
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah๐ค, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah๐๐
.
.
Terlihat 6 orang keluar dari Mall dengan saling bergandengan sambil menenteng paper bag masing-masing.
Memasuki sebuah mobil sport bewarna kuning yang mengkilau. Terlihat raut wajah bahagia yang tepapar di ekspresi mereka masing-masing. Sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti ini semenjak kepergian Devano yang merenggut tawa mereka.
"Yuhu guys, aing nak bagi rezeki nih, kita makan di resto terkenal daerah sini yuk, gue traktir," ucap Kevin dengan membusungkan dadanya.
"Dih belagu amat lo kambing congek," Amanda memandang sinis Kevin yang terlihat amat sombong hari ini.
"Eh kuntilanak tak berdaster, lo diam aja yah kalau lo iri." Kevin berkacak pinggang, menyipitkan matanya menatap Amanda.
"Eh enak aja lo bilang gue kuntilanak, emang muka gue segitu ngerinya yah?" Amanda ikutan berkacak pinggang, ia merasa tidak terima diejek oleh Kevin.
"Lebih ngeri dari kuyang," ucap Kevin sambil memalingkan wajahnya.
Seluruh anak the geng sixk mouse friends, saling melirik satu sama lain. Mereka sudah terbiasa dengan perdebatan-perdebatan Amanda dan Kevin yang hanya dilatar belakangi masalah kecil doang.
"Pergi aja yuk," ajak Bima yang langsung diangguki oleh yang lain.
1 jam kemudian
"Vin, udahan yuk, gue capek nih," ucap Amanda yang memegangi perutnya.
"Iyah gue ... juga." Kevin juga terlihat sangat mengenaskan, bahkan nafasnya yang tersengal-sengal terdengar cukup keras.
Mereka berjongkok bersamaan saling tatap dan menatap, seolah ada sesuatu yang aneh.
"Vin, ada yang aneh gak sih," ucap Amanda yang melirik Kevin.
"Iyah tapi apa yah?" balas melirik.
"Suara anak-anak kok gak kedengaran," tanya Manda yang membuat bola mata mereka berdua saling menatap dan membulat sempurna.
"Jangan-jangan ...." ucap mereka serempak lalu membalikkan badan
"Tidak!! kita ditinggal." teriak mereka berbarengan sampai menarik perhatian pengunjung lainnya.
"Kampret tuh para curut, pen gue tabok aja," ucap Kevin menggebu-gebu.
"Gara-gara lo nih Man." Kevin menatap sengit Amanda.
"Kok gara-gara gue sih? kan lo yang cari masalah deluan." Amanda balas menatap sengit Kevin sambil berkacak pinggang.
"Lo, pokoknya lo," ucap Kevin tidak terima.
"Lo ..."
" lo ..."
Dan terjadilah lagi perdebatan diantara keduanya.
***
Di sisi lain Aldo pulang ke rumah dengan keadaan kesal sehabis bertemu Sandra.
"Udah pulang den?" sambut Bik Lastri ketika melihat tuan muda yang diasuhnya selama ini pulang kerumah.
"Aden kenapa?" tanya bik Lastri yang melihat wajah tuannya yang muram.
"Gak papa bik," ucap Kevin malas.
Duh gimana ini Gusti Allah, aku bilang gak yah sama si aden, kalau nyonya besar sama tuan besar besok pulang ke rumah. Mana mood si aden lagi gak baik, nanti dia bisa makin gaik baik lagi kalau aku bilang, tapi kalau gak kubilang nanti aden makin gak baik karena terkejut atas kedatangan nyonya dan tuan besar lagi.
Bilang aja lah.
"Den," panggil bik Lastri saat Aldo ingin menginjakkan kakinya di anak tangga pertama.
Aldo menoleh, menatap bik Lastri yang kelihatan gelisah.
"Kenapa bik?" Aldo mendekat ke arah bik Lastri, memegang pundaknya perlahan.
"Hm ... bibik mau ngomong sesuatu sama aden." bik Lastri menatap Aldo ragu-ragu.
"Ngomong apa?"
"Tapi aden janji jangan marah nanti."
"Iyah Apa dulu bik? kalau yang nggak-nggak aku bakalan marah." Aldo menatap bik Lastri dengan serius.
"Kalau gitu bibik gak jadi bicara." keputusan bik Lastri membuat Aldo menghempaskan nafasnya kasar.
"Oke aku gak marah." Aldo melepaskan tangannya dari bahu bik Lastri.
"Den," bik lastri menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu.
"Nyonya sama Tuan besok pulang," bik Lastri langsung mundur ketakutan, ia takut tuan mudanya akan marah, karena ia tau bagaimana reaksi tuan mudanya ketika membahas orang tua dirinya.
"Kenapa mereka datang?" Nada Aldo seketika berubah menjadi sangat dingin dengan ekspresi datar sedatar mungkin.
"Katanya mereka mau jengukin Aden, jengukin anak mereka," ucap bik Lastri ragu-ragu.
"Anak mereka?" Aldo tersenyum sinis.
"Sejak kapan mereka punya anak?" nadanya terdengar sanagat menyayat hati.
Bagaimana gak menyayat coba? dulu dorinya dibuang dan dicampakkan begitu saja, tidak pernah dianggap oleh orang tuanya, jangankan diberikan kasih sayang, dilirikpun dirinya tidak. Lalu sekarang mereka seenaknya saja mengatakan anak. Bukankah waktu itu mereka telah memberikan Aldo pada bik Lastri?
"Aden jangan gitu, gimanapun nyonya dan Tuan adalah orang tua aden." Bik Lastri berusaha menasehati Aldo, tapi Aldo malah tertawa terbahak-bahak.
"Mereka gak pernah punya anak bik, sejak mereka membuangku dan menitipkanku kepada bibik, sejak itupula hak mereka sebagai orang tua telah hilang." Aldo berkata dengan suara getir, bicaranya mungkin terlihat datar, tapi tatapannya tidak bisa membohongi bik Lastri bahwa Aldo saat ini sedang sedih.
"Den ...."
"Udah lah bik aku capek, pengen istirahat." sambar Aldo yang langsung pergi beranjak dari sana. Moodnya yang sudah hancur karena Sandra semakin hancur saat mendengar berita kepulangan orang tua yang sangat tak diinginkannya.
****
Hola guys, maaf aku gak update kemarin karena suasana lebaran yah๐๐๐
Aku dan seluruh keluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan batin๐๐, jika ada kata kata author yang menyakiti hati kalian atau membuat kalian merasa tidak nyaman author minta maaf yah๐ค๐
minal aidzin walfaizin semuanya๐๐.
ooh iyah satu lagi, di episode 44 author udah kasih visual direvisinya, dan udah lolos review mohon chek kembali episode 44 bagi yang penasaran sama visualnya
Jangan lupa like, komen, vote dan rate novel ini๐