
" **** ... gue harus gimana dong, ntar lagi target datang, tapi teman teman gue belum ada yang balik. " Stella mondar-mandir di dekat Kursinya Aldo,
Yaps ... Aldo tadi lagi pergi keruang guru karena di panggil oleh Bu Siti, Bu Siti memberikan tugas kepada Aldo dari pak Bambang, berhubung bapak itu tidak bisa masuk, jadi Stella dan ke 2 teman lucknutnya bisa mengerjai Aldo dengan menempelkan permen karet di bangkunya, ralat maksudnya Stella, because ke dua temannya pergi meninggalkannya sendiri.
"Mati gue-mati gue, dia udah datang, gue harus ngapain nih? " Stella makin panik saat melihat pria bertubuh tinggi tegap berparas putih ganteng dan berhidung mancung memasuki ruang kelas, yah siapa lagi kalau bukan Aldo.
Stella semakin panik saja saat pria itu sudah semakin dekat dengannya, mondar-mandir tak jelas sambil menggigit-gigit kukunya, berharap dapat menemukan alasan yang tepat ketika ia ditanyai. Tapi ternyata dugaan Stella salah, dia tidak ditanyai, jangankan di tanyai di hiraukan saja pun tidak, dengan wajah datarnya, Aldo duduk di kursinya namun tiba-tiba dia berdiri spontan membuat Stella yang ada di sampingnya terkejut.
Tatapan tajam mengintimidasi terarah kepada Stella. Takut, grogi, dan deg-deg an, itulah yang dirasakan Stella saat ini. semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Apalagi saat wajah datarnya Aldo menatapnya lekat-lekat seolah ingin membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Membuat Stella semakin takut dan grogi.
Sumpah demi apapun saat ini Stella benar benar deg-degan.
"Hm ... anu ... anu ... it ... itu... bu ... bukan gue yang buat." Stella seakan mengerti arti tatapan Aldo, dia menjawab dengan terbata- bata sambil mundur selangkah demi selangkah.
Belum juga diapa-apain Stella sudah ngibrit begitu saja, tapi yaitu lah dia, seorang Aldo memang mampu mengalahkan lawannya dengan tatapan tajam darinya saja.
.
.
.
****
"Hua ... syukur selamat, sumpah mukanya ngeri amat, ekspresinya itu loh macam mau membunuh seseorang saja, ganteng-ganteng kok serem. " Stella bergidik ngeri membayangkan wajah Aldo yang menatapnya tadi, membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk merinding apalagi saat bertatapan langsung dengannya, kebayangkan gimana takutnya Stella tadi?
"Eits ... tunggu sebentar," tampak ekspresi bingung dari wajah Stella, sedetik kemudian dia berujar, "Kok gue malah lari yah darinya, kenapa gue jadi takut? Kan niatnya emang gue mau balas dendam."
sedetik ...
tiga detik ...
"Ah sudah lah, lain kali aja gue balas dendam sama tu curut, manusia songong," Stella bergidik acuh, kemudian melenggang pergi dari koridor.
***
"***** ... kampret emang lo berdua, tadi kalian ngerjain gue kan, buat rencana kayak gini terus izin punya urusan lain, nyatanya kalian malah enak-enak makan di sini. " Stella tak perduli dia sekarang sedang di mana, yang dia tau sekarang dia sedang kesal dengan dua manusia di hadapannya ini dan rasanya dia ingin memakan mereka hidup-hidup sekarang juga.
"Stel, pelanin suara lo, kita sedang di kantin, gak lihat apa tu manusia-manusia pada ngelihatin kita semua." Stella menoleh sebentar dan benar saja beberapa pasang mata memang menuju kearah mereka.
"Oke, " Ia duduk ke bangkunya, " Gue mau nanya, maksud kalian berdua ninggalin gue tadi kayak gitu apa, kan kalian yang ngajak gue ngerjain orang, kok malah gue yang di kerjai?"
" Hehe sorry Stel, sebagai teman baru kami, lo harus kami kerjai, because kami mau lihat lo orang yang gimana." Amanda nyengir tak bersalah membuat dirinya ingin memaki-maki Amanda sekarang juga.
"Serah lo deh." Ia memutar matanya malas.
"Btw lo gak di apa-apain si Aldo kan? "
" Nggak, nape?"
"Serius enggak, lo gak di berikan tatapan tajam membunuh olehnya? " Amanda memberikan tatapan tak percaya dengan pengakuan Stella tadi.
"Oh itu, iyah gue dapat." Amanda legah, ia pikir manusia es itu bisa bersikap biasa aja pada orang yang berani mengganggunya.
***