Bakery love story

Bakery love story
Belajar Mencintainya



Selagi menunggu roti matang, Anin dan Chika mengobrol ringan. Chika adalah salah satu karyawan lama yang bekerja disini sewaktu Anindira mengembangkan usahanya, karena itu dia karyawan yang paling dekat dengan Anin. akan tetapi karena dia ditempatkan bagian pelayanan didepan, jadi dia kurang tau tentang dapur.


Kepribadian Chika yang ramah dan periang mampu membuat Anindira cukup terhibur dari kesedihannya dulu.


Tak terasa mereka mengobrol sampai lupa waktu, sampai aroma harum roti tercium di hidung mereka. ini merupakan salah satu tanda bahwa roti dalam panggangan sudah matang.


Chika mengeluarkan roti dari dalam oven, mencium aroma roti yang baru saja dikeluarkannya dari panggangan.


"Dari aromanya saja sudah enak, rasanya pasti juga sangat enak".


"Mari kita coba". Ucap Anin dan Chika menganggukan kepala tak sabar ingin memakannya.


Chika mulai memakan roti buatannya.


Anindira tersenyum melihat Chika yang makan dengan lebaynya. Dia begitu menghayati setiap gigitan dan kunyahan roti yang dibuatnya.


"Yamm. . Ya ampun roti ini sangat enak, ini adalah roti pertama yang aku buat". Ucapnya dengan begitu senang.


Sementara di depan Hanna baru saja sampai di toko roti milik menantunya itu. Dia turun dari mobil dan langsung masuk kedalam mencari Anin.


"Selamat siang nyonya". Sapa karyawan yang menggantikan Chika bertugas di depan.


"Siang. Dimana Anindira menantuku?". tanya Hanna sambil tersenyum, meskipun cerewet tapi ia merupakan orang yang ramah dan murah senyum.


"Kakak sedang membuat roti nyonya." balas karyawan ramah.


"Baiklah aku akan menemuinya".


"Silahkan nyonya".


Hanna yang sudah sering berkunjung tentu saja sudah tahu setiap letak ruangan yang ada di toko roti milik menantunya itu.


"Anindira sayang". Panggil Hanna yang baru sampai ke dapur.


Anindira langsung menoleh ke arah pintu dan melihat ibu mertuanya sedang berdiri disana.


"Mamah, ada apa mah?". Ucap Anindira sedikit terkejut.


"Sayang apa kau sibuk?"


"Tidak mah, kenapa?"


Anindira berjalan menghampiri mertuanya.


"Mama mau mengajakmu keluar jalan jalan sekalian kita akan makan siang."


Tau gitu kenapa tadi mama mengijinkan aku pergi ke toko kalau sekarang mama malah mengajakku keluar. batin Anin.


"Baiklah mah". Anindira merasa tidak enak jika menolak, jadi dia menuruti ajakan mertuanya itu.


"Chika handle toko ya". Jika Anindira pergi ataupun tidak datang ia selalu mempercayakan toko kepada Chika.


"Siap bos". Ucap Chika sambil mengangkat tangannya seraya berhormat.


Setelah keluar dari toko roti Nyonya Hanna dan Anindira langsung masuk ke mobil. Setelah masuk Nyonya Hanna memberi tahu tempat yang akan mereka tuju pada supir pribadinya, supir itu jugalah yang tadi mengantar Anin ketoko.


"Kita ke mall saja ya. Ada mall yang baru buka, mama mau melihat-lihat bersama menantu mama". Ucapnya tersenyum sambil membelai kepala Anin.


"Iya, terserah mama Anin ikut saja". Anindira sangat bersyukur mendapatkan mertua sebaik Hanna meskipun cerewet taoi itu juga untuk kebaikan semua orang, meskipun agak berlebihan.


Dia kini merasakan kasih sayang seorang ibu kembali dari ibu mertuanya.


Mobil pun langsung menuju ke mall. diperjalanan mereka mengobrol santai.


"Iya ma, beruntung aku mendapatkan karyawan seperti mereka, mereka sudah seperti keluarga keduaku. Itu sebabnya aku selalu senang berada di toko. Aku tidak kesepian saat bersama mereka."


Hanna mengerti perasaan Anin. ditinggalkan oleh kedua orangtuanya pasti sangat berat baginya. terlebih lagi dia tidak memiliki sanak saudara.


Dia memegang kepala Anin dan meletakkan di bahunya. "Sekarang kau memiliki kami. Kau sudah menjadi menantu mama. Kau tidak akan merasa kesepian lagi." Ucap Hanna membelai rambut menantunya itu.


Anin yang mendengar ucapan ibu mertuanya itu pun merasa bahagia, namun perasaan bahagia itu hilang seketika mengingat pernikahan tanpa cinta yang dijalaninya. mengingat hal itu ia jadi bimbang.


"Tapi ma, apa pernikahan ini akan bertahan?. Kami tidak saling mencintai. kami bahkan menikah hanya karena memenuhi permintaan dari mama". Tanya Anin kembali menegakkan tubuhnya.


Menyadari hal itu Hanna merasa apa yang dikatakan Anin ada benarnya, sebuah pernikahan tidak akan berjalan tanpa adanya cinta. dia tidak memikirkan ini sebelumnya.


"Apa Aksan memperlakukan mu dengan buruk?" Hanna menggenggam tangan menantunya itu, ia takut jika hal itu terjadi.


"Tidak mah, kami baik-baik saja. dia tidak kasar ataupun memperlakukan ku dengar buruk. hanya saja kami tidak seperti pasangan pada umumnya." Jelas Anindira dengan hati-hati.


Hanna pun mengerti dengan apa yang dikatakan Anindira, tidak mungkin anak dan menantunya itu bisa langsung harmonis seperti pasangan pengantin baru lainnya. mereka berdua adalah orang asing yang tiba-tiba bersatu dalam ikatan, semua butuh waktu dan proses untuk membiasakan diri.


"Kalau begitu, cobalah untuk mempertahankan pernikahan kalian, Belajarlah untuk mencintai suamimu dan buat suamimu mencintaimu." ucap Hanna memberikan solusi.


Mama tau kalian terpaksa menikah karena mama, Mama akan berusaha membuat kalian berdua saling mencintai agar pernikahan kalian tetap berjalan.


Belajar Mencintai suamiku?.


Anindira berpikir apa yang dikatakan mertuanya itu ada benarnya juga. Jika dia ingin pernikahannya bertahan, dia harus bisa belajar mencintai suaminya dan membuat suaminya mencintainya. karena didalam pernikahan sudah pasti ada cinta didalamnya.


Karena dia ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Jadi dia harus berusaha mempertahankan pernikahan yang telah diterimanya ini sebelumnya.


Baiklah aku akan belajar mencintainya. Tapi aku harus membuat dia dulu yang jatuh cinta padaku.


"Mama benar. Aku hanya ingin menikah sekali dalam hidupku jadi Aku akan belajar mencintainya. Supaya pernikahan ini tetap bertahan."


"Bagus". Hanna lega dan senang akhirnya menantunya juga mau berusaha untuk mempertahankan pernikahan mereka.


Setelah sampai. Mereka langsung masuk ke dalam Mall yang baru dibuka ini. mall nya memang besar, barang barangnya juga lengkap. Bisa dibilang mall ini adalah salah satu mall terbesar yang ada dikota ini.


Karena sudah lapar mereka langsung menuju food court yang tersedia di mall ini untuk makan siang. Setelah selesai makan mereka lanjut berkeliling dan berbelanja, hingga sore hari baru mereka memutuskan untuk pulang.


"Aduh mama lelah sekali, begini nih kalau sudah tua." Ucap Hanna saat sudah berada diluar mall menuju area parkir.


"Mama lelah ya, mama tunggu disini saja ya, biar Anin yang memanggil pak supir di parkiran." ucap Anin khawatir melihat mertuanya yang kelelahan.


"Baiklah". Hanna pun menuruti menantunya itu karena memang dia sudah sangat lelah berjalan. dia tidak mengira kemampuan fisiknya hanya sampai sebatas ini saja.


"Ah aku benar-benar suda tua" Gerutunya pada dirinya yang sudah mulai cepat kelelahan.


Anindira berjalan ke parkiran untuk memanggil pak supir sekalian membawa barang belanjaan mereka tadi.


Setelah mobil datang Nyonya Hanna langsung berjalan kearah mobil tapi tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya. "Aduhh" Nyonya Hanna kesakitan bsambil memegang kepalanya.


Anin yang hendak turun dari mobil dan melihat ibu mertuanya merasa kesakitan, langsung berlari dan membantu mertuanya itu masuk ke dalam mobil. "Apa kepala mama sakit lagi? Sebaiknya kita ke dokter ya ma?". Tanya Anin saat sudah masuk ke mobil.


"Tidak usah, mama baik-baik saja. Hanya pusing sedikit."


"Apa mama yakin?". Anindira khawatir pasalnya ia teringat perkataan Hanna bahwa ia mempunyai penyakit serius di kepalanya, ia takut penyakit ibu mertuanya itu semakin parah.


"Iya, ini hanya reaksi jika mama kelelahan saja, sudah ayo kita pulang mama ingin istirahat saja rasanya". Hanna mencoba menenangkan Anin.


Akhirnya mobil pun langsung melaju menuju mansion.