Bakery love story

Bakery love story
Percayalah Padaku



Beberapa Minggu kemudian.


Anindira tengah berada di tokonya.


Sekarang penampilannya sudah mulai berubah. Ia lebih sering memakai dres. rambutnya juga selalu di gerainya, hanya pada saat membuat roti saja dia mengikatnya. Tentu saja itu semua dilakukan karena orang-orang terdekatnya yang berhasil membujuknya. Lagian ia juga tidak ingin membuat suaminya malu dengan penampilan biasanya.


Malam ini ia akan pergi makan malam dengan Kanaya, karena Aksan sudah mengijinkannya. Aksan mengijinkannya karena dia sendiri juga akan pulang terlambat karena ia akan bertemu dengan beberapa orang.


Anindira juga sudah memberitahu ibu mertuanya kalau dia akan makan malam dengan Kanaya, jadi tidak perlu menunggunya.


- - -


Malam hari.


Anindira dan Kanaya sudah berada di restoran yang lumayan terkenal. Mereka sedang menunggu makanan yang sudah mereka pesan tadi.


"Kenapa kita kesini sih? Lihat saja harga makanannya tadi semuanya sangat mahal. Akukan sedang berhemat." Ucap Kanaya, tadi dia sempat tercengang saat melihat harga makanan yang ada di buku menu.


"Berhemat?"


"Iya, aku berencana membeli motor, hehe."


"Motor? Untuk apa beli motor? Kau kan sudah punya mobil."


"Naik motor itu lebih cepat, kita bisa nyelip jadi lebih hemat waktu."


"Kalau begitu kenapa kemarin kau belinya mobil bukannya motor?"


"Namanya juga pengen, Makanya itu aku lagi berhemat sekarang." Ucap Kanaya dengan semangat. Anindira menggelengkan kepalanya. Ia tidak yakin Kanaya bisa berhemat. Karena dia selalu membeli barang-barang yang tidak penting. Lihat baju cantik langsung beli, tidak peduli harganya mahal atau tidak. dia gampang tergoda.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Mereka langsung memakan makanan mereka dengan lahap karena rasanya sangat enak.


"Enak sekali ternyata, pantas saja harganya mahal, tapi sepadan dengan rasanya. Aku akan sering sering kemari nanti."


"Hah, katanya mau berhemat" Ucap Anindira sambil memutar bola matanya.


"Oiya lupa hahaha" mereka pun tertawa bersama.


Saat sedang menikmati makanan, fokus mereka sedikit teralihkan dengan pengunjung dari meja sebelah. Mereka terlihat sangat romantis. membuat siapapun yang melihatnya iri.


"Sayang bagaimana jika istrimu tahu?"


"Biarkan saja dia, dia itu wanita membosankan."


Anindira dan Kanaya saling pandang mendengar perkataan mereka.


"Cihh rupanya selingkuhan." Ucap Kanaya saat pasangan mesra itu sudah pergi.


"Hati-hati dengan wanita jaman sekarang, mereka bisa merebut pacar atau suami orang dengan cara yang licik, apalagi kalau laki-lakinya mata keranjang, pasti tergoda." Ucap Kanaya lagi.


"Anin, kau harus menjaga suamimu dengan baik. apa kau tau dikantor sangat banyak staff dan pegawai wanita yang cantik, apalagi para klien wanita yang bekerja sama dengan perusahaan, mereka semua cantik dan seksi." Kanaya berbisik ditelinga Anin saat mengatakan cantik dan seksi. Jelas ia hanya berbohong untuk menakut-nakuti Anin.


Anindira hanya mendengarkan perkataan Kanaya. Ia jadi teringat dengan suaminya yang katanya akan pulang terlambat karena ada janji bertemu dengan orang. Ia jadi memikirkan dengan siapa suaminya bertemu. Ia takut suaminya akan melakukan hal yang sama dengan pengunjung meja sebelah tadi.


"Anin, kenapa?"


Kanaya menyenggol tangan Anin yang sedang melamun.


"Apa kau tahu dengan siapa suamiku bertemu? Emm maksudku, tadi dia bilang mau bertemu orang mungkin itu kliennya, apa kau tau?"


"Aku tidak tahu". Ucap Kanaya sambil mengangkat bahunya.


"Oho Apa kau khawatir dengan siapa Tuan Aksan sekarang?" Goda Kanaya


Tidak mungkin Tuan Aksan berselingkuh dari mu. Dia itu sangat dingin dengan semua orang.


Disisi lain di restoran yang sama.


Aksan sedang berkumpul bersama beberapa orang pria. Yang terdiri dari Sekertaris Malik, Kevin, dan 2 orang teman seangkatannya semasa kuliah dulu, Willy dan Roy.


Kevin adalah sepupu dan juga rekan bisnisnya, mereka juga satu angkatan saat kuliah dulu.


Semasa kuliah dulu mereka selalu berempat karena mereka bisa dibilang memiliki frekuensi yang sama. Namun sekarang mereka jarang berkumpul seperti dulu dikarenakan kesibukan mengurus perusahaan keluarga mereka masing-masing.


Anindira dan Aksan keduanya sama-sama tidak tahu kalau sedang berada di tempat yang sama.


Anindira dan Kanaya yang sudah selesai dari tadi, hendak meninggalkan restoran.


Sedangkan di meja lain Aksan juga berdiri dari duduknya ia sudah bosan berada disana. Tiba-tiba seorang wanita yang sedang berjalan di dekatnya tersandung, "Aww. . " Teriak wanita itu langsung berpegangan di pundaknya seolah mereka seperti sedang berpelukan.


Anindira dan Kanaya yang sudah berjalan menuju pintu langsung menoleh saat mendengar suara wanita itu, mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Anindira diam mematung melihat Aksan dan wanita itu yang terlihat sangat dekat. Ia lebih terkejut lagi melihat siapa wanita itu, wanita yang pernah mendatangi tokonya, mengaku-ngaku sebagai kekasih Aksan dan memintanya untuk bercerai dari Aksan.


"Sorry" Ucap wanita itu.


Aksan dan teman-temannya terkejut saat mengetahui wanita itu adalah Tamara, mantan kekasih Aksan.


"Apa yang kau lakukan". Bentak Aksan pada Tamara, ia tahu Tamara hanya berpura-pura tersandung dan menjatuhkan dirinya.


Kemudian tak sengaja ia melihat dua orang wanita yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Anindira" Ucapnya terkejut. Dengan cepat Anindira langsung pergi meninggalkan tempat itu disusul Kanaya dari belakang. Dengan cepat pula Aksan langsung mengejar Anindira yang sudah keluar dari restoran.


Tadi Aksan tidak mengetahui kalau Anindira sudah berdiri melihatnya dari tadi di dekat pintu. Teman-temannya juga sama terkejutnya dengan Aksan. Mereka tahu wanita yang tadi berdiri menatap mereka adalah istri Aksan, karena mereka datang saat pernikahan Aksan dan Anindira waktu itu. kini mereka ikut keluar juga menyusul Aksan yang sedang mengejar istrinya itu.


Tamara tersenyum puas melihat kejadian ini. Sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan pikirnya. Ia tak tahu kalau Anindira juga ada disini tadi.


Anindira berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan restoran. Sang supir sudah menunggu disana.


"Anin". Panggil Kanaya yang berlari mengikuti dibelakangnya. Ia khawatir dengan Anindira.


"I'm okay" Anindira tersenyum melihat wajah sahabatnya yang begitu mencemaskannya.


"Serius?". Anindira mengangguk. "syukurlah".


"Sayang" Panggil Aksan.


Anindira dan Kanaya melihat ke belakang, Aksan berjalan cepat ke arahnya diikuti teman-temannya dari belakang.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Wanita kurang ajar itu hanya berpura-pura jatuh di depanku. Aku bahkan tidak memeganginya tadi saat dia hampir jatuh, Percayalah." Aksan menjelaskan terburu-buru sambil menangkup pipi Anindira dengan kedua tangannya. sungguh ia takut jika istrinya itu akan salah paham.


Mereka semua tercengang melihat tingkah Aksan. Sungguh pemandangan langka batin Kanaya dan teman-teman Aksan. Sedangkan Anindira hanya diam saja berusaha menahan tawanya.


Tidak bisakah kalian menyelesaikannya dirumah Tuan. Batin Sekretaris Malik menghela nafasnya.


Apa dia benar-benar Tuan Aksan? Batin Kanaya.


Sepertinya Aksan sangat mencintainya. dia benar benar sudah melupakan Tamara. Batin Kevin.


"Wahh. . . " Ucap Kanaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. baru kali ini dia melihat Bosnya itu bertingkah seperti ini. Ia langsung tersadar saat semua menatapnya. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sayang percayalah padaku" Ucap Aksan lagi dengan raut wajah memelas. Anindira tidak tahan lagi, akhirnya tawanya pecah juga. Baru kali ini ia melihat wajah Aksan yang memelas bercampur khawatir. Semua orang heran kenapa dia malah tertawa, seharusnya kan dia sedih.