
Bel istirahat telah berbunyi, kedelapan manusia dengan sifat yang berbeda-beda itu tengah berkumpul bersama di kantin.
"Hkem ... guys, gimana usulan gue di kelas tadi? Kalian semua setujukan, kalau kita cabut aja pas pelajaran sejarah?" Tanya Kevin yang memecah keheningan mereka semua.
"Emang lo kenapa? Segitunya pengen cabut. Biasanya juga kalau disuruh cabut, lo sok-sokan nyeramahin kami." Sindir Amanda dengan gelagat cuek, sambil memain-mainkan sedotan di gelas juicenya.
"Lo bisa diam gak kutil badak? Gue gak ngomong sama lo," ucap Kevin dengan sewotnya sambil menatap Amanda yang terlihat tengah sibuk dengan minumannya.
"Lo nanya sama mereka, berarti lo nanya sama gue," ucap Amanda, kini kepalanya mendongak menatap Kevin.
"Lagian kan lo tadi ngomongnya guys, gak ada nyebut nama, berarti itu tandanya lo juga ngajak gue ngobrol," tambahnya.
"Iya ... tapikan gue gak minta pendapat dari lo." Kevin berucap dengan geramnya, setiap kata ucapannya ia tekan sehingga terdengar sangar, tapi pelan seperti tertahan.
"Dih ... masih syukur gue acuhin, dari pada lo kenak kacangin." Amanda memutar bola matanya, kemudian kembali memainkan sedotan miliknya.
Terlihat Kevin yang amat menahan amarahnya kepada Amanda, bahkan ia terlihat sedang mengarahkan sendok ke kepala Amanda, namun tertahan.
Kevin menghela napasnya kemudian kembali duduk ke bangku dan meletakkan sendoknya.
"Kenapa? Kok gak jadi mukulnya?" Amanda melontarkan pertanyaan yang mampu menyulut emosi Kevin kembali.
"Lo mau gue pukul benaran? Kalau iya ... siniin kepala lo, biar gue getok pakai palu sekalian." Ucap Kevin dengan sinisnya.
Ditengah-tengah perdebatan mereka Stella menyela, membuat kedua insan itu terdiam.
"Gini aja deh, lo tadi mau ngomong apa vin? Masalah cabut? Kami dengar kok, tapi kami butuh alasan lo, kenapa lo tiba-tiba ingin cabut?" Stella mengalihkan seluruh pandangannya menghadap Kevin.
"Gimana yah Stel," Kevin menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian kembali berujar, "Gue sebenarnya gak punya alasan yang kuat, tapi intinya gue tiba-tiba merasa malas di pelajaran sejarah, mengingat setiap pelajaran sejarah, pak Santoso selalu saja melemparkan pertanyaan sebelum kelas dimulai, menambah rasa malas gue saat jam pelajarannya." Terang Kevin.
Semua pasang mata tertuju pada Kevin, kemudian mereka tergelak melihat ekspresi Kevin seperti orang yang habis tertangkap basa mencuri ******.
"Kalian kenapa ketawa sih?" Ujar Kevin dengan wajah kesal.
"Ha ... ha ... itu ... anu ... ekspresi lo ...." Ujar Bima disela-sela tawanya.
Kevin mendengkus, "Ketawa aja terus, sampai tu perut kram, ntar kalau udah kram, giliran gue yang ketawa." Dengan wajah yang cemberut dan tangan yang terlipat, Kevin memalingkan wajahnya dari kami, melihat meja sudut samping kanan kantin.
"Udah ... udah guys, kasihan Kevin," ujar Stella dengan sisa-sisa tawanya.
"Oke, karena lo tumben-tumbenan ngajak kami cabut, ntah setan apa yang merasukimu, kami setuju," ujar Stella lagi sambil menatap teman-temannya dan mereka mengangguk pertanda setuju dengan ucapan Stella.
"Serius ...." Mata Kevin tampak sangat berbinar sekali, dan kami semua tidak tega untuk menghancurkan kesenangannya itu, tapi tiba-tiba ....
"Nggak, gue gak setuju, terutama lo Stel." Semua pasang mata tertuju kepada sang pemilik suara.
***
NB: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE:)