BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 59



Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhad3038..ap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍


.


.


"Gih sana maju ke depan," ucap Bianca yang mendorong tubuh Stella agar maju ke podium. Sebelum itu Stella sempat bertanya kepada Aldo melalui matanya, siapakah yang akan maju mewakili kata-kata perpisahan itu, namun Aldo sepertinya memberikan jawaban agar Stella saja yang maju ke depan memberikan sepatah dua patah kata sebagai salam perpisahan mereka.


Stella berjalan menuju podium, perasaannya benar-benar campur aduk sekarang, namun satu hal yang pasti, Stella telah berhasil membuktikan kepada sahabatnya bahwa ia mampu berubah.


"Cek 123," ucap Stella memastikan microfonnya.


"Oke baiklah, sebelum saya mengucapkan sepatah dua patah, izinkan saya mengucapkan terimakasih kepada para guru dan teman-teman saya yang sudah mau memberikan bumbu-bumbu kehidupan pada masa sma saya," ucap Stella sambil


membungkukkan setengah badannya kepada para guru yang berdiri di samping podium.


 


"Sebelum itu saya mohon maaf juga kepada pak Jono yang selama ini sudah sabar menghadapi tingkah nakal saya, hingga saya bisa berubah seperti ini. Saya berterimakasih pada bapak yang selalu saja mau nerima saya berkunjung berulang-ulang kali ke ruangan bapak," ucap Stella sambil menatap guru BK–nya itu.


"Dan untuk kalian semua, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, baik untuk kalian yang pernah saya sakiti secara langsung atau yang tersinggung dengan sikap saya tanpa sepengetahuan saya." Stella merapatkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya berkali-kali di hadapan mereka.


"Stel, tapikan kamu udah berubah akhir\-akhir ini," ucapan dari salah satu siswa di hadapan Stella membuat pandangannya teralihkan kepada siswa itu. Stella tersenyum ringan.


"Sebenarnya saya gak berubah, saya masih tetap Stella yang sama, hanya saja saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Stella dengan senyumannya.


 


"Oke langsung saja kita masuk keintinya, jujur saya sulit untuk berkata-kata panjang lebar di depan umum seperti ini, tapi satu hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian, saya mampu seperti ini, berdiri di sini, di atas podium ini dan menjadi yang terbaik di sebabkan oleh dua orang penting dalam hidup saya." Stella menatap semuanya dengan mata yang serius.


"Aldo dan almarhum sahabat saya, Devano. Iyah karena mereka saya mampu seperti ini, ditambah dengan dorongan para sahabat baik saya sperti Bianca, Amanda, Kevin dan Bima."


"Jujur, jika bukan karena wasiat Devano yang menyuruh saya berubah jadi lebih baik dan kesabaran Aldo dalam membimbing saya, saya tidak akan pernah berada dalam situasi seperti ini."


"Kalian tau, piala ini, nilai ini," tunjuk Stella pada penghargaan yang ia dapat, "Seharusnya untuk Devano, bukan untuk saya," ucap Stella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku rela berjuang seperti ini untuk mewujudkan harapan terakhirnya. Asal kalian tau, jika saya diperbolehkan memilih, saya akan pilih menukarkan nyawa saya dengan nyawa sahabat terbaik saya dalam kecelakaan itu."


"Jujur,saya merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka.Dan kalian tau apa yang saya rasakan sekarang? bukan, saya bukan bahagia mendapatkan ini, tapi saya sedih, demi ini saya harus kehilangan salah satu sahabat terbaik saya." Stella mengangkat piala dan sertifikat yang berisi nilainya, menunjukkannya kepada semua orang.


"Kalian tau, seberapa sakitnya perasaan saya kehilangan dia, dan nilai ini tidak berarti untuk saya tanpa kehadiran sosok yang selalu mendukung saya selama ini," Stella mulai menitikkan air matanya.


"Dan dihari ini, tepat dihari kelulusan kita, saya telah berhasil mewujudkan harapan almarhum sahabat saya. Dan piala ini saya persembahkan untuk Devano, sahabat sekaligus orang terpenting dalam hidup saya," ucap Stella dengan keras, emosinya telah membara hingga air matapun harus menitik membasahi pipinya.


Suara tepukan kembali menggema. Air mata bertumpahan mendengar pidato Stella yang begitu menyayat hati.


"Dan teruntuk kita semua, selamat kalian berhasil lulus di jenjang ini, dan saya harap kalian bisa menjadi sosok pribadi yang jauh lebih baik lagi."


 


 


"Stel, lo hebat, gue bangga sama lo," ucap Bianca yang langsung saja memeluk Stella ketika ia sampai di barisan. Stella tersenyum dan membalas rangkulan Bianca, kemudian disusul oleh anak-anak yang lain yang ikut memeluk mereka.


***


Seorang pemuda bertubuh jangkung tengah kelihatan gelisah, ia terus saja berjalan mondar-mandir di depan sebuah rumah mewah bercat merah.


"Hai," sapa seorang gadis yang tiba-tiba saja keluar dari rumah itu.


Pemuda itu menoleh, ia tersenyum manis pada gadis yang tengah menatapnya dengan senyuman manis itu.


"Udah siap?" gadis itu mengangguk, lalu menggapai tangan sang pemuda yang terjulur ke arahnya.


"Kita mau kemana emangnya?" tanya pemuda itu kepada sang gadis yang sedang berusaha memakai helemnya.


"Kuburan, gue mau jenguk Devano, mau ngasih kabar gembira samanya." Pemuda itu mengangguk dan menyalakan mesin motornya, melaju membelah jalanan ibu kota menuju ke pemakaman.


***


"Hai Dev, apa kabar, gue datang ngunjungin lo nih." seorang gadis duduk bersimpuh di dekat papan nisan yang bertuliskan "Devano Aldi Dirgantara". Dia mengusap nisan tersebut dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca.


"Lo tau gak gue kemari bawa kabar gembira apa?" gadis itu masih berusaha tegar meski matanya tak mampu menahan mutiara bening yang jatuh membasahi pipinya. "Gue berhasil jadi anak yang baik, gue berhasil. Dan piala ini gue persembahkan untuk lo Dev, untuk sahabat terbaik gue, yang rela mengorbankan nyawanya hanya demi seorang gadis yang tak pernah bisa mengerti akan perasaannya." Stella mengusap air matanya yang kian luruh ke permukaan wajahnya.


"Maaf, gue belum bisa jadi sahabat terbaik lo selama lo hidup bareng gue." Aldo memeluk bahu Stella, memberikan gadis itu kekuatan. Karena ia tau, setiap kali Stella mengenang Devano air matanya akan kembali luruh mrmbasahi wajah cantik itu.


"Udah Stel, jangan nangis lagi, lo gak mau buat Devano sedih di alamnya sana kan?" Stella mengangguk dan menghapus air matanya. Ia tersenyum menatap makam di depannya itu.


"Dev, lo pernah bilangkan kebahgian gue selalu jadi perioritas lo, dan sekarang gue janji sama lo, apapun yang terjadi gue akan bahagia, demi lo," ucap Stella dengan senyum hambar.


"Dan piala ini juga gue persembahkan atas nama lo, atas nama sahabat terbaik gue." Stella terus menghapus air matanya yang tak kunjung reda. "Udah cukup lo buat gue bahagia, dan sekarang giliran gue yang buat lo bahagia di alam sana."


Aldo memberikan kode melalui matanya, agar menyudahi kunjungan Stella di makam Devano. Bukan tanpa sebab, Aldo tahu kalau semakin Stella berlama\-lama di sini, maka dia akan selalu menangis mengingat Devanonya.


Stella mengangguk kemudian menatap makam itu lagi. "Dev, gue pamit dulu yah, ada urusan, tapi gue janji bakalan sering-sering kemari ngunjungun lo." Stella bangkit dari duduknya di bantu oleh Aldo.


Mereka berjalan meninggalkan makam Devano dan tanpa disadari mereka, arwah Devano tengah tersenyum bahagia melihat gadis cantik itu yang telah berhasil berubah menjadi lebih baik lagi.


***


Wkwkw, maafkan part kali ini kalau semakin absurd yak😂, maklum akukan baru belajar buat novel🙃🙃, pas smp akumah baru belajar buat cerpen, belum novel, jadi wajar yak kalau ambruadul ceritanya😆


BTW aku ada kabar terbaru, ntah itu bahagia menurut kalian atau nggak😂.


Novel ini akan segera tamat dibulan ini🎉🎉, insya Allah sekitar 2 atau 3 chapter lagi tamat🤗🤗, atau bisa jadi bertambah dan berkurang, bisa jadi 1chapter lagi atau bisa juga lebih dr 3chapter😀, tapi intinya novel ini akan segera tamat dibulan ini🎉🎉. yeay😍, siapa di sini yang sudah tidak sabar menantikan novel ini tamat dan novel baru saya terbit dimari?😍


Komen yak, siapa aja sih yang udah gak sabar novel ini tamat?😂