
Setelah selesai berbincang, mereka berdua pamit permisi kepada sang kepala sekolah untuk kembali ke kelas.
"Terus saja membuat masalah, dan yang terkena imbasnya jadi gue." Sindir Aldo, meski pandangannya ke depan, namun Stella tau yang disinindir Aldo pastilah dirinya.
"Eh muka datar, lo pikir gue mau gitu dibimbing sama lo, kagak!" Ketus Stella dan Aldo hanya tetap memasang wajah cueknya.
"Menyusahkan," ujar Aldo sebelum ia benar-benar menjauh dari Stella. Stella berusaha mengejarnya untuk menyamakan langkah mereka.
"Eh tunggu dulu muka datar, lo bilang apa tadi? menyusahkan?" Stella merentangkan kedua tangannya sambil berjalan mundur di depan Aldo.
"Hm ...." Aldo hanya berdehem menjawab pertanyaan Stella.
"Idih ... sombong amat, bicara aja pelit apalagi dengan hal yang lainnya, masih mending gue, menyusahkan dari pada lo? pelit," ujar Stella dengan menekankan kata menyusahkan dan juga pelit.
Aldo menatapnya dengan sinis kemudian berlalu meninggalkan cewe tersebut dengan segala sumpah serapahnya.
"Dasar ... manusia es." Ujarnya.
Stella kembali berjalan ke dalam kelas menemui sahabat- sahabatnya yang tidak lain adalah the six mouse friends.
****
"Stell, lo gak kenapa-kenapa kan?" Ujar Bianca saat melihat Stella memasuki ruang kelas.
Semua sahabatnya langsung menghampirinya ketika ia memasuki kelas.
"Gue gak papa." Stella memeluk Bianca untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Kepala sekolah tadi bilang apa sama lo?" Sahut Devano.
"Yah gitu ..." Ujarnya santai
"Gitu gimana Stell?" Tanya Bianca
"Jangan bikin kami penasaran deh," sambung Amanda.
"Yah di ceramahin, apa lagi rupanya." ucapnya acuh.
"Huft ... syukurlah," ujar mereka serempak.
"Kami pikir lo bakalan di D.O lagi," ucap Bima dengan senyum manisnya.
"Emang gue gak di D.O tapi hukumannya lebih berat dari itu." Semua menatap Stella meminta penjelasana.
"Dikasih guru pembimbing." Sontak semuanya menatap Stella dengan jengkel, hukuman seperti itu dibilang lebih parah dari pada di D.O? Sungguh Stella benar-benar sudah tidak waras lagi. Begitulah batin mereka.
Stella yang mengerti arti tatapan teman-temannya langsung menjelaskan semuanya.
"Masalahnya pembimbing gue si muka datar Aldo." ucapnya memberi keterangan.
"Ha? Serius lo?" Begitulah perkataan yang keluar dari mulut mereka, jika mereka saja terkejut, gimana dengan Stella tadi?
Stella hanya mengangguk membenarkan perkataannya.
"Ya Allah bebeb gue, kasihan benar." Ujar Kevin yang langsung mendapatkan plototan dari semuanya.
"Apaan lo Vin, orang lagi kesusahan, lo malah bersikap konyol gitu," sergah Amnda.
"Cie ... ada yang cemburu," goda Bima.
"Idih ... apaan gue cemburu sama buaya darat kayak dia, najis amat." Ujar Amanda dengan tampang pura-pura jijik.
Disaat semuanya sedang asik ribut, Stella mendatangi mejanya Aldo.
"Woi ... gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ujar Stella dengan tangan yang dilipat
di dadanya.
"Ngomong aja." Ucapnya acuh.
"Gue gak mau lo nanti semena-mena sama gue, mentang-mentang lo jadi pembimbing gue." Ucap Stella dengan alis yang terangka sebelah.
"Lihat saja nanti," ujar Aldo sambil mengedikkan bahunya acuh.
Ingin rasanya Stella menggebuki Aldo saat itu, melihat responnya yang sangat acuh, padahal Stella sudah menurunkan gengsinya tadi, untuk berbicara baik-baik kepada Aldo.
Tapi apa? Manusia itu seperti es di Kutub Utara yang sangat dingin dan sulit untuk disentuh. Sayangnya guru tiba-tiba masuk ke kelas membuat niat Stella terurung, dan kembali ke bangkunya.
"Awas aja lo, urusan kita belum selesai," ujar Stella sebelum ia benar-benar meninggalkan meja Aldo.
****
NB: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN SHERE.