Bakery love story

Bakery love story
Kanaya Berkunjung



Malam harinya di kediaman keluarga Alister.


Karena Anindira tidak tahu bagaimana cara untuk menyerahkan oleh-oleh milik Kanaya, iapun menyuruh Kanaya saja untuk datang dan mengambilnya sendiri.


Sebenarnya Kanaya segan dan malu datang kemari, tapi mau bagaimana lagi, Anindira dan rasa penasarannya yang ingin melihat seperti apa tempat tinggal keluarga Alister yang memaksanya.


lagi pula ia juga tidak tahu kapan bisa berjumpa dengan Anindira, karena saat siang hari dia tidak bisa menemui Anindira ditoko rotinya karena jarak dari kantor dan toko roti Anindira lumayan memakan waktu. sedangkan saat dia pulang kerja Anindira sudah pulang dari tokonya. semakin sulit untuk mereka bisa bertemu dihari biasa, kecuali hari libur.


Kanaya yang baru tiba langsung dipersilahkan masuk oleh pelayan karena dia sudah menjelaskan kalau Anindira yang mengundangnya.


Kanaya benar-benar terpukau melihat rumah yang begitu besar nan megah ini. terlihat sangat mewah, bahkan dari aromanya saja sudah mewah. baru kali ini ia datang dan masuk dirumah orang kaya yang benar-benar kaya, bukan kaya abal-abal.


Wahh ini rumah atau istana?.


"Silahkan duduk" Ucap pelayan mempersilahkan Kanaya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Terimakasih" Kanaya pun duduk di sofa yang sangat empuk dan nyaman itu.


"Siapa yang datang bi?" Ucap Nyonya Hanna yang baru turun dari tangga. Kanaya berdiri dan memperkenalkan dirinya kepada nyonya Hanna.


"Saya Kanaya temannya Anindira" Ucapnya tersenyum ramah.


"Kanaya, kau sudah datang." Anindira berjalan cepat menuruni tangga menghampiri mereka.


"Anin pelan-pelan jalannya, bagaimana kalau kamu jatuh?" Ucap Nyonya Hanna khawatir.


"Hehe iya mah. Mah ini teman Anin namanya Kanaya, Anin yang menyuruhnya datang kemari, karena kami tidak bisa bertemu diluar, tidak apa-apa kan?" Anindira belum bilang kalau dia mengundang Kanaya untuk datang. sebenarnya dia sedikit takut jika tidak dibolehkan mengundang orang datang kemari.


"Tentu saja tidak apa-apa. malah lebih bagus kalau dia datang kemari, daripada kalian harus bertemu diluar." Ucap Nyonya Hanna membuat Anindira lega mendengarnya begitu juga dengan Kanaya.


"Ayo silahkan duduk." Ucap Nyonya Hanna lagi mempersilahkan Kanaya duduk. "Mau minum apa?"


"Tidak usah repot-repot Nyonya."


"Jangan panggil Nyonya, panggil saja tante."


"Bi buatkan saja jus segar ya."


"Baik Nyonya." Pelayan pun pergi kedapur untuk membuatkan jus.


"Ohya Nay, sebentar ya aku ambilkan dulu oleh-olehnya." Ucap Anindira beranjak dari sofa menuju kamar. Nyonya Hanna dan Kanaya berbincang ringan, tak lama kemudian Anindira datang dengan membawa paperbag berisi oleh-oleh. ia langsung menyerahkannya kepada Kanaya.


"Kanaya, apa kau bekerja?" Tanya Nyonya Hanna.


"Iya Tante, saya bekerja sebagai pegawai di perusahaan Alister company."


"Ohya? kebetulan sekali."


Tak lama kemudian segelas jus segar pun datang, Nyonya Hanna mempersilahkan Kanaya untuk meminumnya.


"Ayo dihabiskan"


"Terimakasih tante" Kanaya pun langsung meminum jus itu, kebetulan dia sedang haus.


Anindira dan Kanaya berbincang-bincang, nyonya Hanna pun ikut mendengarkan dan menimbrung, mereka bertiga pun mengobrol dan tertawa dengan asiknya. perasaan malu dan segan Kanaya tadi lenyap begitu saja. ia memang orang yang mudah menyesuaikan diri apalagi saat bersama teman sefrekuensinya yaitu Anindira.


"Wah wah sepertinya ada tamu, asik banget ceritanya." Ucap Bella yang baru pulang.


"Bella, kenalkan dia teman kakak." Ucap Anindira. Kanaya dan Bella pun saling berjabat tangan.


"Kanaya" Ucap Kanaya memperkenalkan diri kepada Bella.


"Bella, adik ipar kak Anin yang paling cantik." Ucap Bella memperkenalkan diri, mereka semua pun tertawa mendengarnya.


"Dia pasti teman yang kakak ceritakan itukan." Ucap Bella, Anindira mengangguk.


"Mama juga ikut bergabung? seperti anak muda saja, memangnya mama mengerti pembicaraan anak muda?"


"Mamahkan memang masih muda" Ucap nyonya Hanna membuat mereka semua tertawa.


Mereka melanjutkan obrolan asik mereka dan Bella juga ikut bergabung.


Mereka ini sudah kaya baik lagi. batin Kanaya, karena biasanya orang kaya yang ia temui itu sombong sombong dan sok berkuasa. tapi tidak dengan keluarga ini.


Anindira nasibmu baik sekali.


Sahabatnya itu begitu beruntung pikirnya, bisa tinggal dan menjadi bagian dari keluarga ini. apalagi dia sangat disayangi disini, melihat perlakuan mereka terhadap Anindira.


Tak lama kemudian Aksan turun dengan pakaian rapinya. ia hendak pergi keluar.


"Tuan" ucap Kanaya sambil menunduk ramah menyapa Aksan.


"Hemm" Aksan membalas sapaannya dengan menganggukkan kepalanya. ia ingat kalau Kanaya adalah salah satu pegawainya dikantor karena Anindira yang memberitahunya tadi saat dikamar.


"Hey dimana kau?" Ucapnya pada orang itu.


"Sebentar, ini sudah sampai." Ucap orang itu lalu mematikan telponnya.


"Cih" Aksan melihat sambungan telepon sudah terputus. tak lama kemudian bel pintu berbunyi, pelayan langsung membukakan pintu. dan tampaklah seorang pria dengan senyuman cerahnya.


"Kau yang memaksaku tapi kau sendiri yang lama." Ucap Aksan kesal.


"Sorry, tadi dijalan macet"


"Kevin." Ucap Nyonya Hanna kepada orang yang baru datang itu yang ternyata adalah keponakannya.


"Halo tante, halo kakak ipar." Ucap kevin menyapa mereka. "Hei manja" sambil menoel pipi Bella lalu duduk disebelahnya. Bella hanya memutar bola matanya.


"Eh ada tamu ya?" Ucapnya saat melihat seorang gadis dihadapannya. "Kamu?" ucapnya lagi ketika melihat wajah Kanaya.


"Tuan" Sapa Kanaya. ia tahu kalau Kevin adalah sepupu Aksan, ia juga sering melihat Kevin di perusahaan Aksan dan berpapasan dengannya.


Selain urusan kerjasama antar perusahaan, Kevin juga sering datang untuk sekedar mengunjungi Aksan dikantornya.


"Aku rasa kita berjodoh" Ucap Kevin sambil merangkul pundak Kanaya. Kanaya menyengir dan menggeser duduknya menjauh dari Kevin.


Apaansih nih orang?. dalam hati Kanaya


"Sebenarnya jadi tidak? kalau tidak cepat kau pergi sana." ucap Aksan kesal.


"Sebentar, aku ingin mengobrol dengannya." Ucap Kevin sambil terus melihat Kanaya.


"Cepat atau pergi?" Ucap Aksan menekan kata-katanya.


"Tante lihat dia mengusirku." Kevin mengadu kepada nyonya Hanna.


"Memangnya kalian mau kemana?"


"Tidak kemana-mana" Ucap Aksan hendak kembali ke tangga.


"Eh iya ayo-ayo" Kevin bangkit dari duduknya dan menghentikan Aksan. Tidak sabaran sekali, batin Kevin. Mereka pun segera pergi menuju restoran milik Rio, tempat biasa mereka berkumpul. disana sudah ada sekretaris Malik dan teman-temannya yang lain yang sudah menunggu.


Salah satu dari teman mereka yang bernama Willy akan pergi keluar negeri selama beberapa bulan, jadi mereka ingin mengadakan pesta perpisahan.


Sebenarnya Aksan malas untuk datang, makanya dia menyuruh malik untuk pergi sendiri tidak usah menjemputnya. tapi Kevin menelpon dan memaksa akan menjemputnya.


Diperjalanan menuju restoran. Kevin yang sedang mengemudikan mobilnya terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gara-gara kau aku jadi lupa meminta nomor teleponnya." Ucap Kevin sambil memukul pelan setir mobilnya. Aksan tidak tahu siapa yang sedang dibicarakan Kevin, tapi dia tidak memperdulikannya.


"Aku sering melihatnya dikantormu, tapi aku tidak punya kesempatan untuk berbicara dengannya. dia terlihat sangat sibuk." Ucapnya lagi, kini Aksan mengerti siapa yang dimaksud oleh Kevin. siapa lagi kalau bukan Kanaya.


"Jadi itu alasannya kau sering datang ke kantorku."


Memang kunjungan Kevin dikantornya hanyalah sebuah alasan, sebenarnya ia hanya ingin melihat dan bertemu dengan Kanaya. walaupun tidak sempat mengobrol, tapi melihatnya dari jauh saja sudah membuatnya senang. karena sejak pertama kali bertemu ia sudah tertarik dengan Kanaya.


"Apa kau punya nomor telponnya?"


"Untuk apa aku menyimpan nomor telponnya."


"Kalau begitu aku akan memintanya dari kakak ipar, diakan temannya."


"Kenapa harus istriku? kau kan bisa meminta langsung padanya."


"Bagaimana kalau dia tidak memberikannya?"


"Itu bukan urusanku, jangan ganggu istriku!" Kevin hanya mendengus mendengar jawaban Aksan.


Di kediaman Keluarga Alister.


"Sepertinya kak Kevin menyukai kakak." Ucap Bella pada Kanaya. Kanaya hanya menyengir.


"Aku rasa itu tidak benar" Ucap Kanaya. ia rasa Kevin hanya bercanda saja.


"Bagaimana kalau benar?"


"Mau benar atau tidak, jodoh itu sudah diatur. Tante tau kau gadis yang pintar, Tante harap kau bisa menjaga dirimu untuk siapapun jodohmu nanti." ucap Nyonya Hanna memberikan nasehat.


"Pasti Tante"


"Tante keatas dulu ya." Ucap Nyonya Hanna. "Sayang, kau jangan lupa meminum susumu ya!" ucapnya lagi pada Anindira.


"Iya mah"


Nyonya Hanna pergi ke kamarnya karena dia sudah lelah dan mengantuk. Tuan David sudah tidur daritadi, ia sedang tidak enak badan makanya tidur cepat.