
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
Masa-masa tersulit Sma Garuda telah dimulai. Hari ini adalah hari paling menakutkan dan menegangkan untuk seluruh siswa Sma Garuda sma, karena di hari inilah penentuan masa depan mereka. Apakah mereka lulus dalam menjalani ujian untuk tamat dari sma Garuda atau tidak?
Bahkan siswa yang biasanya terlihat santai saat menjalani ujian kini mulai kelabakkan dan penuh akan kecemasan. Bagaimana tidak cemas coba? hari ini itu adalah hari ujian nasioanal atau yang biasa disebut UN.
Seorang gadis berambut hitam kepirang-pirangan tengah tersenyum manis kepada sosok pemuda berbadan jangkung itu di depan pagar sekolahan.
"Good luck Al," ucap gadis itu dengan manisnya. Tangan Aldo terangkat mengusap pelan kepala gadisnya yang belum berstatus apapun.
"Good luck too, I hope you become the winner in the exam this years," ucap Aldo tersenyum lembut.
"Gue pamit dulu yah," ucap Kayara melambaikan tangannya. Aldo mengangguk dan tersenyum.
Gadis itu berlari menuju kelasnya. Sementara saat Aldo ingin berjalan masuk menyusul gadis itu, seorang siswa berlari dengan terburu-buru, bahkan nafasnya sampai terngah-ngah.
"Al, lo dipanggil kepala sekolah ke ruangannya, katanya ada hal penting yang mau di bicarain," ucap siswa itu setelah berhasil mengatur nafasnya.
Aldo mengangguk dan menyuruh siswa itu untuk kembali ke kelasnya setelah mengucapkan kata terimakasih, agar siswa itu bisa belajar untuk mempersiapkan ujian nasional yang hanya itungan menit saja lagi.
***
Aldo mengetuk pintu ruangan kepala sekolah dan mulai membuka knop pintu setelah kata masuk terdengar dari dalam ruangan.
"Permisi pak, saya boleh masuk?" ucap Aldo sopan. Kepala sekolah mengangguk dan mempersilahkan Aldo masuk.
Aldo berdiri tepat di hadapan kepala sekolah yang sedang duduk di atas sofa itu, "Ada apa yah bapak memanggil saya?"
"Duduk dulu Al, biar lebih enak ngobrol," ucap kepala sekolah menunjuk sofa di depannya.
"Saya mau ngomongin hal penting sama kamu, dan saya yakin kamu pasti senang, karena ini bersangkutan dengan mimpimu." Kening Aldo berkerut, hal apa yang mampu membuatnya senang, selain berada di dekat Stella? dan mimpi apa yang dimaksud oleh kepala sekolah?
Kepala sekolah yang mengerti akan ekspresi Aldo hanya tertawa ringan, dia mulai menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Begini Al, sebelumnya saya minta maaf karena telah lancang mengurusi kehidupanmu tanpa seizinmu." Aldo semakin dibuat penasaran oleh perkataan kepala sekolah yang meminta maaf kepadanya.
"Jadi karena saya selalu memperhatikan cara belajarmu dan saya juga sudah tau kalau orang tuamu mengalami kecelakaan pesawat yang samapai merenggut nyawa salah satu orang tuamu serta membuat ibumu terbaring tak sadarkan diri hingga kini ...." kepala sekolah menjeda kalimatnya, ia menarik nafas dan mulai melanjutkan perkataannya yang sempat terpotong tadi.
"Saya memutuskan untuk mendaftarkan nilaimu di salah satu universitas ternama di dunia, dan alhamdulillah kamu lolos sebagai mahasiswa baru di kampus tersebut." Mata Aldo membulat sempurna. Sumpah demi apapun jantung Aldo berdetak tak karuan, dia tidak bisa menebak perasaannya sekarang. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu.
Senangnya karena mimpinya sekolah dengan kemampuannya sendiri tercapai, ia berhasil sekolah dengan beasiswa-beasiswa yang ia dapat selama masa sekolah, dan sedihnya ia harus pergi meninggalkan pelabuhan hati yang baru saja ia dapatkan, bahkan ia sendiri belum bisa memiliki gadis itu sepenuhnya.
"Dan saya harap kamu tidak akan menolak kesempatan ini," lanjut kepala sekolah.
"Ma–maaf pak, kalau saya boleh tau di universitas manakah saya akan melanjutkan study saya?" tanya Aldo dengan jantung yang berdegup kencang. Ia berharap bahwa universitas yang ia dapat tidak terlalu jauh dengan keberadaan Stellanya.
"Di universitas oxford, Britania Inggris raya," ucap kepala sekolah menatap Aldo penuh harap.
Deg
Aldo tak tau harus bagaimana, apakah dia harus senang atau sedih?
"Al, saya harap kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini," ucap kepala sekolah sembari menepuk pundak Aldo bangga.
Aldo mengguk sambil memaksakan senyumannya di hadapan kepala sekolah. Ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai, setelah pamit permisi dengan kepala sekolah.
Ya Allah hamba harus apa? apakah yang harus hamba pilih ya Allah? mimpi hamba sedari dulu, ataukah wanita yang berhasil membawa hamba keluar dari dunia kegelapan?
Aldo mengusap wajahnya frustasi, ia berjalan dengan gontai menuju ruang kelasnya.
***
Aldo menatap sosok gadis yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya, seketika hatinya merasa senang, namun ia juga tak mampu menahan rasa sakit saat meninggalkan gadis itu nanti.
Stel, jika aku memilih menggapai mimpiku, apakah aku masih punya harapan bertemu denganmu suatau saat nanti?
Aldo berjalan menemui gadisnya itu atau lebih tepat gadis yang menjadi incaran hatinya,karena ia dan gadis itu belum memiliki status apapun kecuali teman dekat.
"Hai Al," ucap Stella yang menyadari keberadaan Aldo. Aldo hanya tersenyum sebagai balasan dari saapan Stella kepadanya.
"Stel, gue sama Bianca nyari Kevin sama Bima dulu yah, soalnya tuh dua curut gak tau kemana, dari tadi pergi kaga datang-datang juga sampai sekarang," ucap Amanda yang sudah menarik tangan Bianca pergi meninggalkan Stella dan juga Aldo berdua.
"Jangan lama-lama yah, ntar gue gak ada teman pas ujian," teriak Stella saat Amanda dan Bianca sudah berada di depan pintu kelas.
Stella mengalihkan pandangannya menatap Aldo, ia tersenyum senang. " Dari mana aja, kok lama bangat ke sininya?"
Aldo tersenyum, ntah mengapa ia sangat suka sekali menatap mata gadis itu dan juga senyum indahnya. Namun lagi-lagi hatinya merasa bimbang kala ia mengingat pertemuannya dengan kepala sekolah tadi.
Akankah gue bisa melihat mata dan senyuman ini lagi suatau saat nanti?
"Gue habis dari ruangan kepala sekolah," ucap Aldo lembut dan tidak seperti biasanya datar tanpa ekspresi.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Stella khawatir. Aldo menggeleng pelan, ia berjalan ke tempat duduknya dan Stella yang merasa bingung dengan perubahan sikap Aldo yang seketika itupun hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah cowo itu.
"Lo kenapa?" tanya Stella to the poin.
Aldo menatap gadis itu dengan sendu, jika ia pergi meninggalkan gadis itu, akankah suatu saat ia kembali bertemu dengan gadis pujaannya ini?
"Gue gak papa," bohong Aldo.
"Jangan bohong, gue tau lo pasti kenapa-napa kalau udah begini," ucap Stella menatap tajam Aldo.
Aldo mendengus, ia tau akan keras kepala Stella, gadis itu tidak akan berhenti beryanya jika ia tidak memberitahukan masalahnya.
"Kepala sekolah tadi mengatakan kalau gue lulus jalur beasiswa di salah satu universitas ternama," lirih Aldo.
"Ooh bagus dong, kan itu mimpi lo selama ini," ucap Stella dengan senang. Andai saja dia tau Aldo lulus di universitas mana, mungkin dirinya bakalan merasakan apa yang dirasakan oleh Aldo.
Aldo tersenyum menatap gadisnya yang tidak tau apa-apa itu.
"Tapi kenapa muka lo muram gini? bukannya seharusnya lo senang yah? kan ini mimpi lo," ucap Stella yang memang sedari tadi penasaran dengan alasan ekspresi Aldo yang muram.
Andai saja lo tau di universitas mana gue lulus Stel. Kalau gue pergi, bukan hanya terpisah antar kota dengan lo, tapi juga provinsi, negara dan juga benua. Batin Aldo meringis.
Aldo tersenyum, hingga bel berbunyi pertanda masuk terdengar membuat Stella dan Aldo harus menghentikan perbincangan mereka.
***
NB: Jangan lupa like,komen dan vote:)
makasih