
Setelah bertemu dengan Kepsek sma Garuda, Stella memutuskan untuk pergi ke kelasnya yaitu 11 MIPA1. Tetapi, sayangnya Ia tidak tau di mana kelas 11 MIPA1 itu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga manik matanya mendapati siluet lima orang cowok yang sedang duduk santai di taman belakang. Jadi, dia memutuskan untuk pergi menemui mereka.
"Hkem ... permisi." Kelima orang cowok itu pun menoleh ke belakang lantaran mendengar suara seseorang memanggil mereka.
Betapa terkejutnya Stella melihat salah satu dari mereka.
"Devano?" Stella menunjuk kearah laki-laki yang berada dekat dengan pohon jambu.
Iyah ... salah satu dari mereka adalah Devano, cowok yang mengantarkan Stella ke ruangan kepsek tadi.
"Ngapain lo di sini? Jadi ketemu sama kepseknya? "
"Jadi ... tapi gue gak tau di mana kelas gue, lo bisa bantu gue gak? "
"Emangnya kelas lo di mana?"
" 11 MIPA1"
"Yaudah ayo gue antar, kebetulan gue juga
kelas 11 MIPA1." Devano berjalan deluan meninggalkan Stella di belakang yang masih tak percaya kalau dia satu kelas dengan Devanonya.
serius Devano satu kelas sama gue? Stella terdiam beberapa saat sampai pada akhirnya ia mengejar Devano dan menyamakan langkah mereka.
"Serius ... lo satu kelas sama gue? "
"Iyah kenapa, lo gak suka? " Devano melirik Stella dengan tatapan yang sedikit sinis.
njir ... seriusan gue satu kelas sama dia? sama Devano, hua ... lumayanlah satu kelas sama orang ganteng plus baek, gayanya cool lagi, penampilannya juga nggak ngebosaninlah, rada-rada bad boy–an gitu,
cocoklah sama gue bad girl and bad boy, pasti seru kalau gue sama dia." Batin Stella menjerit-jerit bahagia karena ia tau bahwa dia satu kelas dengan orang yang dia suka.
Iyah ... pada saat awal pertemuan mereka, Stella memang sudah menyukai Devano pada pandangan pertama, namun Stella memutuskan untuk sekedar mengaguminya saja dan tetap bersikap judes kepadanya, bukan tanpa alasan tapi dia memang ingin menjaga image di hari pertamanya ini.
Lagi-lagi Stella terdiam di tempatnya dan Devano yang menyadari bahwa Stella telah tak bersamanya memutuskan untuk berbalik arah.
"Woy ... jangan ngelamun mulu, ntar lo kesambet."
"Eh iya ... iya ...." Stella menjawab dengan gelagapan seperti habis tertangkap basah mencuri kolor mimi peri dari jemuran.
"Cepatan, ntar kita telat masuk kelas, hari ini ada jam pelajaran bu Siti, guru matematika paling galak di sekolah ini, ntar kalau sampe kita telat bisa dikasih hukuman yang gak masuk akal lagi." Stella mengejar Devano yang sudah berjalan deluan meninggalkannya.
Sunyi senyap —itu yang di rasakan Stella dalam perjalanan menuju kekelas mereka sampai pada akhirnya Stella memutuskan untuk membuka suara.
"Hkem ... lo bad boy bukan di sekolah ini? " Stella melirik Devano yang berjalan dengan santainya meskipun dia sendiri yang mengatakan kalau hari ini ada mata pelajaran guru killer.
****
" Dev ... kita telat gimana dong? " Wajah Stella terlihat pucat pasih melihat seorang guru yang sedang menghukum murid di dalam kelas itu, dengan cara berdiri sambil saling mendandani satu sama lain.
Yah siapa lagi kalau bukan Bu Siti si guru killer yang unik, hanya dia yang memiliki hukuman- hukuman aneh seperti itu.
"Udah gak papa, ada gue." Devano melirik Stella sebentar, kemudian masuk dengan santainya ke dalam kelas.
"permisi bu, maaf saya telat, tadi habis nunjukin kantor kepala sekolah sama siswi baru ini, sekalian ngantarin dia ke sini. "
"Yaudah cepat masuk dan kamu berdiri di sini perkenalkan diri kamu " Bu Siti menunjuk kearah Stella yang ingin ikut duduk bersama Devano.
" Baik buk "
Saat ingin memperkenalkan diri, pandangan Stella tertuju pada salah satu murid di kelas itu.
Bukannya dia cowo yang waktu itu ngasih gue duit yah? Tapi masa iya sih gue satu kelas sama dia? Ah benar, tidak salah lagi itu cowo songong itu, lihat aja ntar jam istirahat bakalan gue balas perbuatannya.
"Hari ini kalian beruntung, karena kita kedatangan murid baru, jadi hukuman saya sudahi. " Sontak sorak-sorai kemenangan terdengar dari mulut anak kelas mipa 1, mereka menganggap Stella adalah dewi penyelamat mereka.
" woi anak baru ... kamu memang dewi penyelamat kami," ucap salah seorang cowok yang berpenampilan sedikit urakan.
"Iyah benar, sumpah kalau gak ada lo gak tau gimana nasip kami." sambung salah seorang cewek yang duduk di sebrang kanan bangku cowok itu.
"Sudah semuanya diam, kamu cepat perkenalkan diri kamu."
"Baik bu"
"Hai teman-teman perkenalkan nama gue Stella Pradginita Anindya, kalian bisa panggil gue Stella, gue murid pindahan dari bandung, dan ke depannya gue akan bergabung dengan kalian, mohon bantuannya." Setelah ia memperkenalkan diri, Stella duduk di bangku kosong di dekat seorang anak cewek yang rambutnya dikuncir dua.
Murid-murid 11 MIPA1 menerima kehadiran Stella dengan baik, mereka langsung mengajak Stella bicara saat ia menduduki bangkunya.
" Hai ... perkenalkan nama gue Amanda," ucap Seorang cewek yang menjadi teman sebangku Stella, ia tak lain adalah cewek yang rambutnya dikuncir dua tadi.
"Stella," ucap Stella ramah.
Pelajaran kembali dimulai setelah Stella selesai memperkenalkan dirinya.
*****
~ NB: JGN LUPA LIKE, KOMEN AND RATING,
TERIMAKASIH:) ~