
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
"Devan awas...." Devano langsung melihat ke depan, sebuah truk dengan muatan batu melaju dengan cepat dari arah berlawanan, truk tersebut kehilangan kendali, sehingga membuat salah satu batu terjatuh ke bawah.
Bruk
Devano membanting stir mobil, sehingga menabrak trotar jalan dan langsung menutupi tubuh Stella dengan tubuhnya yang akan terkena pecahan kaca.
"Aww," Serpihan kaca itu menusuk tepat di punggung dan di belakang kepala Devano, ada raut kesakitan yang terpancar di wajahnya, namun ia berusaha tetap tersenyum di hadapan Stella.
"Stel, gue sayang lo." itu kata yang terakhir kali di ucapkan Devano sebelum ia tak sadarkan diri, karena banyaknya pecahan kaca yang menusuk belakangnya.
Stella tak kuasa menahan tangisnya, ia mendekap Devano yang ambruk diatas tubuhnya.
"Devano!!!" Stella berteriak histeris
Selang beberapa waktu sirene ambulance dan police mulai terdengar memekakkan telinga, membelah kerumunan warga yang hanya menonton dan memvidiokan kejadian itu.
Stella gak habis pikir dengan warga-warga negaranya, kenapa? kenapa disaat seseorang membutuhkan bantuan mereka, mereka tidak ingin menolong dan hanya bisa menontoni kejadian tersebut, hingga memvidiokannya.
Apakah pantas mereka merekam kejadian itu? Dimana hati nurhani mereka? Apakah demi konten bagus, mereka rela membiarkan seseorang terkapar dengan keadaan sakit?
Ambulance datang dan segera melarikan mereka berenam ke rumah sakit.
Sekelebat banyangan nasihat Aldo dan teriakan kakaknya melintas di otak Stella. Ia memejamkan matanya sambil menitikkan air mata, kenapa? kenapa dia harus merasakan ini? kenapa harus mereka yang mengalami kecelakaan maut itu?
Stella benar-benar sudah tidak tahan dengan kondisi tubuhnya, banyak darah yang mengalir dari kepala dan tangannya, meski Devano menghadang tubuhnya, tetap saja serpihan itu masih ada yang mengenai Stella, karena memang batu tersebut menghantam bagian depan mobil Devano, sehingga merekalah yang paling parah terluka. Semua kesadaran Stella telah habis, ia bahkan tidak tau saat ini dirinya telah berada di rumah sakit.
Semua dokter berupaya keras menyelamatkan nyawa Devano dan Stella yang begitu banyak kehilangan darah. Segala macam alat bantu telah terpasang di tubuh mereka.
Dalam alam bawah sadar Stella, ia melihat momy dan papinya yang sedang menangis, memanggil-manggil dirinya, Stella berlari memeluk keduanya, menumpahkan segala kesedihannya.
"Momy maafin Stella," Semua air matanya ia tumpahkan kepada ibunya.
"Papi maafin Stella juga, Stella banyak salah sama papi, Stella belum bisa jadi anak yang baik untuk mami dan papi, papi maukan maafin Stella? Stella udah gak benci sama papi lagi." Stella menatap sang papi dengan mata yang terus mengeluarkan mutiara bening. Satu sentuhan hangat mendarat di kepalanya, memberikan belaian lembut di rambutnya, menatapnya dengan hangat, seulas senyuman terbit di wajahnya, ia menganggukan kepalanya, pertanda bahwa ia telah memaafkan Stella.
"Maafin papi juga yah sayang, selama ini papi pergi gitu aja dari kalian, kalian jadi kekurangan kasih sayang dari papi." Stella langsung mendekap sang papi, ia menangis tersedu-sedu di sana.
Sementara di dunia nyata, dirinya sedang berjuang melawan maut.
"Detak jantungnya melemah, cepat siapkan alat pemompa detak jantung," teriak salah satu dokter yang melihat detak jantung Stella dari alat elektrokardiograf.
Kirana momy Stella yang mendengar berita kecelakaan putrinya langsung terbang kembali ke Indonesia bersama sang suami tanpa pikir panjang lagi.
Begitu terpukulnya ia melihat putri bungsunya yang terbaring tak berdaya dengan alat-alat bantu seperti itu, dengan dokter-dokter yang menemaninya.
"Mas, anak kita." Kirana membenamkan wajahnya di dada sang suami, air matanya tak henti-hentinya keluar.
"Sabar sayang, Stella pasti selamat, dia anak yang kuat, aku yakin itu, jika ia bisa bertahan melindungimu dan menungguku selama 8 tahun, lalu mengapa saat ini ia tidak bisa bertahan." Riko(papi Stella) berusaha menenangkan Kirana yang terus menangis sedari tadi.
"Keadaannya semakin kritis, suntikan lagi cairan linger laktatnya, pompa juga terus jantungnya." Teriak seorang dokter kepada rekannya.
Papi Stella terus memperhatikan ruangan dingin yang sedang di jadikan tempat tidur oleh Stella.
Sayang papi di sini untukmu, cepatlah sadar, momymu sangat mengkhawatirkanmu, bukankah kau tidak suka melihatnya menangis? jangan biarkan dia meneteskan air matanya lagi, papi yakin kamu anak yang kuat, kamu pasti bisa melewatinya.
"Dokter, pasien satu lagi juga sedang mengalami kritis, dia terluka lebih parah dibanding nona ini," sahut salah satu suster disitu.
"Aku akan segera kesana, urus segalanya, terus hentikan pendarahannya, jangan lupa suntikan cairan pengembali PH tubuh."
"Baik dokter." Suster tersebut segera berlalu dari sana.
"Dok ... dok, lihat ini, nona ini menunjukkan progres yang bagus, detak jantungnya kembali normal, pendarahannya juga sudah terhenti, masa kritisnya telah berlalu." seorang suster menunjukkan alat elektrokardiograf, dimana grafik jantung Stella sudah kembali seperti semula.
"Huft, syukurlah, urus nona ini, aku akan segera kembali." Dokter tersebut berjalan meninggalkan Stella menuju ruang Devano untuk membantu dokter lain yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa Devano.
"Baik dok."
***
"Dok, gimana keadaan putri saya? dia baik- baik sajakan? gak terjadi sesuatu kepada dirinya kan dok? " Kirana langsung membombadir dokter tersebut dengan pertanyaan, saat melihat dokter itu keluar dari ruangan.
"Dia baik-baik saja buk, maaf saya harus buru-buru menyelamatkan pasien yang lain," ucap Dokter tersebut, berlalu meninggalkan orang tua Stella di sana.
***
Karena kondisi tubuh Stella yang sudah stabil, ia dipindahkan ke ruang rawat.
Semua orang telah duduk menunggunya sadar kembali.
Bima, sahabat cowoknya yang memang tidak ikut bersama mereka saat itu, langsung menuju rumah sakit dengan terburu-buru saat mendengar kabar bahwa sahabat-sahabatnya mengalami kecelakaan. Bukan hanya Bima tapi Aldo juga langsung ngibrit ke rumah sakit saat mendengar Stella mengalami kecelakaan.
"Tant, om, sabar yah, Bima yakin Stella pasti kuat." Bima mencoba menenangkan orang tua Stella yang terus menangis melihat Stella terbaring lemas tak berdaya.
Ke empat sahabat Stella yang lain tidak mengalami masalah serius, mereka hanya luka-luka ringan dan mengalami syok saja atas kejadian tersebut, sehingga mereka bisa menemani Stella dan keluarganya sembari menunggu Devano selesai operasi.
"Bi, Man, Stev, kalian gak papa kan? gak terjadi sesuatu pada kalian kan?" Bima menghampiri teman-temannya yang masih terlihat syok tersebut, mereka menggeleng, namun Bianca hanya bisa mematung dengan mata yang ingin mengeluarkan air mata.
"Bi, lo gak papa?" Bima menyentuh pundak Bianca, tiba-tiba saja Bianca menangis sejadi-jadinya, Bima menarik Bianca ke dalam pelukannya, mendekapnya dan membiarkannya menangis di situ.
Kevin juga terlihat lunglai di bangku penunggu pasien, ia seperti belum bisa menerima semua ini, Bima benar-benar tidak tahan melihat kondisi sahabat-sahabatnya itu.
Dia menyesal, andai saja dia ikut, mungkin dia bisa merasakan apa yang dirasakan mereka.
Bima menarik semuanya ke dalam pelukannya, memberikan mereka kekuatan untuk bertahan.
"Gue percaya kalian kuat."
***
Nb: Jangan Lupa Like, Komen, Vote dan Rate