
Setelah kejadian di lapangan tersebut bubar, Stella dipanggil ke kantor untuk menghadap sang kepala sekolah.
"Stella ... apa-apaan kamu ini? Kamu tau,
perbuatanmu itu sudah mencoreng nama baik sekolah kita. Dengan kamu bersikap seperti itu, kamu sudah menunjukkan bagaimana hancurnya kualitas pendidikan di sini. Bisa-bisanya seorang siswi baru di sekolah ini, sampai melawan gurunya sendiri." Seorang pria buncit dengan kumis tebal sedang memarahi Stella yang saat itu tertunduk.
"Tapi pak ...," Stella mencoba menatap sang kepsek, ia berusaha memberikan penjelasan atas kejadian tersebut.
"Saya belum selesai bicara," potong sang kepala sekolah, seketika Stella kembali menundukkan wajahnya.
"Saya tau ..., Juan memang kelewat batas dalam pelajarannya, tapi apakah kamu sadar, status kamu di sini apa? Kamu seorang siswi, tidak sepantasnya kamu bicara begitu lancang kepada pak Juan. Saya tau maksud kamu baik, tapi kamu cukup berbicara bagus-bagus, dan jika dia tidak mau mendengarkan pendapatmu, kamu bisa melaporkannya kepada saya," tutur sang kepala sekolah.
"Mohon maaf sebelumnya pak, saya harus mencela perkataan bapak, tapi tadi sebelumnya saya sudah berbicara baik-baik, hanya saja pak Juan yang ingin mencari masalah dengan saya, dan menurut saya, pak Juan memang harus di perlakukan seperti itu, kalau tidak dia tidak akan sadar, bahwa perbuatannya selama ini sungguh menyiksa murid-murid," tukas Stella dengan memberanikan diri menatap mata kepala sekolah.
Kepala sekolah menghembuskan napasnya dan mengusap wajahnya secara kasar.
"Saya tau itu, tapi kamu bisa melaporkannya kepada saya bukan?" Dengan tangan yang berkacak di pinggang, mata kepala sekolah itu menatap Stella dengan intens.
"Stella, apa kamu tau ... mengapa kamu diterima di sekolah ini? Sekolah bagus dan elit seperti ini apa mungkin menerima siswa dengan catatan buruk seperti kamu? Tidak akan mungkin," ujar kepala sekolah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi Mamamulah yang memohon kepada saya, agar saya mau menampung siswi badung seperti kamu. Kamu tau kenapa mamamu melakukan itu? " Stella menggeleng sebagai jawaban.
"Karena mamamu percaya kepada saya, kalau saya mampu merubah kamu, mamamu adalah sahabat baik saya ketika kuliah, saya tau seperti apa mama kamu. Dia punya harapan tinggi kepadamu, tapi apa yang kamu lakukan di sini? Hanya berantam dan berantam. Apa kamu tidak kasihan dengan mamamu?" Lagi dan lagi Stella hanya bisa terdiam mendengar perkataan sang kepsek.
"Kalau begini caranya, sepertinya saran dari pak Jono harus saya ikuti, saya harus memberikanmu seorang pembimbing yang taat aturan." Seketika kepala Stella terangkat dan matanya membulat sempurna.
"Tapi pak ... Saya janji deh, saya akan berubah." Stella mengangkat kedua jarinya hingga membentuk huruf V, dengan raut wajah yang serius.
"Saya tidak percaya lagi padamu, kemarin kamu juga berkata seperti itu kepada pak Jono, tapi apa buktinya? belum sampai 1 minggu, kamu sudah berulah lagi." ujar kepala sekolah.
"Sudahlah kamu diam di sini dulu, jangan banyak melawan," sambungnya lagi yang membuat Stella hanya bisa pasrah saja.
Kepala sekolah mengambil telepon dari sakunya, ntah apa yang ingin dia lakukan dengan telepon tersebut, tapi sedetik kemudian dia tampak berbicara serius dengan seseorang di sebrang sana, dan tak lama muncullah seorang lelaki yang sangat dibenci oleh Stella.
Tok ... tok ... tok
"Masuk," ucap sang kepsek mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk.
Stella mengernyitkan dahinya, mengapa orang ini bisa ada di ruangan kepala sekolah bersama dengannya.
"Ada apa yah pak, bapak memanggil saya?" Ujar orang tersebut dengan tampang kalemnya.
"Begini Aldo, saya tau kamu orang yang taat peraturan dan bisa diandalkan, jadi saya ingin mempercayaimu untuk sebuah tugas." Kepala sekolah menatap Aldo dengan dalam, dia memegang pundaknya, sementara Aldo hanya menatap kepala sekolah itu dengan heran.
"Menjadi pembimbing Stella." Seolah mengerti arti tatapan Aldo, kepala sekolah segera menjelaskan maksudnya tadi.
Tampak keterkejutan menghiasi wajah kedua siswa tersebut, dan ....
"Nggak mau pak," ucap mereka serempak
Bedanya Stella ngegas dan Aldo kalem.
Kepala sekolah menatap kami bergantian, kemudian bertanya, "Kenapa?"
Keduanya kembali bersuara, "Saya gak suka sama dia," ujar mereka lagi-lagi dengan serentak.
Kepala sekolah menatap mereka dengan bingung, " Yang suruh kalian saling suka siapa? Saya hanya menyuruh kalian untuk menjadi partner kerja sama." Tutur sang kepsek.
"Saya gak mau sama dia pak, dia itu dingin, mana mungkin cocok jadi partner sama saya pak, yang lain aja yah pak," ucap Stella dengan nada memelas sekaligus menyindir.
"Saya juga tidak mau menjadi pembimbing anak badung pak." Aldo berucap dengan tampang yang tetap stay cool.
"Justru itu Aldo, saya mempercayaimu untuk mengubah siswi badung ini menjadi anak yang baik." Kepala sekolah tampak seperti memohon kepada Aldo, tetapi Aldo tidak bergeming sama sekali.
Akhirnya karena putus asa, kepala sekolah mengeluarkan ultimatum untuk mengancam mereka berdua.
"Oke, jika kalian tetap tidak bisa di suruh untuk menjadi partner, maka dengan berat hati saya tidak menaikan kalian kekelas 12 nanti." Keduanya menatap kepala sekolah dengan terkejut, namun mereka segera membalikkan ekspresi mereka seperti semula.
"Saya terima pak," ujar Stella
"Daripada saya tidak naik kelas, terus nanti orang tua saya ngamuk, mending saya terima dia saja." Kepala sekolah nampak tersenyum dengan jawaban Stella, kemudian dia beralih menatap Aldo dan Aldo mengangguk menyetujuinya.
****
NB: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE