia sering bergonta-ganti pasangan dan berkencan dengan pria-pria kaya.


"Apa kau sudah selesai?. Sekarang kau bisa pergi". ucap Aksan muak melihat wanita yang sedang berlutut itu.


"Aksan jangan seperti ini. Kau masih mencintaiku bukan? Aku tau itu". ucap Tamara sambil memegang kaki Aksan.


"singkirkan tangan kotormu itu". ucap Aksan yang merasa jijik dengan wanita yang dulu pernah mengisi hatinya itu.


percaya diri sekali wanita itu. batin Sekretaris Malik yang sedari tadi berdiri disitu.


"Kau mau pergi sendiri atau Malik yang akan menyeretmu dari sini?".


"Tapi Aksan. . ."


"Malik".


"Baik Tuan Muda". Malik berjalan kearah Tamara hendak menyeret wanita itu pergi. Namun Tamara langsung berdiri dan beranjak keluar, sesekali menoleh kearah Aksan yang sedang menatap jendela.


Sial, lagi lagi seperti ini. Apa dia benar benar sudah tidak mencintaiku? Apa dia sudah melupakan ku?.


Bersambung. . .