
Untuk semua readers maaf kemarin aku gak nepatin janji, awalnya pengen up 3chapterkan, tapi tiba-tiba hape saya mati, pas mau up besoknya saya malah ada acara,di tambah dengan aku ada tugas buat novellet tamat dalam waktu 10 hari, jadi saya mohin maaf yha🤗🤗🙏🙏
dan bakalan saya tebus di hari ini.
.
.
Terlihat seorang gadis berjalan menurunin anak tangga dengan elegan, senyumannya terus mengembang melihat sosok pemuda yang sedang duduk di sofa sambil memandangi leptopnya.
"Hai Al, lagi apa?" Aldo mengalihkan etensinya menatap sosok yang memanggil namanya tadi. Ia tercengang, matanya terus menatap gadis itu dengan lekat, ia benar-benar terpukau dengan kecantikan gadis itu.
Dres merah maron yang membalut tubuh molek gadis itu tampak begitu elegan, ditambah jepitan rembut berwarna putih yang menghiasi rambut hitam kepirang-pirangannya, menambah kesan indah di tubuh gadis itu. Aldo benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya, bahkan ia sempat pangling melihat gadis yang menuruni tangga itu. Pilihannya benar-benar bagus untuk tubuh gadis itu.
Stella tertawa melihat ekspresi Aldo yang tak kunjung juga melepaskan pandangannya.
"Kenapa? kok natapin gue sampai segitunya?" Aldo langsung tersadar dan dengan cepat mengalihkan wajahnya dari pandangan Stella. Ia benar-benar merasa malu karena telah ketauan mengagumi gadis itu sampai seperti itu.
"Hum, siapa yang natapin lo," ucap Aldo tanpa mau menatap wajah Stella. Dia benar-benar salah tingkah sekarang, jangan tanya bagaimana ekspresinya sekarang.
Stella membuang mukanya, mengerucutkan bibirnya sambil mendumel, "Elleh ngeles aja, tinggal bilang lo cantik apa susahnya sih?" Aldo melirik Stella yang menyindirnya dengan sarkas, senyumannya pun terbit. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengangkat sebelah tangannya mengacak-acak rambut Stella yang sudah rapi.
"Apaan sih lo? susah tau ngerapiin rambut cewek, ini udah rapi malah lo acak-acak," ucap Stella dengan kesal, ia menatap Aldo tajam sementara yang di tatap bukannya merasa bersalah malah tersenyum bahagia.
"Kenapa? lo mau marah?" goda Aldo yang semakin membuat Stella kesal. Dia meninju bahu Aldo yang membuat pria itu meringis kesakitan.
"Ya ampun, lo cewek apaan sih," ucap Aldo dengan ekspresi sakit yang dibuat-buat. Padahal aslinya mah Stella tidak meninjunya dengan keras, hanya sekedar berupa dorongan kecil saja.
"Kenapa? jangan pikir mentang-mentang gue udah berubah, terus orang lain bisa gangguin gue seenaknya." Stella memcingkan matanya, bahkan tangannya telah bertengger cantik di pinggang mungilnya. Aldo hanya tersenyum dan lagi-lagi dia membuat suasana hati Stella semakin buruk dengan mengacaukan rambut Stella kembali.
"Udah, katanya mau belajar bareng, kalau marah-marah terus kapan belajarnya? katanya mau jadi murid pintar, biar bisa menuhi janji sama Devano," sindir Aldo yang kemudian menatap leptopnya kembali.
Stella mendengus kesal, ia bangkit dari tempat duduknya menuju meja ruang tamu untuk mengambil perlengkapan belajarnya.
"Bentar, gue tutup dulu leptopnya," ucap Aldo yangg diangguki Stella.
***
Sudah berapa jam mereka menghabiskan waktu bersama untuk belajar. Kini mentari sudah berganti dengan kedatangan bulan yang menyinari, Stella pamit undur diri kepada Aldo dan juga bik Lastri.
"Biar gue antar," ucap Aldo yang langsung mencekal tangan Stella yang sudah berada diambang pintu. Stella menatap Aldo seolah mengisyaratkan 'tidak usah, gue bisa pulang sendiri.' namun Aldo tak semudah itu membiarkan Stella lepas dari genggamannya, dia tetap memaksa Stella agar mau diantar olehnya. Karena keras kepala Aldo, Stella lebih memilih mengalah,agar urusannya cepat selesai. Lagian juga gak ada salahnya dia diantar Aldo, jadi dia gak perlu mengeluarkan uang membayar taxi online.
****
Bintang-bintang yang bertabur indah di atas nabastala malam, menghiasi permukaan bumi dengan kemerlap cahayanya.
Sepasang pemuda-pemudi tengah asik menikmati suasana malam di bawah indahnya cahaya rembulan. Motor mereka terus melaju membelah jalanan ibu kota yang sedang dalam keadaan normal.
Dinginnya angin malam tak membuat romansa mereka padam. Justru membuat kedua insan itu semakin dekat.
Stella memeluk pendak Aldo dan menyenderkannya kepalanya di bahu Aldo. Ia menatapi jalan raya dengan senyum yang tak kunjung lepas. Aldo melirik Stella dari kaca spion dan menarik tangan gadis itu, untuk mempererat pelukannya.
Motor mereka terus melaju kencang, membelah jalanan ibu kota di bawah remang\-remangnya cahaya malam.
***
"Makasih yah," ucap Stella sambil menyodorkan sebuah helem kepada Aldo.
Aldo menerimanya sambil tersenyum.
"Yaudah masuk gih," ucap Aldo. Stella menggeleng, "Lo aja deluan pergi," Aldo mendengus, kalau ia membalas lagi pasti urusannya gak bakalan kelar. Malas banget kalau kisah hidupnya seperti di novel-novel yang pernah dia baca. Menurutnya itu terlalu bucin dan gak sesuai dengan sifatnya, itulah pikirannya.
Aldo tersenyum, kemudian mengelus puncak kepala gadis itu, dan mengecup dahinya. Stella tercengang dengan prilaku Aldo, pipinya merona merah, dia tidak menyangka Aldo akan mengecup dahinya seperti itu.
"Gue pergi yah." Stella mengangguk lemah, dia seolah tersihir dengan keadaan dan hanya bisa mengangguk-angguk seperti itu. Aldo tersenyum dan menjalankan motornya meninggalkan Stella yang masih tidak menyangka akan perbuatan Aldo.
Sementara di sisi lain, Aldo juga merasa aneh dengan dirinya. Kenapa dia bisa berani seperti itu mencium dahi gadis tersebut? dati mana ia mendapat keberanian itu? bahkan jantungnya sendiri juga tidak dapat membohongi, bahwa perasaannya berdetak kencang saat bersama gadis itu.
****
Sekali lagi mohon maaf untuk kalian semua para readersku yah, aku akan tebus janji janjiku semuanya, mohon pengertiannya, ini bukan kemauanku sendiri tidak update sampai 4 hari🤗🤗🙏