Bakery love story

Bakery love story
Pencopet di Toko Roti



Keesokan harinya ditoko roti.


Seperti biasanya toko terlihat ramai pengunjung. para pembeli sibuk memilih roti dan para pegawai sibuk melayani mereka. Suasana sangat sibuk, Sampai mereka tak menyadari ada dua orang penjahat yang hendak mencopet.


"Copeettt. . ."


Seorang ibu-ibu berteriak saat tasnya ditarik oleh seorang pria yang tak lain adalah pencopet. Sontak saja semua langsung melihat kearah ibu itu dan hendak menolong, tapi mereka semua mundur ketakutan saat penjahat satunya lagi mengeluarkan pisau.


Anindira panik saat ada pencopet di tokonya, apalagi copet itu membawa senjata tajam. Ia mencari-cari keberadaan supir pribadinya tapi tidak ketemu. Ia sangat panik. pasalnya seramai apapun tokonya selama ini, belum pernah terjadi kasus pencopetan seperti ini. Ia bingung harus berbuat apa, Anindira sangat panik sampai membuat perutnya sakit. Ia takut jika ada yang terluka, karena penjahat itu mengancam mereka dengan menodongkan pisaunya.


Baik para pegawai maupun pengunjung toko, mereka semua ketakutan. tidak ada yang berani melawan. kemudian kedua penjahat itu langsung kabur membawa tas curiannya.


Dengan cepat Alira mengejar para pencopet yang akan keluar dari toko. Sebenarnya ia tadi ingin melawan tapi dicegah oleh Chika.


Alira mengambil batu yang cukup besar lalu mengambil ancang-ancang untuk melempar. Dan ternyata lemparannya tepat sasaran. Batu itu mengenai kepala penjahat yang berlari sambil membawa tas curiannya. Penjahat itu kesakitan lalu menjatuhkan tasnya dan memegangi kepala bagian belakangnya yang berdarah akibat lemparan batu besar itu.


"Tidak sia-sia aku belajar ini." Ucapnya bangga. Alira memang pernah mempelajari olahraga tolak peluru, dan ia lumayan mahir dengan olahraga ini.


Dengan cepat Alira mengambil tas itu. saat hendak kembali tangannya ditarik oleh penjahat yang satunya lagi, Alira langsung melempar tas itu sampai kedepan pintu toko roti dan si ibu yang punya tas langsung menangkapnya.


"Tas ku kembali" Ucap ibu itu senang karena tasnya kembali. Mereka yang ada disitu juga senang karena tas ibu itu kembali. tapi mereka juga khawatir melihat Alira sekarang.


Terjadilah baku hantam antara Alira dan penjahat yang berusaha mencegahnya tadi. Anindira yang melihat perkelahian antara Alira dan penjahat itu merasa khawatir, ia takut kalau terjadi sesuatu kepada Alira, pegawai yang baru sehari bekerja ditempatnya. ingin menolong tapi ia tidak bisa, Anindira tidak pandai beladiri dan juga sedang hamil. dia tidak ingin membahayakan anak dalam kandungannya.


Penjahat itu mengeluarkan pisau dari kantongnya, dengan cepat Alira menendang tangan penjahat itu sampai pisaunya tercampak jauh.


Penjahat itu terus melawan sampai akhirnya kaki Alira melayang dengan indah diwajah sang penjahat sampai penjahat itu ambruk. Semua Orang ternganga melihat kejadian itu, mereka semua kagum dengan aksi Alira.


"Itu hadiah karena kalian sudah berani mencuri disini. Dan aku akan memberikan hadiah tambahan karena kalian sudah membuat heboh tempat ini." Ucap Alira kesal. karena perbuatan mereka, toko roti mendadak ramai dilihat orang yang sedang lewat, Ada juga yang berhenti dari kendaraannya untuk menonton aksi baku hantam mereka.


"Ampun. . . ampun. . ." Ucap penjahat itu saat Alira hendak memberikan hadiah tambahan berupa sebuah tendangan. penjahat itu sudah kesakitan, badan serta wajahnya sudah babak belur dibuat Alira. Pipi dan tubuhnya penuh dengan tanda tapak sepatu Alira.


Mendengar si penjahat sudah minta ampun dan kesakitan, Alira pun melepaskannya.


Alira mengancam akan membuat tulang mereka patah jika berani datang kesini lagi. Kedua penjahat itu langsung lari terbirit-birit meninggalkannya. Semua yang menyaksikan itu langsung bersorak dan bertepuk tangan untuk Alira.


"Alira kau tidak apa-apa?" Tanya Anindira sambil berlari menghampiri Alira. Ia akui kalau Alira sangat hebat berkelahi tadi tapi ia juga khawatir.


"Tidak apa-apa kak, jangan khawatir. Nyali mereka hanya secuil, mereka tidak ada apa-apanya." Ucap Alira menenangkan Anindira yang tampak khawatir. karena dirinya memang tidak apa-apa.


"Huh syukurlah." Ucap Anindira lega.


"Waah. . kak Alira kamu hebat sekali melawan penjahat tadi" Ucap Chika kagum melihatnya.


"Ternyata kakak jago berkelahi ya, lemparan kakak juga tepat sasaran." Ucap pegawai lainnya. semua pegawai juga memanggil Alira dengan sebutan kakak karena ia lebih tua dari mereka.


"Biasalah" Ucap Alira sambil memegang kerah bajunya dan tersenyum bangga.


"Untung kakak pakai celana, bagaimana kalau kakak berkelahi pakai rok tadi, pasti sudah koyak." Ucap Chika sambil tertawa. Karena Alira bekerja mendadak disini, jadi Anindira belum menyiapkan seragam untuknya. selagi seragamnya dibuat, Alira bebas memakai baju apapun asalkan rapi dan sopan. kebetulan Alira hari ini menggunakan baju kemeja dan celana panjang.


"Nak, terimakasih ya sudah menolong saya." Ucap ibu yang tasnya dicopet tadi kepada Alira.


"Sama-sama nyonya. Maaf sudah membuat anda cemas dan tidak nyaman."


"Tidak apa-apa. Ohya ini ada hadiah untuk kamu." Ibu itu memberikan uang dua ratus ribu ketangan Alira.


"Bilangnya tidak usah tapi uangnya dikantongi" Ucap Chika. Mereka semua pun tertawa melihat Alira yang Lain perkataan lain perbuatan.


"Hehe, tidak boleh menolak rejeki." Ucap Alira tersenyum menunjukkan deretan giginya.


Lumayan kan buat ongkos pulang.


 


Di tempat lain.


"Dasar bodoh, tidak berguna, sia-sia aku membayar kalian." Bentak seorang wanita kepada kedua orang pria suruhannya.


"Maaf Bos" Ucap kedua orang itu menunduk ketakutan.


"Melawan satu perempuan saja kalian tidak bisa." Ucap wanita itu lagi yang tak lain adalah Tamara.


Tamara adalah orang yang telah membayar kedua orang itu untuk mencopet di Toko Roti milik Anindira. Ia berusaha untuk menjatuhkan Anindira dengan membuat tokonya tidak aman, dengan begitu orang akan takut kecopetan jika datang kesana.


- - -


Malam harinya di kamar Aksan dan Anindira.


Anindira menceritakan tentang kejadian ditoko hari ini. Ia menceritakan kejadian pencopetan di tokonya. Aksan yang mendengarnya langsung terkejut dan khawatir. Ia takut kalau terjadi sesuatu kepada Anindira, Aksan takut kalau istrinya terluka.


"Apa kau baik-baik saja?, Apa ada yang terluka?" Tanya Aksan cemas sambil memeriksa tubuh Anindira.


"Suamiku, aku baik-baik saja. Aku bahkan tidak mendekati mereka. Aku takut karena mereka punya senjata tajam, Aku juga memikirkan anakku." Jelas Anindira sambil mengusap perutnya. Aksan juga ikut mengelus perut istrinya. syukurlah kalau Anindira memikirkan keselamatan dirinya dan anak mereka.


"Lalu apa yang terjadi?"


"Untungnya ada Alira, dia memang hebat."


"Siapa Alira?"


Anindira pun mulai menceritakan semuanya, ia memberitahu kalau Alira adalah pegawai yang baru sehari bekerja ditokonya, dan dia yang sudah menghajar para pencopet itu sampai babak belur dan minta ampun. berkat dia tas ibu itu bisa kembali.


"Sebentar." Anindira mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk, lalu memberikannya kepada Aksan. Aksan mengambil laptopnya dan mulai memasangkan flashdisk itu. di dalam flashdisk itu ada rekaman yang memperlihatkan aksi pencopetan ditokonya tadi, dan juga perkelahian antara Alira dan pencopet itu. untungnya Anindira sudah memasang cctv di tokonya. dan dia sudah menyalin rekaman itu kedalam flashdisk, jadi mereka bisa melihat ulang rekaman cctv itu.


Aksan memperhatikan dengan serius rekaman itu. disana tampak Anindira sedang memegangi perutnya seperti sedang menahan sakit.


"Sayang kau kesakitan tapi kau berbohong padaku, kau bilang kau baik-baik saja."


"Emm itu, perutku sakit tapi hanya sebentar. aku rasa karena aku terlalu panik, tapi sakitnya cuman sebentar kok." Anindira berusaha menjelaskan, Aksan terus melihatnya, ia kesal karena Anindira menyembunyikan sakitnya.


"Mau sebentar atau tidak yang jelas kau kesakitan. aku tidak bisa melihatmu kesakitan seperti itu." Ucap Aksan lagi menangkup wajah istrinya, Anindira hanya diam saja. ia mengerti kalau suaminya itu sangat mengkhawatirkannya.


Kemudian mereka kembali melihat rekaman yang memperlihatkan perkelahian antara Alira dan pencopet itu. ia juga melihat saat Alira melemparkan sebuah batu besar dengan tepat sasaran mengenai kepala si penjahat. Aksan pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Anindira yang melihatnya merasa heran.


"Ayo tidur." Ucap Aksan sambil menutup laptopnya, lalu menarik istrinya menuju tempat tidur. beberapa saat saja Anindira sudah tertidur karena ia sudah lelah. Aksan memeluknya dari samping, ia melihat istrinya dengan lekat. Sebenarnya ia sangat khawatir melihat istrinya tadi di rekaman itu, ia kesal dan marah. karena ulah penjahat itu istrinya sampai merasakan sakit.


"Akan kubalas mereka" Ucap Aksan lalu mengecup kening Anindira dan segera tidur.