BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 60



Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍


.


.


Anila bertiup kencang dari ufuk timur menuju barat. Di bawah nabastala yang cerah, spesang pemuda-pemudi tengah asik bermain pasir di tepi bibir pantai.


"Lo tau Stel, hal apa yang paling berharga dalam hidup gue?" sepasang manik mata menatap netra coklat kelabu itu dengan dalam. Keningnya berkerut, "Apa?" tanya gadis itu penasaran.


Aldo menarik tangan gadis itu ke dalam genggamannya. Menyibakkan rambut gadis itu yang menutupi wajah paripurnanya.


"Lo." singkat padat dan jelas, namun hal itu begitu berarti untuk sosok Stella yang sedang merasakan cinta.


Semburat merah muncul di pipi gadis itu. Manik matanya berusaha menghindari netra coklat kelabu yang sedang menatapnya.


"Tapi gue takut Stel." Ia menoleh menatap pemuda itu, "Kenapa?" Dahinya terangkat sehingga membentuk sebuah kerutan.


"Gue takut kehilangan lo selama-lamanya. Gue udah terlanjur nyaman sama lo, dan lo tau hanya lo yang gue miliki di dunia ini, hanya lo Stel," ucap Aldo.


Semilir angin sepoi-sepoi terus bertiup, menerbangkan anak-anak rambut Stella. Manik mata gadis itu menatap nanar kepemuda yang sedang berada di depannya.


"Gue udah pernah janji sama lo kan, kalau gue gak bakalan ninggalin lo sendiri," ucap Stella pasti.


"Iyah, gue tau itu. Tapi ...." sebelah alis mata Stella naik sebelah, sementara Aldo membalikkan badannya dari hadapan Stella, sehingga posisinya kini menghadap ke arah laut.


"Tapi apa Al?" tanya Stella. "Tapi gue takut kehilangan lo selama-lamanya, bukan karena lo yang pergi, tapi gue sendiri," lirih Aldo frustasi.


Stella berjalan menghampiri Aldo, hingga posisinya kini saling berhadap-hadapan dengan pemuda itu. "Maksud lo apa?"


Aldo menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menggapai tangan gadis itu, menatapnya penuh gelabah.


"Lusa gue mau pergi ke inggris, gue mau lanjutin study gue di sana."


Jedar


Seperti petir di siang bolong, hati Stella merasakan sakit yang teramat. Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum hambar.


"Gak mungkin kan Al, lo pasti bercanda," lirih gadis itu. Aldo menggeleng, ia meraih gadis itu ke dalam pelukannya.


"Lo tau Stel, berat untuk gue ninggalin lo, tapi kalau gue gak ngelakuin itu semua perusahaan bokap bisa diambang kehancuran." Stella melepas pelukannya.


"Iyah, tapikan lo bisa kuliah di sini aja Al," ucap Stella dengaj linangan air mata. Aldo menggeleng, "Nggak Stel, gue harus kuliah di inggris, karena gue dapat beasiswanya di sana, kalau gue kuliah di sini, automatis gue harus mendaftar seperti biasa, dan itu pasti harus membayar banyak, dan lo taukan nyokap gue lagi terbaring di rumah sakit, dia perlu banyak biaya, sementara perusahaan bokap gue lagi diambang kehancuran, gue gak bisa ngorbanin uang perawatan nyokap gue demi keegoisan gue bersama lo," ucap Aldo lirih


"Tapi, gue sayang lo Al. Gue gak bisa jauh dari lo," ucap Stella setengah berteriak.


"Gue juga Stel, bahkan lebih dari yang lo bayangkan. Lo tau gak? rasanya kehilangan sosok pelabuhan yang baru lo dapatkan? lo tau gak?" Aldo mengalihkan pandangannya dari tatapan gadis itu. Ia sungguh tak bisa menatap air mata gadis itu.


"Sakit Stel, sakit, hati gue sakit, tapi gue bisa apa? gue harus lakuin itu demi keluarga gue. Bukankah dulu elo yang bilang sama gue, untuk melupakan segala hal buruk tentang keluarga gue dan mencoba menjadi yang terbaik untuk mereka?" Aldo menunjuk hatinya yang tak berdarah, namun menurutnya terasa sakit.


Stella tersenyum sendu, ia menghapus air matanya dengan kedua penggung tangannya, Stella mengangguk, "Jika itu mau lo, maka fine, gue ikhlaskan, gue gak bakalan protes, karena gue tau seberapa penting orang tua bagi anaknya. Sejahat apapun mereka, bagi seoarang anak mereka tetaplah orang tua. Sesering apapun mereka mengecewakan, seoarang anak tetaplah seorang anak. Meski anak itu terus berkata kalau dia membenci orang tua mereka, tapi di hatinya masih tersimpan nama orang tuanya, gue paham itu." Stella menghapus air matanya yang terus berjatuhan membasahi wajah putihnya.


"Stel, maaf," lirih Aldo, namun Stella enggan menatap mata sendu yang bahkan sudah berkaca-kaca itu.


"Gue gak papa Al," ucap Stella yang berusaha tegar. "Lo tenang aja, gue gak bakalan maksa lo tetap stay di sini untuk gue." Aldo langsung menarik gadis itu kembali kepelukannya.


***


Kau memberikanku sebuah harapan, namun kau juga menghancurkannya.


Kau yang memintaku untuk bertahan


namun kau jugalah yang mengusirku dengan cara perlahan.


Mengapa? mengapa hati ini harus tertusuk berkali-kali. Mengapa semua yang kusayang selalu pergi meninggalkanku?


Tuhan, bolehkah aku berharap, akan sosok ini hadir dalam kehidupan di masa depan?


Salahkah jika aku egois untuk memilikinya seutuhnya?


Bolehkah aku memintamu untuk menakdirkanku bersamanya di masa depan?


***


NB: Jangan lupa like, komen dan vote guys😍😍