
Matahari mulai muncul menerangi bumi. Sinarnya memasuki setiap celah yang ada di mansion. memantulkan cahayanya di jendela kaca.
Anindira bangun dengan hati yang gembira, ia begitu antusias menyambut kepergian suaminya keluar kota selama beberapa hari. Dibukanya tirai putih yang menutupi jendela agar cahaya matahari menembus dengan sempurna kedalam kamarnya. cuaca yang sangat cerah hari ini secerah senyumnya.
"Kenapa silau sekali?, Cepat tutup tirainya!". Dengan suara serak khas bangun tidur tapi masih memejamkan matanya.
"Suamiku bangun! Kau kan mau pergi keluar kota. Nanti telat". Membangunkan Aksan dengan semangat.
Aksan yang sudah bangun menghela nafasnya melihat Anin yang seperti sudah tidak sabar agar ia segera pergi. Diapun bangkit dan meminum air putih yang ada di nakas setelah itu masuk ke kamar mandi. Sedangkan Anin sedang menyiapkan pakaian yang akan dipakai Aksan nanti.
Setelah selesai bersiap-siap mereka langsung turun ke bawah untuk sarapan. Aksan memerintahkan pelayan untuk membawakan kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Berapa lama kau akan pergi Aksan?"
Tanya Tuan David.
"Tiga hari pah". Jawab Aksan.
"Wah kakak mau pergi? Berarti kak Anin sendiri. Kak boleh ya nanti malam aku tidur di kamar kakak?". Ucap Bella manja pada Aksan.
"Tidak". Jawabnya cepat
"Huh pelit".
Setelah menghabiskan sarapannya Aksan langsung bersiap-siap untuk pergi.
"Hati-hati ya sayang". Ucap Hanna sambil memeluk putrannya.
"Iya ma".
"Kak, bolehkan?". Tanya Bella masih berharap dibolehkan tidur dikamarnya bersama Anin. Aksan langsung menunjukkan kepalan tinjunya.
"Cih. Memangnya kenapa sih ".
"Sekali tidak tetap tidak".
"Sudah kalian ini, Aksan nanti kamu telat loh". Ucap Hanna melerai perdebatan kedua anaknya itu.
Anindira mengantar Aksan sampai ke mobil sambil terus mengembangkan senyumnya. Aksan kira Anin hanya mengantar sampai depan pintu ternyata dia masih mengikuti sampai mobil. Aksan hanya bisa mendengus melihat Anin.
Sebahagia itu dia aku pergi.
"Selamat pagi sekertaris Malik". Ucap Anin sambil tersenyum pada Malik yang sedang membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
"Selamat pagi Nona". Balas Malik sambil membungkukkan sedikit kepalanya tanda hormat.
Aksan pun langsung masuk kedalam mobil dan membuka jendelanya.
"Jangan senang dulu, aku akan segera kembali". Ucap Aksan kepada Anin yang masih berdiri disitu. "tunggu aku tiga hari lagi".
"aku akan selalu menunggu mu". ucapnya penuh penghayatan. akting yang sangat bagus.
"Aku pergi." ucap Aksan.
"Dah suamiku". Sambil melambaikan tangan saat mobil melaju pergi.
Melihat Anindira dan Aksan Malik rasa hubungan mereka sudah semakin dekat. Malik merasa senang dengan hal itu.
"Segera lah kembali". Teriaknya masih melambaikan tangan sampai mobil keluar dari kawasan Mansion.
"Aku bebas, yeay ". ucapnya gembira Saat sudah berada di dalam kamar.
Merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi kaki masih menggantung dilantai "Akhh aku akan bersantai dan bersenang-senang ". Anin senang karena beberapa hari ini ia akan terbebas dari perintah perintah aneh suaminya yang menjengkelkan.
Di mobil.
"Lihatlah dia, senang sekali aku pergi, menyebalkan ".
Malik mengantarnya sampai bandara, selama Aksan pergi dialah yang harus bertanggung jawab atas perusahaan.
"Selama aku pergi pastikan tidak terjadi masalah apapun. Dan kirim orang untuk selalu mengawasi keluarga ku".
"Baik Tuan, saya tidak akan membiarkan terjadi hal buruk pada keluarga anda".
"Aku mengandalkan mu".
Hari ini Anin pergi ke toko dengan supir pribadi yang baru dipekerjakan Hanna khusus untuk mengantarnya kemanapun dia pergi.
"Langsung ke toko saja pak". Ucap Anindira pada supir pribadinya yang masih berumur 30 tahunan itu.
"Baik Nona".
Setelah 20 menit perjalanan akhirnya ia sampai.
"Selamat pagi semuanya". Ucapnya sambil mengembangkan senyumnya setelah masuk ke toko tercintanya itu.
Toko roti yang selalu ramai peminatnya ini bahkan pelanggannya selalu bertambah setiap harinya. Selain rotinya yang enak dan kualitas yang tinggi, para karyawan nya juga ramah dan sopan ketika sedang melayani pembeli dan poin plusnya mereka juga cantik-cantik ditambah pakaian seragam mereka yang rapi Sehingga menambah daya tarik bagi pembeli. para karyawan di toko roti ini memiliki dua seragam berwarna putih dan merah maroon. mirip seperti pakaian chef.
"Pagii kak" sahut para karyawan.
"Wah masih sepagi ini tapi sudah siap semua ya". Ucap Anin melihat bangunan toko yang lumayan besar dan dominan kaca ini sudah bersih mengkilap lantainya juga, dan kursi meja yang tersusun rapi.
"Iya dong kak, kami kan yang paling rajin hehe". Ucap salah satu karyawan.
Karyawan Anin ada yang baru lulus sekolah dan ada yang merantau dari desa. Beruntungnya mereka semua bekerja dengan jujur dan rajin. Anin Sangat bersyukur bisa mendapatkan orang orang baik disekelilingnya. Mereka pun memulai pekerjaan sampai malam hari tiba.
Telepon Anin tiba-tiba berdering.
"Halo nay ".
"Halo sahabatku kau dimana sekarang?".
"Aku masih ditoko nay, kenapa? ".
"Bagus, kalau gitu aku kesana ya".
"Baiklah".
Tidak lama kemudian Kanaya pun tiba di toko roti.
"Tumben biasanya sore udah pulang?". Tanya Kanaya. karena memang Anin selalu pulang sebelum Aksan pulang dari kantor.
"Suamiku lagi keluar kota jadi aku bebas". Tersenyum sambil mengedipkan matanya. "aku juga sudah bilang ke mama mertua kalau aku akan pulang telat".
"Apa mertuamu tidak curiga?"
"Untuk apa curiga?, Liat tuh". Sambil menunjuk ke arah supir Anin yang sedang menunggunya. "Ohya kamu kok baru pulang jam segini Nay?"
"Biasalah lembur lagi. Pekerjaan di kantor suamimu itu sedang banyak sekali". ucapnya lalu tertawa sedangkan Anin hanya memutar kedua bola matanya.
"Chika bisa minta tolong?". Ucap Kanaya saat melihat Chika lewat.
"Apa itu kak?".
"Aku mau coklat panas, please?".
"Baiklah, aku buatkan dulu".
Chika pun ke belakang untuk membuat pesanan coklat panas Kanaya.
"Akh lelahnya bekerja". Ucap Kanaya menempelkan kepalanya ke meja
"Sabar ya". Ucap Anindira sambil membelai rambut Kanaya. Ia salut dengan Kanaya yang begitu kuat dan tegar menjalani hidup dibandingkan dirinya.
"Apa kau begitu sibuk bekerja sampai kau tidak makan? Lihatlah dirimu kau makin kurus saja tinggal tulang". Kanaya hanya tersenyum mendengar omelan sahabatnya itu. Tulang teriak tulang batinnya.
Beberapa saat kemudian coklat panas pesanan Kanaya datang.
"Ini kak". Ucap Chika membawa coklat panas dan beberapa potong roti.
"Wah terimakasih ya Chika, aku lapar sekali". Chika hanya tersenyum.
- - -
Sudah tengah malam lewat tapi Aksan masih belum bisa tidur. dia menginap di salah satu hotel paling bintang lima di kota tersebut.
"Biasanya dia memijatku hingga aku tertidur. Pasti tidurnya nyenyak sekali sekarang, cih."
Disisi lain benar saja Anindira bahkan sudah berada di alam mimpi. Tidurnya sangat pulas. Saat pulang ia langsung mandi dan tidur dengan damai.