
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
"Hua, njirr susah bangat soalnya, moga aja nilai gue bagus dah, atau gak setidaknya bisa di bawak ngelamar kuliah lah," ucap Bima frustasi setelah melalui hari pertama ujian nasionalnya.
"Makanya lo belajar yang bagus curut berparas buaya." Bima menatap Kevin yang barusan mengatainnya dengan tajam.
"Ape lo kate? gue curut berparas buaya?" Bima berkacak pinggang, dia tentu saja tidak terima dikatain begitu, meski oleh sahabatnya sendiri.
"Iyah lo mau ape? kan emang benar lo layak buaya, suka bangat baperin cewe tapi gak tanggung jawab," seloroh Kevin asal, mata Bima makin membulat sempurna.
"Sekate-kate aja lo kutil biawak, sini lo kalau berani," ucap Bima yang sudah menaikkan lengan bajunya ke atas.
Di saat keduanya ingin bertarung, Stella dan dua sahabat cewenya menyusun rencana licik dengan saling memberikan kode melalui mata mereka.
Dua buah ember kebetulan sedang berada di dekat mereka, membuat ketiga cewek itu tersenyum licik.
"Satu, dua, tiga," bisik Stella memberikan aba-aba. Langsung saja dua ember itu mendarat tepat di atas kepala dua cecunguk yang ingin berantam itu.
"Woi Bim, lo dimana, tiba-tiba gelap nih sekolah, kayaknya mata gue kabur dah," ucap Kevin sembronoh, sambil merabah-rabah sekitarnya.
"Gue juga, aneh Vin, kayaknya sekolah kita di sihir sama penyihir deh." Bima dan Kevin saling merabah-rabah hingga badan mereka saling berbenturan dan mengakibatkan mereka saling berpelukan.
"Bim, gue tiba-tiba kok kayak ngerasa meluk sesuatu yah?" ucap Kevin sambil merabah-rabah seluruh tubuh Bima.
"Gue juga, bukan hanya merasa memeluk, tapi kayak ada yang raba-raba."
Ketiga cewek cantik itu tertawa lepas dan pergi meninggalkan dua cecunguk yang lagi dilanda kebingungan.
****
Hari-hari ujian nasional berhasil dilalui dengan mulus, walau banyak siswa yang merasa cemas dengan nilai akhir mereka, apakah mereka lulus atau tidak selama tiga tahun belajar di sma Garuda ini.
Semua merasa cemas dan tegang, begitu juga dengan Stella yang merasa sangat khawatir. Bukan khawatir karena dirinya lulus apa tidak, tapi khawatir apakah ia berhasil mewujudkan mimpi sahabatnya yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Seluruh siswa telah berkumpul mendengarkan ceramah dan juga nasehat dari kepala sekolah serta beberapa guru lainnya.
"Dan inilah dia, saat yang ditunggu\-tunggu telah tiba, seluruh siswa sma Garuda dinyatakan ...." ucap kepala sekolah terpotong, yang membuat suasana semakin tegang.
"Lulus." Suara teriakan dan tangisan seketika menggema di langit biru yang menjadi atap sekolah Sma Garuda selama ini.
Seluruh siswa saling berpelukan dan menumpahkan air matanya, begitu juga Stella dan ke empat teman lainnya.
"Stel, apapun yang terjadi selama ini telah berhasil kita lalui bersama dan gue sangat berharap kita tidak akan terpisah satu sama lain meski masalah terus mengguncang kita," ucap Bianca yang di angguki oleh mereka semua.
Kelima sahabat itu saling berpelukan, menupahkan air mata mereka yang sudah lama terpendam. Pandangan mereka semua teralihkan, saat suara microfon kembali berbunyi.
"Oke para siswa harap tenang semuanya, saya tau kalian pasti sedih, tapi kita tunda dulu sedih\-sedihnya nanti lagi yah, sekarang saatnya kita umumkan siswa\-siswi terbaik tahunan, yang berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian," ucap kepala sekolah bersemangat, agar para siswanya mendapatkan kembali semangat yang sempat pudar karena tangis bahagia mereka.
"Siapakah siswa dan siswi kita yang berhasil tahun ini mendapatkan gelar itu??? jeng jeng jeng," ucap kepala sekolah yang berusaha menciptakan suasan tegang dengan suaranya yang menirukan host-host dalam sebuah acara kuis.
"Aldo dan Stella." Suara serokan kembali terdengar, bahkan semakin meriah dengan ditambahnya suara tepukan tangan dari para siswa dan sisiwi yang ikut merasakan kebahagian mereka.
"Stel, lo berhasil wujudtin mimpi Devano," ucap Bianca yang menggenggam tangan Stella, ia bahkan menitikan air mata bahagia melihat sahabatnya yang telah berhasil menunjukkan perubahannya.
"Iyah, gue berhasil Bi, gue berhasil," ucap Stella dengan genangan air mata yang siap tumpah kapanpun.
"Selamat Stel, Devan pasti bangga sama lo," ucap Bima yang langsung menarik kedua gadis itu ke dalam pelukannya, di susul Amanda dan Kevin yang juga ikut memeluk mereka.
"Ayo Stella atau Aldo maju ke depan memberikan sepatah kata kepada kami sebagai salam perpisahan." Suara microfon itu menyadarkan kelima sahabat itu yang sedang asik berpelukan.
"Gih sana maju ke depan," ucap Bianca yang mendorong tubuh Stella agar maju ke podium. Sebelum itu Stella sempat bertanya kepada Aldo melalui matanya, siapakah yang akan maju mewakili kata-kata perpisahan itu, namun Aldo sepertinya memberikan jawaban agar Stella saja yang maju ke depan memberikan sepatah dua patah kata sebagai salam perpisahan mereka.
****
NB: Jangan lupa like,komen dan vote yah,makasih🤗