
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
Di ruang tamu bik Lastri kebingungan, bagaimana caranya dia menyampaikan kepada tuan mudanya kalau orang tuanya mengalami kecelakaan. Keringat terus mengucur deras dari pelipis bik Lastri. Perasaan cemas, khawatir, takut semua bercampur menjadi satu.
Ya Allah haruskah hamba memberitahukan berita menyedihkan ini pada den Aldo? Hamba tidak tau apakah den Aldo akan sedih atau dia akan cuek, tapi bagaimanapun mereka adalah orang tua den Aldo. Meski hamba yang membesarkan den Aldo, tapi tetap aja hamba tidak ingin membuat den Aldo semakin membenci kedua orang tuanya.
Lebih baik hamba beritaukab saja paea den Aldo.
****
"Nih tangan lo udah gue obati, lain kali jangan **** jadi manusia." Aldo menghempaskan tangan Stella, membuat cewe itu merasa terkejut.
"Jadi gimana?" Kening Stella mengkerut, gimana apanya?
"Kalau gue suka sama lo," ucapnya datar dengan tatapan mata menatap dalam netra hitam mata Stella.
Jantung Stella berdetak dengan cepat, salivanya terasa sulit sekali untuk ditelan, seolah saliva tersebut bukan berupa cairan melainkan batu yang ia telan.
Matanya menghindari tatapan Aldo sebisa mungkin.
"Giman?"
"Anu ... Anu ... itu?" Jawab Stella salting.
Tok ... tok ... tok
Suara ketokan di pintu mengalihkan pandangan mereka berdua.
Siapapun itu yang mengetuk, aku akan bethutang budi kepadamu, karena telah menyelamatkanku dari jawaban yang serasa sulit kujawa**b. Stella membatin senang
Bukannya ia tak mau menerima rasa suka Aldo, dia juga sukak kok sama Aldo, sayangnya ia merasa belum siap dan belum percaya sama perasaannya sendiri. Apakah ia bener menyukai Aldo atau hanya sekedar mengagumi.
Oh sit!!! umpat Aldo dengan suara pelan.
cekrek suara pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang sangat di kenali Aldo.
"Ada apa bik?" Tanya Aldo malas.
"Itu ... anu den ...." Bik lastri meremas tangannya, sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Keringat dingin terus bercucuran membasahi pelilisnya.
"Ada apa bik?" Aldo menatap bik Lastri yang terlihat sedang sangat khwatir.
"Anu den, tuan sama nyonya ...." Aldo memegang pundak bik Lastri memeberikannya ketenangan.
"Kenapa sama mereka, cerita aja bik."
"Anu ... tuan sama nyonya kecelakaan pesawat den." Bik Lastri menutup matanya, enggan melihat ekspresi sedih yang bakalan dirasakan oleh tuan muda yang selama ini dia rawat.
Cukup terkejut batin Aldo, tapi ia mampu menetralisirkan keterkejutan itu. Aldo melepaskan sentuhan tangannya dari pundak bik Lastri, mengembalikkan dirinya ke mode awalnya yaitu datar.
Perlahan-lahan bik Lastri membuka matanya, memberanikan diri melihat ekspresi tuan mudanya.
Ha dia sama sekali tak bergeming. Segitu kecewanya kah dia sama orang tuanya.
Bik Lastri heran mengapa Aldo sama sekali tak bergeming saat mengetahui bahwa orang tuanya mengalami kecelakaan.
"Den, aden gak papa?" bik Lastri memberanikan diri bertanya pada tuan mudanya.
"Emangnya aku kenapa bik?" Aldo menatap bik Lastri dengan tatapan yang sulit di artikan
"Aden gak ngerasa apa-apa gitu?"
"Hm ... emang aku harus bagaimana bik?"
Yaampun rasa kecewa tuan muda sudah teramat sama nyonya dan tuan
Bik lastri menatap netra coklat yang berusaha menghindari tatapannya.
Kenapa aku harus sedih, bukankah mereka tak pernah menginginkanku?Tapi hati ini gak bisa berbohong, kenapa rasanya aku sangat ingin menemui mereka? sedangkan mereka tidak pernah peduli padaku.
"Eh bik Lastri, ada apa bik?" tanya Stella
"Nih non, tuan saa nyonya kecelakaan pesawat." Mata Stella membulat sempurna
"Dirumah sakit mana mereka dirawat bik?"
"Mutiara bunda non." Stella langsung menarik tangan Aldo, namun Aldo sama sekali tidak bergeming di tempatnya.
"Al ayo." Stella menatap panik ke arah Aldo tapi yang ditatap hanya memasang wajah cuek.
"Malas, kalau mau pergi–pergi aja sendiri" Aldo berbalik memasuki kamarnya. Stella menatap bik Lastri yang terlihat sedih, dia menenangkan bik Lastri sambil memberi isyarat melalui matanya bahwa ia akan membujuk Aldo.d
"Al pergi lihat orang tua lo yok." Ajak Stella yang sudah duduk di tepi ranjang Aldo.
"Malas," sahutnya yang langsung menyambar erphone dan mengenakannya.
Stella menyambar earphone tersebut, mencampakkannya kesembarang tempat.
Kedua netra mata beda warna saling beradu, menyiratkan keinginan mereka satu sama lain.
"Gue mau lo ikut gue ke rumah sakit!!!" Stella menekankan setiap perkataannya.
"Gak!"
"Al!!!" Stella berkacak pinggang
"Gue malas." memalingkan wajah.
"Al mereka itu orang tua lo da ..."
"Gue gak punya orang tua!!" sambar Aldo langsung memutus perkataan Stella.
Stella melotot tajam.
"Lo masih punya orang tua."
"Orang tua gue udah mati lama sejak gue hidup sama bik Lastri tanpa kasih sayang orang tua kandung gue."
"Al gue tau perasaan lo, tapi lo gak bisa gini, gimanapun mereka orang tua lo."
"Lo tau apa?" Aldo tersenyum sinis.
Nih anak!!!
"Gue tau segalanya tentang lo. Tentang lo yang selama ini berpura-pura kuat padahal rapuh. Lo gak bisa bohong dari gue, mata lo menyiratkan bahwa lo sangat khawatir pada mereka, tapi ego lo lebih besar dari segalanya. Tutup lembaran lalu dan bukalah lembaran yang baru. Gue udah janji sama lo bahwa gue bakalan nemanin lo kan? jadi lo gak perlu takut membuka lembaran baru, gue bakalan terus ngedukung lo" ucap Stella berapi-api.
Aldo menatap Stella, bagaimana cara gadis itu menyimpulkan segalanya sendiri, tapi hampir semua yang dia bilang itu bener adanya.
"Kenapa lo bisa ngomong gitu." Suara Aldo tiba-tiba serak.
hum hembusan nafas.
"Al" menggenggam tangan Aldo, menatap lembut kearahnya.
"Gue percaya lo anak yang baik, lo gak bakalan setega itu sama mereka, gue percaya itu, dan gue mohon jangan hancurkan kepercayaan gue."
"Tapi bagaimana dengan mereka?apakah mereka tega ninggalin anak usia 7 tahun sendirian? meski anak itu sudah meraung menahan mereka apa mereka peduli? apa mereka pernah datang saat anak itu sakit atau terluka?" mata Aldo sudah memerah, namun ia masih berusaha agar air matanya tak tumpah.
"Al, kalau lo kayak gini, apa bedanya lo sama mereka?" Mentapa lembut.
"Tapi lo gak pernah tau rasanya saat lo membutuhkan seseorang, tapi tak ada yang ada perduli termasuk orang tua lo."
"Sebab itu gue suruh lo datang temuin orang tua lo. Lo taukan gimana rasanya saat kita butuh seseorang tapi tak ada satupun yang ada untuk kita."
Aldo menghempaskan nafasnya kasar, akhirnya ia menyerah melawan Stella, ia tidak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Ikut gue yah ke rumah sakit." Aldo menganggukan kepalanya.
***
NB: Jangan Lupa Like, Komen, Vote And rate