BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 12



Dikantin


.


.


"Stel lo mau makan apa? "


"Samain aja deh kek lo, tapi minumannya avokado juice." Devano pergi untuk memesan makan yang tadi diminta oleh Stella.


Saat menunggu Devano datang membawa pesanan mereka, Stella memainkan ponselnya sembari mendengarkan lagu dari headsed yang di bawanya. Dia tidak menyadari jika ada beberapa cewek yang menatapnya tidak suka.


" Lihat deh cewek itu, dia bukannya anak baru yah? " Ujar cewek tersebut


" iyah, dengar-dengar dia pindahan dari bandung," sahut teman cewek tersebut.


"Punya apa dia sampai bisa masuk mipa 1, gue yang dari dulu sekolah di sini aja gak bisa-bisa, masa dia murid baru bisa sih."


"Hm ... itu dia, gue juga heran, kelas mipa 1 kan impian para siswi di sekolah ini, banyak coga di situ, cuman yah itu ... masuknya susah, tapi kok bisa yah dia yang anak baru masuk situ?" Ucap seorang sisiwi yang terlihat seperti sedang memanas-manasi.


"Lihat aja nanti, seberapa beruntungnya dia di sekolah ini." Ucap siswi pertama sambil memyunggingkan senyuman sinis.


"He ... lihat aja nanti apa yg bakal gue lakuin samatu cewek kampung, kalau dia berani rebut Devano dr gue. " Ujar Angel sambil menyunggingkan senyum sinisnya.


"Oik ... asik main hp aja nih, nih pesanan lo dah gue bawain makan dulu, main hpnya ntaran lagi. " Devano datang dengan membawa 2 mangkuk bakso, 1 gelas juice avokado dan 1 gelas lemon tea. Ia duduk di samping Stella, dan Stella hanya tersenyum menanggapi ucapan Devano.


Diam-diam Stella memerhatikan Devano yang sedang makan, ia melirik-lirik Devano sekilas sambil terus menyantap baksonya. Stella sangat mengagumi paras wajah tampannya Devano.


"Sumpah nih orang ganteng bangat, udah gitu baik lagi mau nolongin gue waktu itu, mana jago basket, gayanya cool, gak ngebosanin, perfect lah pokoknya, kalau dia nembak gue pasti gue terima, gak bakalan gue pikir-pikir lagi, apa lagi sampai nolak dia," Batin Stella.


"Ngapain lo merhatiin wajah gue? Ada yang aneh yah? " Devano yang merasa di perhatikan terus oleh Stella merasa sedikit risih dan memberanikan diri untuk bertanya.


" Ngg ... nggak kok," Stella gelagapan karena ketahuan telah memerhatikan wajah Devano, ia merasa malu dan menundukkan wajahnya yang telah merah seperti tomat.


"Lanjut aja makannya. " Sambung Stella


Mereka berdua melanjutkan makannya sambil bercerita banyak hal, sesekali mereka tertawa bersama.


Bell masuk telah berbunyi, kini jam istirahat telah usai seluruh siswa sudah kembali ke kelas mereka masing-masing, tak terkecuali Stella dan Devano.


***


"Selamat siang anak-anak," sapa seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah buk Tika, guru ipa biologi.


"Siang buk .... " jawab anak-anak kelas 11 MIPA1 tersebut.


" Hari ini kita akan mempelajari struktur tubuh dari virus yah, tapi sebelumnya ibu mau kalian buat kelompok untuk tugas yang akan ibu berikan berkaitan dengan materi yang kemarin ibuk sampaikan. "


"Baik buk .... " Mereka menjawabnya dengan serentak


" Kelompok pertama yaitu: Aldo, Devano, Bima, Amanda, Bianca dan Stella, tugas kalian adalah mencari fungsi organ-organ dalam sistem organ pernapasan " ujar buk Tika yang mulai membagikan kelompok beserta tugas nya.


" kelompok 2 ...." dan begitulah seterusnya sampai terbentuk 5 kelompok dalam satu kelas tersebut.


"Yes ... kita satu kelompok beibs," ujar Bianca pada kedua temannya. Amanda dan Stella hanya tersenyum menanggapi ucapan Bianca.


Stella senang bisa berada satu kelompok dengan sahabat dan laki laki yang ia sukai, tapi ia juga merasa sedikit canggung lantaran dalam satu kelompok mereka ada Aldo yang terkesan begitu cuek dan dingin, Stella takut bahwa kerja kelompok mereka akan gagal di karenakan komunikasi yang sedikit kurang antara kelompok dan Aldo.


*****


kring ... kring ... kring, bel pulang telah berbunyi hal yang paling di nanti-nanti oleh siswa-siswi sma garuda.


"Anak-anak sampai di sini dulu materi kita, kita lanjutkan pada pertemuan selanjutnya yah."


"Stel ... kita kerja kelompok di rumah lo yah," ucap Bima yang sedang merapikan tasnya, kebetulan meja Bima berada di samping meja Amanda dan Bianca yang berada di depan meja Stella.


"Oke, gue mah welcome aja tapi gimana dengan anak-anak yang lain? "


"Gue stuju," sahut Amanda


"Gue jugak," sahut Bianca


"Lo gimana Dev? " Tanya Stella.


"Gue mah fine-fine aja di manapun gue pasti bisa."


"Oke kita semua dah bisa, tapi gimana dengan tu gunung es" -Amanda.


Stella melirik Aldo sebentar, kemudian berkata pada temannya


" Biar gue yang ngurus tu gunung es."


Stella berjalan menuju mejanya Aldo.


"Woi ... lo bisa gak kerja kelompok di tempat gue?" Tanya Stella dan Aldo hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Stella.


Stella menoleh kearah teman-temannya kemudian mengacungkan jempolnya. Dia kembali berbalik ke arah Aldo


"Oh ya, dendam gue belum terbalas sama lo," bisik Stella yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Aldo.


"Harusnya gue yang dendam, karena lo nempelin permen karet di bangku gue," bisiknya acuh.


"Jangan bilang lo lupa sama gue," Ujar Stella dengan jari telunjuk mengarah kewajah Aldo.


"Emang lo siapa, pejabat, artis, atau siapa yang harus gue ingat?" Aldo mengedikkan bahunya.


"Lo gak ingat sama cewe yang lo rebut taksinya, terus lo kasih uang?" Tanya Stella dengan nada yang sedikit kesal.


"Oh lo cewe itu," ujarnya sambil merapikan buku-bukunya.


"Gue gak terima lo berlagak songong kayak gitu, lo pikir gue orang susah apa? Gak bisa bayar taksi kayak gitu." Wajah Stella kini sudah berubah seperti udang rebus, tangannya terkepal kuat dengan mata yang melotot tajam.


"Serah," Lagi-lagi Aldo mengedikkan bahunya


"Nyebelin bangat sih lo, nih gue pulangin duit lo semalam," Ujar Stella sambil mengeluarkan 2 lembar seratus ribu.


"Oke." Ingin rasanya Stella mengulek wajah yang ada didepannya itu, bagaimana bisa dia bersikap seacuh itu kepada seseorang yang dia rendahin dulu? Untung suara Bianca menyadarkan Stella dari kemurkaan yang besar.


"Oik kalian ngapain bisik-bisik gitu? Jadi pulang gak?" Stella menoleh ke arah sumber suara tersebut, kemudian berkata, "Jadi dong, tunggu bentar," teriak Stella, kemudian dia membalikkan badannya lagi.


"Ingat ... urusan kita belum selesai." Tunjuk Stella


"Serah," ucapnya acuh


"Cepatan Stell," seru Bianca


"Iyah-iyah." Stella membalikkan badannya dan berucap demikian untuk menimalisir kecurigaan teman-temannya , "Oke jangan lupa ntar sore jam 4 ke rumah gue, perumahan Pondok Indah no 24 warna merah, okey? " Stella berlalu meninggalkan Aldo yang masih membereskan barang- barangnya di atas meja.


****


NB: JGN LUPA, LIKE, KOMEN DAN VOTE


MKSH:)