
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
Drt ...drt ...
Bunyi getaran telepon genggam rumah mewah itu mengharuskan bik Lastri menghentikan pekerjaannya sebentar.
"Halo, dengan siapa ini?"
"Saya Meta, suster dari rumah sakit Mutiara Bunda" (maaf kalau nama tempatnya sama dengan yg lain, ini unsur ketidak sengajaan)
"Iyah sus, ada apa yah?"
"Apa bener ini kediaman Alexander?"
"Iyah bener, ada apa sus?" nada bicara bik Lastri mulai rada cemas, takut-takut nanti terjadi sesuatu terhadap salah satu keluarga ini.
"Ini saya mau mengabari, bahwa telah terjadi sebuah kecelakaan pesawat dan salah satu korbannya bernama Fakri Alexander, di ponselnya tertera nomor ini, dan saya pikir ini adalah nomor rumah keluarga beliau."
Jleb ....
Hati bik Lastri seolah enggan untuk percaya, bahwa tuannya mengalami kecelkaaan pesawat.
Matanya membulat sempurna. Sekejam inikah Tuhan kepada tuan mudanya? Dulu Tuhan membiarkan anak ini tumbuh tanpa rasa kasih sayang orang tuanya, dan sekarang Tuhan malah merenggut nyawa orang tuanya.
"Halo ... halo, ada orang di sana," ucap suster tersebut yang membuyarkan lamunan bik Lastri.
"I ... iyah iyah, gimana tadi sus? Apa nyawa tuan saya masih ada?" Bik Lastri meremas dasternya takut mendengar kabar selanjutnya.
"Maaf nyawa orang tersebut tidak tertolong, tapi kami juga menemukan korban seorang wanita yang duduk bersampingan bersama korban yang cowo, kami pikir dia juga salah satu keluarga sicowo. Kalau korban cewe tersebut sedang dalam masa kritis," ucap suster tersebut yang semakin membuat hati bik Lastri kacau balau.
Gusti Allah semoga saja korban wanita tersebut bukan nyonya Ya Alla.
"Kalau saya boleh tau, siapakah nama korban cewe tersebut sus?" bik Lastri berucap ragu-ragu, penuh rasa kekhawatiran.
"Sebentar, saya chek dulu." bik Lastri tak mandengar lagi suara seorang wanita dari dalam telepon untuk sementara waktu.
"Halo bu, ibu masih di sana?" tanya suster itu memastikan.
"Iyah saya masih di sini."
"Nama pasien wanitanya atas nama venita mulidya subarsa"
Tak
Telpon yang di genggam bik Lastri langsung jatuh begitu saja, kala mendengar nama siapa yang menjadi korban selanjutnya.
Gusti Allah, cobaan apa lagi yang kau berikan kepada anak malang itu.
*****
Hening, senyap keaadan kamar Aldo sekarang, setelah sesi tangis-menangis selesai.
"Hkem, ada yang gak pengen gue pergi tadi nih, siapa yah?" Goda Stella untuk memecahkan keheningan tersebut.
Aldo menatapnya sinis, pura-pura tidak tau sajalah, pikirnya.
"Aduh kayaknya ada yang suka nih sama gue, makanya gak bisa jauh." Stella mencoba tertawa, mengusir rasa canggung di antara keduanya, meskipun tawanya garing segaring teri goreng.
"Kalau emang bener kenapa?"
Blush
Pipi Stella memerah, terdiam seribu bahasa.
Apa maksudnya ini? Siapa yang dimaksud Aldo? Diakah?
Stella menatap netra coklat itu, memastikan pernyataan apa yang di lontarkannya. Sesaat netra hitam milik Stella bertemu dengan netra coklat milik Aldo.
Stella mencoba tertawa, mengusir segala pikiran anehnya. Mana mungkin Aldo suka samanya, Aldokan sukanya tipe cewe seperti Sandra, yang pendiam, pintar, taat aturan dan gak pernah bolos, begitulah pikirnya.
"Hahaha, candaan lo lucu juga, gue ampe ketawa mati nih." Stella meninju pundak Aldo pelan, tawanya tak berhenti meski Aldo sudah menatapnya tajam.
hop
Aldo menangkis pukulan Stella yang sudah tak terhitung berapa kali jumlahnya, memegang tangan itu dan menatap netra hitam milik gadis yang selalu membayangi hari-harinya.
"Kenapa tertawa?" tanyanya dengan mata yang menghunus.
"Habisnya lo becanda kelewatan lucu." Stella mencoba tersenyum kembali, menghilangkan rasa deg-deg–an yang menyerang jantungnya.
"Kalau gue bilang itu serius, lo bisa apa?"
Jleb
Hati Stella mencelos mendengar penuturan Aldo.
Apa bener dia juga suka sama gue, apa bener perasaan gue terbalaskan? gue takut dia hanya berpura-pura saja. Tapi matanya tersirat akan keseriusan.
Hening, senyap, sepi. Seketika aura di kamar Aldo terasa begitu mencekam dengan atmiosfer yang terasa tegang dan canggung.
"Gue gak percaya," ucap Stella grogi.
"Tatap mata gue, apa ada lo lihat kebohongan disana?" Stella mengangkat kepalanya menatap mata elang milik Aldo, namun selang beberapa detik dia menundukkan lagi kepalanya.
Duh ini serius dia lagi ngungkapin perasaan sama gue? tapi matanya itu loh ... kayaknya dia gak bohong, tapi masa sih dia suka sama gue. Lo ngehalu kali Stel, coba cubit diri lo.
Stella berperang dengan batinnya sendiri, alhasil Stella memutuskan mencubit dirinya, memastikan bahwa ini bukan sekedar mimpinya.
"Aww," ringisnya menahan pedih.
"Lo kenapa?" Aldo melihat pergelangan Stella yang di cubit oleh Stella sendiri.
"Kok **** bangat sih lo, nyubit diri sendir, kalau mau nyakitin itu jangan sakiti diri lo sendiri." Aldo bergumam kesal sambil memperhatikan tangan Stella yang memerah.
Duh ini jantung kenapa berdetak kencang lagi? Apa aku besok harus pergi ke dokter spesialid jantung yah? memeriksakan kenormalan jantungku.
Mata Stella terus memperhatikan Aldo yang sibuk meniupi tangannya yang merah.
****
NB: jangan lupa like, komen, vote and rate