
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
Dengan derap langkah terburu-buru, dua netra beda warna yang memancarkan rasa khawatir terus mencari sosok yang berharga di dalam sebuah kehidupan seorang anak.
Kepala mereka terus memerintahkan matanya untuk mengedarkan pandangan di antara puluhan korban kecelakaan yang membuat banyak air mata berjatuhan.
"Permisi sus, saya mau bertanya, korban kecelakaan pesawat atas nama ...." Stella menghentikan pembicaraannya, ia menoleh menatap Aldo, memberikan isyarat melalui mata untuk memberitahukan nama orang tuanya.
"Fakri Alexander," bisik Aldo malas
"Ibu lo siapa?" bisik Stella juga
"Venita mulidya subarsa,"
Suster tersebut memperhatikan dua orang yang sedang berbisik-bisik tersebut dengan bingung.
"Permisi nona,tuan, nama korbannya siapa tadi?" Stella langsung menoleh saat empunya mendengar suara yang memanggil dirinya.
"Hm ... pasien koraban kecelakaan pesawat atas nama Fakri Alexander dan Venita Mulidya Subarsa ada gak sus?"
"Hm ... sebentar saya chek dulu." suster tersebut mengambil buku yang tertera nama-nama korban kecelakaan yang barusan terjadi. Sementara Stella hanya bisa menatap penuh harap sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja repsesionis.
Suster tersebut mengangkat kepalanya, "Fakri Alexander dan Venita Mulidya Subarsa, yang beralamat jalan Cempaka, kelurahan suroso, Pondok Indah?" Stella menatap Aldo, seolah bertanya melalui matanya, "apakah itu benar?"
Aldo hanya mengangguk acuh.
"Iyah sus," jawab Stella.
"Hm ... atas nama Fakri Alexander kami mohin maaf, nyawanya tak bisa tertolong."
Jleb
Hatinya tertohok mendengar penuturan sang dokter, Stella buru-buru melihat sosok manusia yang rapuh namun selalu berusaha bersikap kuat itu.
"Al ...."
"Gue gak papa," sambungnya cepat.
Mau sampai kapan lo berbohong soal perasaan lo ini? gue yakin lo pasti sakit mendengar kepergian orang tua lo, tapi ego lo selalu aja menghalanginya.
Stella kembali menoleh, "Bagaimana dengan nyonya Venita sus?"
"Nyonya Venita sedang dalam penangan dokter di ruang ICU nona," ucap suster itu ramah.
"Baiklah sus, terinakasih." Stella langsung menarik tangan Aldo menuju ruangan ICU yang sudah ditunjukkan oleh suster tadi kepada mereka.
Sebuah ruangan yang sangat dingin, penuh dengan alat-alat yang sangat mengerikan.
Netra coklat bermanik hitam itu tampak memerah, melihat seseorang yang terbaring di dalam sana. Namun dirinya enggan menitikkan mutiara bening yang mampu membuat hatinya tenang.
"Al kalau lo mau nangis, nangis aja, gue ada kok untuk lo." Stella menarik lengan Aldo mendekat ke arahnya.
"Gue gak bakalan nangis untuk dia yang tidak pernah menyayangi gue." Aldo menggelengkan kepalanya.
"Stop bohongi diri lo Al, mau sampai kapan lo kayak gini? sampai kapan lo mau pura-pura kuat?" Stella menatap netra coklat itu yang menatap lurus ke dalam ruangan tersebut.
Andai lo tau Stel, gue ingin bangat nangis di hadapan lo, tapi gue takut lo bakalan ilfiel sama gue, dan lo bakalan pergi ninggalin gue. Gue gak mau kehilangan pelabuhan yang sudah gue dapatkan.
Mah, bukannya kamu dulu yang ninggalin Aldo? kenapa sekarang kamu juga yang menginginkan Aldo bersamamu, pakai cara seperti ini lagi. Aldo mohon mah, mama jangan seperti ini, Aldo udah dapatkan seseorang yang bisa menjadi tumpuan Aldo berdiri kok, mama bangun dong. Mama gak usah khawatirin Aldo, lagian bukannya Aldo udah biasa sendiri?
Tanpa sadar Aldo menyentuh kaca pembatas ruangan tersebut dengan tangan yang gemetar. Stella memperhatikan itu.
He, gue sudah tebak, hati lo itu sebenarnya baik, mana mungkin lo bisa mengabaikan orang tua lo yang sedang terbaring seperti itu sendiri. Lo itu hanya selalu berpura-pura gue yakin itu .
Stella tersenyum haru melihat reaksi Aldo yang mulai menunjukkan dirinya.
"Menangis lah, gue ada untuk lo." Stella memegang pundak Aldo, menariknya menghadap dirinya.
Aldo menjatuhkan kepalanya di bahu Stella, dia mulai meluruhkan air mata itu, dia mulai menangis, menumpahkan segala beban yang ada di hatinya.
"Stel, apa gue berhak bahagia?" Stella menganghuk sambil mendekap tubuh Aldo.
"Apa gue boleh dapatkan kasih sayang seperti orang lain?" lagi-lagi Stella mengangguk.
"Apa gue boleh membenci orang yang sudah membuang gue?" Stella langsung melepaskan pelukannya, menatap dalam netra coklat itu.
"Dengerin gue baik-baik Al." memegang pundak, "Gue tau seberapa besar rasa kecewa lo terhadap orang tua lo, tapi Al, lo gak boleh terlalu membenci mereka, percayalah apapun yang dilakukan mereka, seburuk apapun mereka, mereka pasti masih menyayangi lo, gue juga pernah ngerasain seperti apa yang lo rasa Al, gue paham, gimana rasa sakitnya, rasa kecewanya, gue tau semuanya, tapi lo gak boleh terkurung dalam dunia itu terus-menerus, ikut gue, genggam tangan gue, ayo melangkah bersama gue menuju dunia yang lebih indah Al." Stella langsung mendekap tubuh Aldo kembali.
"Lo bisa janji sama gue?" Stella mengangguk sambil membelai lembut kepala Aldo yang sedang bersender di bahunya.
"Lo harus janji sama gue, lo harus bisa keluar dari dunia lo yang sekarang?" Aldo mengangguk di dalam curut leher Stella.
"Yaudah, habis ini kita pulang ke rumah, kita siap-siap, nunggu kepulangan mayat bokap lo di rumah, okey?" lagi dan lagi Aldo mengangguk pasrah.
****
Hola readersku, maaf baru mulai up lagi yah
kemarin aku ada kesibukan di dunia nyata, aku ada tugas lain yang harus ku selesaikan🙏🙏🙃
Mungkin akhir-akhir ini aku bakalan susah untuk up, tapi percayalah aku bakalan selalu menyempatkan diri untuk up di sela-sela waktu senggangku😀
Dan aku mohon sama kalian dukungan kalian itu sangat berarti untukku, like, komen,rate bintang 5 dan vote seikhlasnya dari kalian sangat berharga bagiku😊🙏, dengan begitu aku bisa semakin semangat menyelesaikan urusanku dan tetap up di sini.
Jadi aku mohonnya, tolong apresiasi jika kalian menyukai novel ini🙏😍