Bakery love story

Bakery love story
Makan mie pedas



"Kenapa kak Alira lama sekali ya?, apa dia beli makan diluar kota?" Tanya Chika melihat Alira yang tak juga kembali. "Apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya? tapikan dia jago beladiri."


Madan coba menelpon Alira tapi tidak diangkat. hari sudah malam tapi Alira belum juga kembali. Chika merasa khawatir. Akhirnya Madan memutuskan untuk mencari Alira.


"Istirahat lah. kalau butuh sesuatu tekan saja tombol ini. mengerti?" Ucap Madan sebelum pergi.


"Baiklah, hati-hati"


Madan segera pergi untuk mencari Alira.


***


Disisi lain. Alira sedang duduk di kursi taman yang terletak agak jauh dari rumah sakit. ia terlihat sangat kelelahan dan kesakitan.


Alira menggulung lengan kemejanya, dengan penerangan lampu taman yang cukup terang. ia melihat luka memar ditangannya. luka itu terlihat sangat jelas. kemudian ia menggulung celana jeans-nya sampai betis. ia melihat betisnya yang juga penuh luka memar, lalu merabanya.


"Aww"


Malik yang baru pulang dari kantor sampai malam begini. karena tak bersama Aksan jadi dia bisa lembur di kantor hari ini.


Malik tak sengaja melihat Alira dari kejauhan. ia memperhatikannya baik-baik apakah itu Alira atau bukan. dan ternyata memang benar kalau itu adalah Alira.


Malik segera menepikan mobilnya lalu menghampiri Alira.


"Apa yang kau lakukan malam-malam disini?"


Alira lalu mendengak melihat orang yang sedang berdiri dihadapannya.


Dengan cepat ia menurunkan gulungan celananya.


"Tuan Malik?"


Alira segera berdiri. ia menurunkan gulungan di lengan bajunya juga, untuk menyembunyikan lukanya.


"Bagaimana anda bisa ada disini, Tuan?" Alira menghindari pertanyaan Malik dengan pertanyaan.


Malik menarik Alira untuk kembali duduk. ia lalu menggulung lengan kemeja Alira dan memperlihatkan memar-memar ditangannya.


"Kenapa bisa begini?" Tanya Malik memperhatikan tangan Alira yang penuh luka memar.


"Emm itu, tadi..."


Alira kemudian mulai menceritakan semuanya dari awal kepada Malik.


Flashback on.


Alira pergi ke sebuah warung makan yang terletak tak jauh dari rumah sakit. saat hendak masuk ke warung itu, ia mendengar suara teriakan wanita minta tolong. ia melihat dua orang preman sedang menarik wanita itu untuk masuk kedalam mobil yang sepertinya milik preman itu.


Alira menghampiri mereka.


"Lepaskan dia" Ucap Alira kepada kedua preman itu.


Kedua preman itu saling tatap lalu tertawa. "Hahahaha"


"Jangan ikut campur, pergi sana"


"Lepaskan dulu dia, baru aku akan pergi."


"Wah wah, lihat gadis ini." Kedua preman itu memperhatikan Alira dari atas sampai bawah. lalu kedua preman itu saling pandang dan memberi kode satu sama lain.


"Boleh juga". Ucap salah satu preman lalu mendekati Alira dan hendak memegang tangannya. Dengan cepat Alira menendang perutnya. membuat preman itu kesakitan.


"Gadis kurang ajar."


Alira mendekati preman satunya lagi yang sedang memegangi wanita itu. Alira mulai menghajarnya, preman itu pun membalasnya.


"Lari!" Ucap Alira kepada wanita itu saat sudah terlepas dari si preman. wanita itu tidak mau meninggalkan Alira sendirian. tapi Alira memaksanya. "Cepat!" Wanita itu pun akhirnya berlari meninggalkan mereka.


Tinggallah Alira dengan kedua preman itu. setelah wanita itu lari, Alira juga segera lari meninggalkan preman-preman itu. tapi preman itu mengejarnya dengan membawa senjata yang baru mereka ambil dari mobil, yaitu besi dan balok kayu yang biasa mereka pakai untuk memukul orang.


"Mati aku"


Alira semakin cepat berlari, disusul kedua preman itu yang mengejarnya dari belakang. sampai banyak orang dijalan yang melihat aksi kejar-kejaran mereka bertiga. Alira sudah belok kedalam gang kecil, tapi tetap saja preman itu masih mengikutinya.


Alira berhenti karena sudah tak sanggup lagi berlari. jantungnya terasa sakit. lebih baik ia bertarung melawan preman itu daripada menghindar dengan berlari.


"Sini kau gadis kurang ajar. gara-gara kau kami kehilangan mangsa. kau harus menggantikannya."


Preman itu mulai mendekati Alira, Alira mulai melayangkan tangannya. dan terjadilah perkelahian antara dua lawan satu. Alira dengan tangan kosong melawan dua preman bersenjata. kedua preman itu menyerangnya dengan besi dan balok kayu membuat badannya sakit dan penuh memar karena berusaha menangkis serangan dari mereka.


Untungnya ada warga yang melihat kejadian itu dan mendatangi mereka. kedua preman itu langsung kabur.


Flashback off.


Setelah mendengarkan cerita Alira, Malik menghembuskan nafasnya kasar.


"Kau itu pahlawan atau apa?" Ucap Malik lalu berdiri dari duduknya. "Ayo, aku akan mengantarmu. agar kau bisa segera mengobatinya."


Alira pun mengikuti Malik dari belakang dengan jalan yang terpincang-pincang.


Malik berbalik kebelakang, melihat Alira yang jalan seperti itu. ia kemudian menghampiri Alira.


"Kenapa jalanmu seperti itu?"


"Emm.. kakiku sakit."


Malik kemudian mendekat dan berjongkok lalu menggulung sedikit celana Alira. Malik melihat memar disekitar mata kakinya.


Malik menghela nafasnya lagi lalu berkata. "Lain kali tidak usah menolong orang kalau kau yang akan jadi korbannya."


Malik kemudian membantu Alira berjalan dengan memegangi tangannya. Apa lagi yang Alira rasakan kalau bukan senang. sambil berjalan ia tersenyum-senyum melihat Malik.


"Lihat kedepan!"


"Hehee.."


Dari kejauhan seorang pria tengah berlari kearah mereka.


"Kak Madan?"


"Aku sengaja tidak menjawabnya"


Madan menatapnya dengan penuh tanda tanya dan curiga.


"Aku tadi sedang sibuk kak Madan, jadi tidak sempat mengangkat telponmu."


"Sibuk apa?"


"Berkelahi."


"Apa?"


"Sebaiknya kita pergi dari sini." Ucap Malik datar.


***


Di kamar Aksan dan Anindira.


Aksan dibuat pusing dengan istrinya yang tak henti-hentinya menangis. Anindira menangis karena sedang menonton drama sedih.


"Sayang. kau itu" Aksan sampai tak bisa berkata-kata lagi dibuatnya. sedari tadi ia sudah melarang Anindira menonton drama, tapi tak didengarnya.


"Kenapa kau menangis hanya karena menonton drama saja?"


"Ceritanya sedih suamiku" Ucapnya sambil menangis.


"Kalau begitu tidak usah ditonton." Ucap Aksan frustasi.


"Tapi ceritanya bagus."


Aksan menarik nafasnya.


kemudian ia berpikir sesuatu yang bisa membuat Anindira menghentikan aksi nonton dramanya. tidak baik jika Anindira menangis terus, karena seharian ini dia sudah banyak menangis.


"Sayang apa kau tidak lapar? apa kau ingin sesuatu?"


Mendengar suaminya mengatakan lapar, Anindira pun jadi lapar. ia lalu memikirkan sesuatu yang sedang ingin dimakannya.


"Aku ingin yang pedas-pedas."


"Pedas?"


"Iya, aku mau mie pedas. tapi suamiku yang masak."


"Aku?" Tanya Aksan menunjuk dirinya sendiri. Anindira mengangguk.


"Baiklah"


Mereka berdua pun segera turun menuju dapur. Aksan segera memasakkan mie instan yang pedas untuk istrinya. Anindira memperhatikan caranya memasak dari meja makan. meskipun belepotan tapi akhirnya jadi juga masakannya.


Aksan membawa sepiring mie pedas buatannya ke meja makan. Melihat dari tampilannya saja sepertinya sudah pedas apalagi kalau dicoba. Anindira tak sabar untuk segera memakannya.


Anindira segera mencoba mie pedas buatan suaminya itu. awalnya biasa saja, lama-lama baru terasa pedasnya.


"Aaahhh pedassnyaa. . ."


Anindira bolak-balik minum untuk menghilangkan rasa pedasnya.


"Sayang? pedas ya?" Tanya Aksan khawatir melihat istrinya yang seperti cacing kepanasan.


"Coba saja sendiri."


Aksan lalu mencoba mie buatannya yang membuat istrinya kepedasan seperti itu. sama seperti Anindira tadi, suapan pertama dan kedua masih enak, bahkan rasa pedasnya belum terasa. tapi lama-lama malah pedas.


"Ternyata pedas sekali."


Aksan lari ke kulkas mengambil sebotol besar air dingin.


"Sayang ini, minum air dingin biar tidak pedas lagi." Aksan menuangkan air dingin itu kedalam gelas Anindira.


"Jangan..." Ucap Anindira saat Aksan meminum satu gelas penuh air dingin.


Setelah menghabiskan segelas air dinginnya, Aksan terdiam sebentar.


"Kenapa semakin pedass?"


"Makanya jangan minum air dingin, rasa pedasnya tidak akan hilang malah awet." Ucap Anindira lalu memberikan segelas air hangat padanya. Aksan langsung meminumnya.


"Huaahh... pedasnya semakin menggigit sayaang." Ucap Aksan tak tahan, ia sudah seperti cacing kepanasan juga. Anindira tertawa melihatnya.


Aksan dari dulu memang tak tahan makan makanan pedas. lain dengan Anindira yang kuat pedas, meskipun kepedasan sampai menangis sekalipun, Anindira tetap menyukai makanan pedas.


Nyonya Hanna yang hendak pergi kedapur untuk mengambil minum, melihat mereka berdua sedang kepedasan di meja makan.


"Kalian makan apa? sampai kepedasan seperti itu?"


Nyonya Hanna lalu mendekat dan melihat piring berisi mie yang terlihat sangat pedas itu. dari aromanya sepertinya ia tahu mie apa itu.


"Anindira kau kan sedang hamil, kenapa kau makan makanan yang pedas seperti ini? ini tidak baik untuk kesehatan."


"Kau lagi Aksan, sudah tahu tidak kuat makan pedas."


"Aku kira tidak pedas mah" Jawab Aksan masih kepedasan.


"Kalian berdua ini ada-ada saja."


Nyonya Hanna pusing melihat mereka berdua, ia segera mengambil air minum untuk segera minum obat.


Anindira dan Aksan saling pandang, kemudian mereka tertawa bersama.


bibir mereka saat ini sudah bengkak merah dengan mata yang berair.


wajah dan badan mereka sudah seperti perosotan air keringat.


ini semua karena mie pedas buatan Aksan.