
Malam ini terlihat 8 pemuda-pemudi tersebut tengah sibuk menyiapkan acara Bbq-an.
Devano dan Kevin yang menyiapkan tempat pemanggangan, Amanda dan Bianca menyiapkan bumbu-bumbu serta daging yang bakalan dipakai untuk BBQ-An nanti, Bima dan Aldo menghias taman yang akan dipakai untuk acara BBQ-an, serta Stevi dan Stella menanta piring-piring ke karpet yang telah di gelar di taman tersebut.
"Guys ... daging sama bumbu-bumbunya udah siap belum? Biar arangnya gue bakar terus gue tutup pakai panggangan." Teriak Kevin sambil menatap 2 wanita yang sedang mengiris-iris bawang bombai untuk taburan daging panggang nanti.
"Tunggu bentar, dikit lagi bumbunya siap kok." Amanda berteriak tanpa mengalihkan pandangannya dari bawang yang dia iris.
Sementara Stella dan Stevi tengah asik duduk berdua sambil memandang indahnya langit malam, tugas mereka telah selesai jadi mereka memutuskan untuk bersantai- sanatai.
Malam ini begitu indah, warna-warni lampu malam menghiasi taman villa ini
Suasana malam ini sangat mendukung kegiatan mereka, langit malam yang cerah dengan cahaya rembulan yang tersenyum, tiang-tiang dari kayu yang di tancapkan oleh Aldo dan Bima menancap begitu kokoh, dengan lampu-lampu yang dibentang sepanjang tonggak-tonggak itu berdiri, hembusan angin sepoi-sepoi menambah kesan indah malam ini.
Alunan musik bergema di taman ini, mengiringi indahnya suasana malam, petikan demi petikan dimainkan oleh jari lentiknya, dengan suara merdu bak kicauan burung dipagi hari. Ia bernyanyi begitu indahnya bagaikan sebuah intan permata.
Perlahan aku mulai terbuai dengan suasana ini, kulirik semua orang yang ada di sini. Tak ada satupun yang tidak terlukiskan kebahagiaan di wajah mereka. Bahkan orang yang belum pernah kulihat senyumannya, kini juga merik garis bibir itu, melemparkan senyum manisnya yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Kualihkan pandanganku, mengadah ke atas langit, terlihat indahnya bintang yang bertabur di langit malam.
Kuratapi malam ini, ada rasa yang ingin kuungkapkan, namun ku tak tau bagaimana caranya aku menjelaskan, tentang apa yang kurasakan. Perlahan ku pejamkan mata, menikmati hembusan angin malam yang bertiup tidak begitu kencang.
" Stella, bantuin gue bawak nih daging-daging yang udah jadi."
Lengkingan suara seseorang, menyadarkanku dari lamunanan yang menyerang. Perlahan kualihkan pandanganku ke sumber suara tadi. Terlihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam sebahu, mengembangkan senyumannya ke arahku, sambil memegang nampan yang berisi daging-daging yang telah jadi.
"Iya iya, tunggu ...." Aku berdiri dari tempat dudukku, dan berjalan perlahan ke arahnya.
"Nih ... pegel tangan gue tau gak gara-gara nungguin lo." Dia langsung menyodorkan nampan tersebut saat aku sampai, dengan wajah kesal dan bibir yang dikerucutkan, dia menatapku.
"Dih ... wajah lo Bi jelek amat, gak usah dimaju-majukan gitu juga kali bibir lo." Aku bergidik ngeri, seolah-olah wajahnya yang kulihat memang jelek, padahal wajahnya terlihat begitu muda meskipun sebenarnya dialah yang paling tua diantara kami berenam.
"Biarin, habisnya lo lama, kayak siput." Dia menjulurkan lidahnya ke arahku dengan tangan yang terlipat di atas dada, sungguh kelakuannya ini membuatku ingin tertawa keras.
"Tega amat lo ngatain gue siput Bi." Ucapku dengan tampang yang pura-pura sedih.
"Bodo amat ...." Dia mengalihkan pandangannya dengan kasar sehingga rambutnya terkena ke wajahku.
"Dih .... " Aku bergidik sambil tertawa, kemudian berbalik untuk menyajikan daging panggang tersebut.
Saat aku tiba ternyata Bima, Aldo, Amanda dan Stevi telah duduk anteng di atas karpet tersebut, sambil bernyanyi-nyanyi ria meski wajah Aldo sedikit kaku dari yang lain.
"Hai ... sejak kapan kalian di sini?" Tanyaku dengan senyuman yang mengembang.
"Dari tadi Stel, tugas kami udah siap deluan, jadinya kami langsung duduk aja deh di sini." Ucap Amanda.
" Terus, Kevin, Devan, sama Bianca mana?" Tanyaku lagi sambil meletakkan nampan tadi di atas karpet.
"Devan masih ngurusin pemanggangan, terus Bianca masih menyiapkan hidangan penutup untuk kita, kalau Kevin tadi permisi ke toilet sebentar." Jelas Amanda. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti sambil mengambil tempat duduk di antara Amanda dan Aldo.
*****
Acara makan malam telah selesai, the six mouse friends plus two people sekarang sedang menikmati acara api unggun kecil- kecilan.
Suara alunan musik menemani kesunyian malam ini, Aldo yang bermain gitar dengan Devano yang bernyanyi, sungguh kombinasi yang pas. Dua orang yang mempunyai bakat di bidang kesenian itu bergabung, begaimana tidak bagus coba, kombinasi perpaduan itu?"
Tapi semua orang baru mengetahui sekarang, jika dibalik sifat dinginnya Aldo, tersimpan sebuah bakat bermain gitar yang hebat.
Tadi saat semuanya tengah sibuk dengan urusan masing-masing, Aldo mengambil gitar Devano dan memainkannya. Karena tugasnya yang lebih dulu selesai, jadi dia memutuskan untuk bermain gitar saja agar rasa bosannya dapat terusir. Tanpa ia sadari, saat ia memainkan gitar, Devano dan Stella melihatnya, ada rasa kagum di hati Stella saat itu, melihat Aldo yang bermain gitar begitu indahnya, membuatnya bagaikan tak percaya melihat makhluk Tuhan yang begitu kaku dan dingin dapat bersikap semanis itu saat bermain gitar. Sementara di sisi lain Devano yang juga memperhatikannya merasa tertantang untuk melakukan duet dengan Aldo.
Jadi saat tadi makan malam berlangsung, Devano memujuk Aldo agar bersedia duet dengan dirinya. Awalnya Aldo menolak, tapi dengan pujukan-pujukan yang terus di keluarkan oleh Devano, membuat Aldo menyerah dan akhirnya mau berduet dengan dengan dirinya. Jadilah sekarang Aldo dan Devano sedang berduet di hadapan kami semua.
Setelah capek bernyanyi, kami pun memutuskan untuk memainkan sebuah game yang dapat menemani sunyinya malam ini.
"Tapi game apa? " Tanya Stella, semuanya tampak berfikir mencari jawaban atas pernyataan yang diajukan Stella, tapi tiba- tiba ....
"Gimana kalau main trut or dare." Amanda berteriak memberikan usulannya, dia bahkan sampa berdiri sangking semangatnya. Kami menatap Amanda penuh dengan tanda tanya, pasalnya bagaiman mana kami ingin bermain itu, jika alat penunjuknya saja tidak ada
Amanda yang mengerti akan tatapan kami berubah menjadi lesu, ia kembali duduk ke tempatnya, memakan buah-buahan yang ada di hadapannya dengan sangat lahap.
"Guys ... kita bisa bikin bekas botol kecap tadi sebagai alat penunjuknya." Usul Bima tiba- tiba.
Benar juga, kenapa kami tidak kepikiran dari tadi, menggunakan botol bekas itu saja sebagai alat penunjuk pemain.
Seketika wajah Amanda yang tadi murung kembali berubah menjadi seceria mungkin, kami tertawa melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Amanda. Sementara Bima pergi melenggang meninggalkan tempat itu, untuk mencari botol kecap bekas yang tadi mereka buang.
"Guys gue dapat nieh .... " Ujar Bima sambil menggoyang-goyangkan tangannya ke atas.
Kami langsung saja bermain setelah Bima berhasil menemukan botol itu, permainan dimulai dari Amanda, dia memutarkan botol tersebut dan botol itu berhenti tepat di hadapan Kevin.
"Trut or dare? " Tanyanya kepada Kevin, Kevin mengelus-elus dagunya, terlihat jelas jika dia sekarang sedang berfikir mempertimbangkan jawabannya.
"Cepatan ogeb, masih banyak yang ngantri nih. " Ucap Amanda dengan kesal, lantaran Kevin lama sekali menjawabnya.
Setelah penuh dengan pertimbangan akhirnya Kevin berkata " dare." Terbitlah sebuah senyum licik di wajah Amanda, dia menatap Kevin penuh akan arti. Dia tersenyum seraya berkata, " Ambil lipstik gue ini, kenakan itu di bibir lo, habis itu potret diri lo menggunakan hp, kemudian uplod di media sosial yang lo punya, dan satu lagi, itu gak boleh dihapus sampai permainan ini selesai." Ujar Amanda sambil menyodorkan sebuah lipstik berwarna merah, sontak saja Kevin yang mendengarnya langsung membulatkan matanya, ia merutuki dirinya, betapa bodohnya dirinya memilih dare, disaat dia sudah tau permintaan Amanda pasti aneh-aneh terhadap dirinya.
"Gak ada tantangan yang lain gitu? " Amanda menggelengkan kepalanya, terlihat Kevin yang mengambil lipstik itu dengan wajah yang memelas. Dia mengenakan asal-asalan, kemudian mengambil hpnya dan memotretnya.
"Senyum dong, masa ditekuk gitu mukanya, Kamu ganteng loh kayak gitu." Amanda menoel lengan Kevin sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Kevin mendengus kesal, kemudian dia tersenyum dengan senyuman yang dipaksakan.
"Puas lo? " Ucap Kevin sambil menyodorkan hpnye, memperlihatkan bukti bahwa dia telah menguplot fotonya yang terlihat menjijikan. Amanda tertawa puas melihat foto itu. Setelah hukuman Kevin selesai permainan kembali dilanjutkan.
Setelah Kevin, ternyata Devano yang harus kenak, tapi dia memilih trut saat ditanyak oleh Bianca, permainan terus bergilir hingga saatnya kini Stella yang harus memutar botol itu.
"Giliran gue yah .... " ucap Stella sambil memutar botol tersebut. Botol tersebut terus berputar hingga ia berhenti tepat di depan Aldo.
Tanpa basa-basi lagi, ia langsung bertanya kepada Aldo.
"Truth or dare? "
"Truth .... " ucapnya dengan wajah secuek mungkin. Stella mendengus kemudian ia bertanya.
"Kenapa lo jadi orang dingin dan kaku banget?" Stella menaikan alis matanya sebelah dan menatap Aldo dengan intens, ia ingin mendengar alasan apa yang membuat nih anak jadi dingin seperti ini.
"Gak ada alasan, itu udah bawaan lahir." Ucapnya dengan santai sambil mengunyah permen karet.
"Serius lo? Bohong dosa loh," ucap Stella penuh dengan penekanan di akhir kalimatnya. Ia memicingkan matanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Aldo, sesaat manik mata mereka bertemu, tiba-tiba saja jantung Stella berdetak tidak karuan, tidak seperti biasanya, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba muncul perasaan aneh saat menatap matanya? Cukup lama mereka terdiam sambil saling menatap, anak-anak yang lain memperhatikan mereka sambil tersenyum- senyum sendiri.
Deheman Devano menyadarkan mereka berdua, Stella langsung menarik wajahnya dari pandangan Aldo. Niat hati ingin mencari sebuah kebohongan, malah berakhir dengan detak jantung yang tidak karuan seperti ini.
Bukan hanya Stella, ternyata Aldo juga merasakan hal yang sama saat menatap mata Stella tadi.
Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan sulit sekali rasanya bernafas saat wajah Stella terlalu dekat dengan wajahnya. Ade perasaan aneh yang terbesit dihatinya, perasaan yang sama dengan perasaan saat dimana ia menembak Sandra.
Tapi gak mungkin bukan, dia jatuh cinta dengan musuh bebuyutannya hanya dalam satu malam ini?
Aldo menggeleng gelengkan kepalanya, mengusir fikiran buruk yang ada sambil menenangkan detak jantungnya. Sementara Stella, memutuskan untuk mengakhiri permainan ini dengan alasan dia sudah sangat lelah, padahal dia hanya ingin menjauh dari Aldo dan menenangkan detak jantungnya yang tidak stabil.
Permainan ini pun berakhir tepat jam 11.30 dini hari, seiring dengan Stella yang juga sudah meninggalkan tempat itu terlebih dahulu.
***
NB: JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE, MKSH:)