
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
.
.
"Hu ... hu ... hampir aja," ucap Stella dengan nafas ngosh-ngoshan, perutnya terasa kram di bagian sebelah kiri sehabis berlari tadi.
"Sumpah tu guru nampaknya aja culun, padahal galaknya minta ampun, melebihi ibuk-ibuk, masih mending guru bk gue yang lama, dari pada pak Jono sialan itu." Stella terus saja ngedumel sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri sehabis lari.
bruk
"Duh, apes benar dah gue," umpat Stella sembari memperbaiki posisinya yang sempat oleng karena tertabrak.
"Lo kalau jalan liha ...." Ucapan Stella terhenti melihat wajah yang barusan menabraknya.
"Lo lagi, lo lagi," lanjut Stella sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kenapa sih, dimana-mana yang gue lihat muka lo mulu?" Stella mentap tidak suka pada seseorang yang berada di depannya, sementara yang di tatap hanya mengedikkan bahu secara acuh.
"Gue rasa Tuhan menciptakan mulut lo cuman sebagai pajangan doang yah?" Tatapan tajam menghunus ke arah Stella, sementara Stella hanya menyikapinya dengan cuek.
Pandangan mata seseorang yang tadi menatap Stella beralih kepada kupingnya Stella yang tampak kemerahan.
"Kuping lo kenapa?" Tanyanya acuh, sontak Stella langsung memegang kupingnya yang tadi di jewer oleh pak Jono.
"Ku ... ku ... kuping gue gak papa kok, ngapain lo nanya-nanya gitu?" Ucap Stella dengan sewotnya, ia merasa malu karena Aldo memergoki kupingnya yang merah.
Hu ... ini bocah ngapain sih nanya-nanya kayak gitu, kan gue malu jadinya. Kalau dia tau kuping gue merah gara-gara dijewer pak Jono, bisa turun harga diri gue. Secarakan dia taunya gue anak bad, masak kayak gini doang kalah. Stella membatin kesal kepada Aldo.
"Oh," ucap Aldo seperti biasanya, datar. Aldo berlalu dari hadapan Stella, setelah mengatakan itu, namun ia seperti sedang menuntun Stella untuk mengikuti langkahnya, dan Stella yang paham akan gerak-gerik Aldo langsung mengikutinya dari belakang.
"Kita mau kemana sih?" Tanya Stella yang tidak mendapat jawaban dari Aldo. Melihat pertanyaannya tidak direspon, Stella menjulurkan lidahnya mengejek Aldo sambil terus berjalan mengikutinya.
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah ruangan yang bertuliskan–uks. Kening Stella berkerut, apa lagi maksud anak ini membawanya ke uks.
Uks? Dia mau apa lagi sih? ngapain juga dia bawa gue ke sini? Jangan-jangan ... Ha? pasti dia mau berbuat mesum sama gue, awas aja kalau dia sampai berani, gue remukin tuh tulang-tulangnya.
Stella terdiam di depan pintu uks, sampai sebuah tangan menariknya dan membuatnya terkejut.
"Kita ngapain ke sini?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Stella.
"Lo mau berbuat mesum yah?" Tuding Stella seenaknya, yang membuat lirikan tajam terlontar begitu saja.
"Duduk!" Perintahnya tanpa menghiraukan ucapan ngelantur dari Stella. Stella duduk di kasur uks yang di tunjuk oleh Aldo tadi, sementara Aldo pergi ntah kemana.
"Nih," ucap Aldo.
"Lo bisa baca kan?" Tanyanya acuh, sambil menarik sebuah bangku menghadap ke bangkar uks. Stella mendengus kesal, ia mengambil benda tersebut, kemudianembacanya.
"Obat urut?" Tanya Stella sambil mengalihkan pandangannya ke Aldo.
"Hm ... pakai itu untuk ngobatin telinga lo yang merah," ucapnya seperti biasa, ciri khas seorang Aldo ricardo.
"Nggak ah ... ntar kuping gue bauk lagi, secarakan biasanya yang makai obat urut itu orang lansia, dan lagi baunya gak sedap pasti." Stella kembali menyodorkan obat itu ke Aldo, ia menggelengkan kepalanya pertanda tidak ingin memakainya. Aldo hanya menatap obat itu tanpa mau mengambilnya kembali.
"Pakai!!" Ucapnya, bukan-bukan lebih tepatnya perintah, lagi-lagi Stella menggeleng, ia benaran tidak mau, bukan tanpa alasan Stella tak ingin memakainya, ia pernah mencium bauk obat urut saat neneknya belum meninggal dulu, rasanya itu sungguh memuakkan.
"Lo pakai sendiri, atau gue yang pakain?" Tanya Aldo dengan alis yang naik sebelah. Stella terdiam, ia menatap obat urut tersebut dengan perasaan jijik bercampur kesal.
"Fix," ucap Aldo, yang langsung menarik obat urut itu dari tangan Stella, membuatnya merasa terkejut.
Aldo membuka tutup urut itu, dan menarik kepala Stella mendekat ke arah dadanya, kebetulan Aldo sekarang sedang dalam posisi berdiri, sehingga kepala Stella hanya sebatas dadanya saja, memudahkannya untuk memberikan obat.
"Sakit kampret, pelan-pelan dong," gerutu Stella dengan memukul-mukul dadanya Aldo.
"Jadi orang jangan terlalu keras kepla," meski ucapannya dingin, namun ntah mengapa Stella merasa tersirat sebuah perhatian dari ucapan Aldo, tiba-tiba hatinya menghangat mendengar ucapan sederhana itu.
Dia mendongak menatap wajah Aldo yang sedang mengobati kupingnya.
Tampan .... gumamnya tanpa sadar.
Aldo yang merasa diperhatikan mengalihkan pandangannya menatap Stella, pandangan mereka bertemu untuk sesaat, saling mengunci dan seolah enggan untuk melepaskan.
"Hkem ...." Keduanya tersadar ketika suara deheman itu tiba-tiba berbunyi. Stella langsung mendorong tubuh Aldo menjauhinya.
"Gue cariin lo kemana-kemana, ternyata lo ada di sini Do, sedang mesra-mesraan lagi," ucap seseorang yang langsung merangkul pundak Aldo, tanpa memperdulikan tatapan membunuh darinya.
"Gue gak mesra-mesraan!!" Sergahnya. Orang itu melirik Aldo seperti sedang mengatakan 'oh yah?'
Stella yang tidak mengerti pembahasan mereka memilih untuk pamit mengundurkan diri.
"Gue permisi dulu yah," ucap Stella. Ia melangkah keluar, namun sebelum kakinya sempat benar-benar keluar dari ruangan itu, ia membalikkan badannya.
"Oh yah, thanks yah Al udah mau ngobatin gue," ucapnya, kemudian melangkahkan kakinya benar-benar keluar dari ruangan itu.
****
"Dia siapa yah? Kok gue gak pernah lihat dia sebelumnya? Apa murid baru? Tapi kalau dia murid baru, kenapa dia terlihat seperti sudah akrab dengan manusia es itu?" Banyak bangat pertanyaan-pertanyan yang memutar di kepala Stella sekarang ini, melihat sosok pemuda jangkung dengan paras putih dan hidung yang tidak terlalu mancung.
"Apa mungkin mata gue yang rabun selama ini?" Stella mengedikkan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ia melanjutkan perjalanannya.
****
NB: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE:)