
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
"Bukan ...." Aldo menjeda kalimatnya, tampak ia yang memejamkan matanya rapat-rapat, seolah enggan untuk menyampaikan ini semua.
"Dia masih hidup, tapi tak pernah ada buat gue." Aldo menatap foto sang ibu yang tergantung di dinding dekat tangga dengan nanar.
Stella hanya bisa diam tanpa mau bicara sepatah katapun, dia lebih memilih mendengarkan cerita Aldo yang menurutnya orang tersebut lagi butuh tempat untuk bercerita.
"Lo tadi bertanya bukan? Kenapa gue sibuk nyari beasiswa demi sekolah, padahal gue termasuk orang berada?" Aldo menatap Stella dengan nanar, kemudian memalingkan wajahnya lagi menatap foto sang ibu yang sedang tertawa bersama seorang anak cowo.
"Gue gak sudi makai uang itu untuk sekolah gue, gue merasa gak ada gunanya uang dari nyokap dan bokap tanpa adanya kasih sayang dari mereka, percuma juga." Senyuman di wajah Aldo terlihat sekali rasa pedihnya.
"Gue merasa jijik memakai uang yang juga dipakai mereka untuk pasangan brondong mereka berdua." Meski Aldo berbicara dengan tenang, namun Stella mampu merasakan siratan kepedihan dari perkataannya.
"Lebih baik gue nyari besiswa ketimbang harus memakai uang mereka, setidaknya besiswa gue hasilkan dari otak sendiri, tidak memakai uang lucnut itu."
"Mereka juga gak pernah tau, bahwa uang mereka selama ini gue kasih sama bik Lastri. Toh apa pedulinya mereka dengan gue, mereka sendiri sibuk sama pasangan baru mereka. Mereka gak pernah ingat bahwa ada anak yang butuh kasih sayang mereka."
"Lo tau gak? Dulu ada anak kecil berusia 7 tahun yang harus menyaksikan kehancuran keluarganya, tidak ada yang perduli saat itu pada tangisannya, tidak ada yang perduli pada nasipnya, semuanya pergi meninggalkannya, membiarkannya berteman pada kegelapan. Bahkan air mata anak itu tidak mampu menyatukan mereka kembali, meski dia meraung-raung, menarik-narik baju mereka, tapi ego mereka tetap tinggi, mereka lebih memilih meninggalkan anak itu bersama pembantunya, dan pergi bersama pasangan mereka." Stella menatap wajah Aldo yang sudah memerah, air matanya perlahan-lahan mulai luruh, membasahi wajah tampannya.
Seberat itukah hidupnya? Semenyedihkan itukah kisahnya?
Gue gak nyangka, orang yang selama ini terkesan dingin dan angkuh, mempunyai cerita sesedih ini. Gimana nasip anak itu, ketika berumur 7 tahun dia sudah harus berpisah dari orang tuanya, tapi apa? Dia berusaha untuk bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Gue gak pernah nyangka Al, lo ternyata serapuh ini, lo butuh teman, tapi lo seolah tidak membutuhkan itu semua. Gue salut sama lo.
Ternyata kisah gue belum sebanding dengan kisah dia, gue masih punya nyokap yang sayang sama gue, bokap juga pergi demi keluarga kami, dia pergi mencari nafkah untuk kelurga gue juga, kenapa gue bisa bersikap seegois ini, padahal Aldo yang ditinggal oleh kedua orang tuanya aja masih bisa bersikap baik, lah gue cuman ditinggal bokap keluar negri, nakalnya udah nauzubillah.
Stella terus mendengarkan isi hati Aldo, dia tahu Aldo selama ini hanya berpura-pura kuat, dan Stella rela menjadi temannya untuk sementara ini.
"Keluarin semua isi hati lo Al, gue yakin saat ini lo butuh teman, lo itu sebenarnya rapuh, tapi lo hanya berpura-pura kuat selama ini." Stella mendekap Aldo dalam pelukannya, mengusap-usap punggungnya, memberikan kekuatan dan kepercayaannya kembali.
"Lo tau Stel, selama ini gue hanya hidup dengan pembantu dan uang mereka, mereka bahkan gak pernah tau keadaan gue di sini, mereka gak perduli, mau gue sakit, sehat, mati sekalipun mereka gak bakalan peduli. Kenapa Stel? Kenapa mereka tega sama gue? Kenapa gue punya takdir seburuk ini? Apakah gue gak pantas mendapatkan itu semua? Mengapa Tuhan menciptakan gue dengan semua ini? Untuk apa harta itu Stel? Untuk apa? Apa gue gak pantas bahagia?" Aldo terus melontarkan pertanyaan yang Stella sendiri tidak bisa menjawabnya, sambil terus menangis, Stella bisa merasakan dekapan Aldo yang begitu kuat terhadap dirinya, seolah ia sedang menyalurkan beban yang selama ini ia pendam sendirian.
Stella semakin yakin, sikap Aldo selama ini hanyalah untuk menutupi kesedihannya, Stella percaya Aldo orang yang sama seperti mereka, Aldo juga butuh teman dan perhatian. Percayalah sikapnya yang seperti itu hanya untuk mendapatkan perhatian.
"Al, gue mungkin gak bisa jawab semua pertanyaan lo itu, tapi gue yakin Tuhan pasti mempunyai rencana terbaik untuk lo, kata nyokap gue, semakin berat cobaan yang diberikan Tuhan kepada kita, maka semakin besar pula keindahan yang bakalan dia berikan untuk kita nanti." Stella mencoba menenangkan Aldo, dia terus mengusap-usap kepala Aldo yang tenggelam di curut lehernya, sesekali ia juga mengusap pundak Aldo.
Cukup lama Aldo berada di posisi itu, dia seolah enggan melepaskan sandaran yang baru ia dapat, dia seperti menemukan seorang teman yang bisa mengerti dirinya, menemukan pelabuhan tempat ia bersandar, sampai suara seorang wanita paruh baya membuyarkan semuanya.
"Den, minumannya udah jadi, bibik letak di atas meja yah den." Aldo langsung menjauhkan tubuhnya dari Stella, melepaskan dekapan yang terasa nyaman baginya.
"iyah bik," balas Aldo, kemudian ia mengalihkan pandangannya terhadap Stella, keduanya menjadi salah tingkah setelah kejadian itu.
"Hm ... sorry gue kelepasan," ucap Aldo gugup, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Stella hanya bisa tersenyum canggung ke arah Aldo.
"Thanks udah mau mendengarkan cerita gue, ayo minum." Aldo berusaha menetralkan perasaannya kembali. Perasaan yang sempat bercampur aduk, ntah mengapa tadi Aldo bisa merasa nyaman dalam dekapan Stella.
Aneh ... kenapa gue bisa merasa nyaman dalam dekapan gadis ini, kenapa juga gue bisa merasa lega saat bercerita dengan dia, kenapa gue bisa percaya kalau dia tempat yang pas untuk berbagi cerita, padahal Adhitama aja tidak pernah gue ceritain masalah ini, kenapa sama dia bisa? - Aldo
Ada apa dengan perasaan ini, kenapa aku bisa merasakan apa yang dia rasa, kenapa rasanya sakit sekali melihat dia menangis, kenapa juga dekapannya membuatku nyaman, jantung ini juga kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya. _Stella
****
NB: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE,
TERIMAKASIH:)