BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 39



Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍


.


.


Lapor komandan, misi saya sudah selesai. Dia sudah bertemu dengan pasangannya. Saatnya saya pamit undur diri.


🌺🌺🌺🌺


Semua orang sedang menunggu Stella membuka matanya, sementara Stella masih tersesat di bawah alam sadarnya.


"Aku dimana?" Stella celingak-celinguk melihat keadaan sekitarnya, ia tidak mengenali tempatnya berada sekarang.


Sebuah ruangan yang minim akan pencahayaan dan didominasi oleh kegelapan.


samar-samar Stella melihat seseorang yang sedang memunggunginya.


"Hei, apa kamu tau ini dimana?" Stella mencoba mendekati sosok tersebut dan bertanya kepadanya, namun orang tersebut malah berjalan dan seolah ingin menuntun Stella untuk mengikutinya.


"Hei tunggu dulu." Stella mencoba mengejar sosok tersebut, saat ia berhasil menggapainya orang tersebut menoleh dan membuat Stella membelalakkan matanya terkejut.


"De ... devano?" Stella bertanya ragu-ragu pada sosok tersebut, tapi sosok itu malah tersenyum dan kembali berjalan.


"Tunggu gue Dev, gue gak tau tempat ini." Stella kembali berlari mengejar Devano yang semakin menjauh darinya.


"huh," Stella menghembuskan nafasnya terengah-engah, setelah dia rasa tenang, dia mengangkat kepalanya dan menatap Devano.


Wajah pucat pasi dengan bibir yang tak semerah dulu, mata sayu dengan senyum yang masih sama seperti dulu manisnya, terpampang pertama kali saat Stella mengangkat wajahnya menatap Devano.


"Dev, wajah lo kenapa pucat gini?" Stella mengangkat tanganya mengelus wajah Devano yang terasa begitu dingin dipermukaan kulitnya.


"Lo sakit yah? badan lo juga dingin bangat gini." Stella menatap dengan lekat ke wajah Devano, lagi-lagi senyuman itu yang di lihat Stella, Devano menggelengkan kepalanya, mendekat dan membawa Stella ke dalam pelukannya.


"Maafin gue, gue gak bisa jagain kalian lagi." Devano melepaskan pelukannya dan ingin segera beranjak dari sana, namun Stella menahan pergelangan tangannya.


"Kenapa? Lo gak mau main sama kami lagi?" Stella menatap Devano dengan kening mengkerut, sementara Devano hanya menggeleng dan menampilkan senyuman itu lagi.


"Gue sayang sama kalian, terutama sama lo


tapi waktu gue udah habis, gue harus kembali, jaga diri kalian baik-baik yah." Tiba-tiba kepala Devano mengeluarkan darah yang membuat Stella paniknya minta ampun.


"Kepala lo kenapa Dev?" Stella berusaha menyentuh kepala itu namun tangannya ditahan oleh Devano. Devano menatap Stella dengan hangat, kepalanya lagi-lagi menggeleng dengan seulas senyum terbit di bibirnya.


"Gue gak papa, lo harus janji sama gue, kalau gue udah gak ada lo harus berubah yah, jangan jadi murid badung lagi." Devano memeluk tubuh Stella terakhir kalinya, kemudian menghilang begitu saja.


"Devano!!!"


Stella tersadar dari tidurnya, ia menatap keselilingnya, sudah banyak orang berkumpul di ruangannya.


"Sayang, kamu sudah bangun, ada yang sakit gak? " Kirana menatap putrinya dengan sangat khawatir.


"Devano mana?" Stella menatap mereka semua meminta jawaban.


"Devano mana? Kalian bisa jawab gak sih?" Suara Stella sudah sedikit meninggi, kala ia melihat tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya.


Hening senyap, tak ada yang berani menjawab pertanyaan Stella.


"Kalau kalian gak mau jawab, biar aku saja yang pergi mencek keadaannya." Stella sudah membuka selimut rumah sakit yang membalut tubuhnya, dengan perasaan khawatir yang teramat sangat, Stella berlari keluar tanpa mendengarkan teriakan-teriakan orang yang melarangnya.


"Mas anak kita mas," ucap Kirana dengan genangan air mata, yang siap menetes kapanpun.


"Tenang–tenang sayang, aku akan pergi mengejarnya." Saat Riko ingin mengejar Stella, tiba-tiba Aldo berkata yang membuat Riko menghentikan langkahnya.


"Biar saya saja om, om jagain tante aja," ucap Aldo yang mendapat anggukan dari Riko.


Setelah mendapat persetujuan, Aldo langsung mengejar langkah Stella yang mencari-cari ruangan Devano seperti orang kerasukan.


"Devan ... Devan, kamu dimana," Stella terus mengecek setiap ruangan sambil berteriak-teriak seperti orang gila, jika ia tidak menemukan Devano di ruangan tersebut dia akan menutupnya kembali sambil meminta maaf.


Aldo yang melihat kejadian itu merasa sangat tersakiti, ntah mengapa saat ia melihat keadaan Stella yang seperti itu, hatinya terasa seperti tertikam belati, sangat menyakitkan.


Aldo menarik tangan Stella dan mendekapnya, berusaha memberikan ketenangan dan juga kekuatan untuk gadis yang mengisi hari-harinya akhir-akhir ini.


"Tenang Stel, tenangin diri lo, nanti kalau lo udah tenang gue tunjukin Devano dimana." Aldo mengelus rambut Stella dengan lembut, membiarkannya menumpahkan segala rasa sakit dan khawatirnya.


"Devan Al, Devan." Kata itu terus terucap dari bibir Stella saat berada di dekapannya. Ntah mengapa mendengar nama Devan dari gadis itu, membuatnya merasakan sesak.


Aldo melepaskan pelukannya, menghapus air mata Stella dengan ibu jarinya.


"Gue bakalan pertemuin lo sama Devano, tapi lo harus janji sama gue, lo gak bakalan seperti ini, lo harus tenang dan gak buat kericuhan." Stella menganggukan kepalanya, menyetujui syarat yang diberikan Aldo.


Mereka berjalan keruangan ICU, tempat dimana Devano berbaring dengan segala alat bantuan medis.


Stella menatap sosok Devano yang terbaring lemas tak berdaya di ruangan itu dari kaca yang berada di pintu tersebut.


Perlahan air mata luruh membasahi pipinya, ia tak kuasa melihat seseorang yang terbaring tak berdaya di dalam sana hanya demi menyelamatkan nyawanya.


Andai saja waktu bisa diputar, Stella ingin menggantikan Devano disana, tidak membiarkannya menyelamatkan hidupnya dengan mengorbankan nyawanya sendiri.


"Dev, lo gak bakalan ninggalin kita kan," lirih Stella. Aldo langsung mendekap Stella kembali.


"Lo udah janji sama gue, bakalan tenang dan gak akan bersikap seperti tadi saat bertemu Devano kan?" Stella menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengucur membasahi pipinya.


Semua sahabat Stella tiba-tiba saja datang, saat Stella fokus menatap Devano dari kejauhan.


"Stel, lo harus kuat, kita juga sama di sini sangat khawatir sama Devano." Amanda merangkul pundak Stella, dan disusul yang lain, mereka sekarang sedang dalam keadaan berpelukan menumpahkan rasa sedih yang membelenggu perasaan mereka.


Tiba-tiba saja tangan Devano bergerak, Bima yang menyadarinya deluan langsung memanggil dokter.


"Dok ... dok, tangan teman saya bergerak." Semua pasang mata di sana tertuju pada tangan Devano, dan benar saja tangan Devano bergerak sedikit-sedikit.


Dokter langsung datang dan memeriksa keaadaan Devano, ada yang aneh menurut dokter itu, ini seperti sebuah keajaiban.


Dimana kondisi detak jantungnya melemah, tetapi kesadarannya seperti meningkat.


Tiba-tiba saja dokter keluar, ia menyuruh mereka semua masuk ke dalam atas permintaan Devano.


"Pasien meminta kalian semua untuk masuk ke dalam," ucap dokter tersebut.


Saat mereka memasuki ruangan tersebut, Senyum manis Devano yang pertama kali mereka lihat. Stella langsung berlari ke arah Devano, memeluknya dan menumpahkan rasa khawatirnya.


"Devan, gue sangat khawatir sama lo, kenapa sih lo ngelakuin ini semua, kenapa gak lo biarkan gue aja yang kenak serpihan kaca itu," Stella terisak sambil memeluk Devano. Devano membelai sayang rambut Stella, melepaskan dekapan Stella dari tubuhnya.


Stella menatap Devano yang menggenggam tangannya sambil tersenyum, wajahnya yang pucat tidak menghilangkan aura keceriannya.


"Stel, ini bukan salah lo, ini mungkin udah takdir gue, lo jangan pernah nyalahin diri lo sendiri yah." Devano menatap Stella dengan hangat, meski kondisi tubuhnya yang lemah, ia tetap berusaha terlihat kuat di hadapan teman-temannya.


"Ada yang ingin gue sampain sama kalian semua, mungkin ini hari terakhir pertemuan kita sebagai sahabat, mungkin gue besok gak bakalan ada lagi bersama kalian." Devano menatap seluruh temannya dengan senyuman.


"Gue berharap kalian bisa menjadi sahabat yang baik, bisa saling melindungi, karena gue gak bakalan bisa lagi ngelindungin kalian," lanjutnya lagi.


"Emang lo mau kemana Dev?" Tanya Amanda.


"Gue mau balik," ucap Devano dengan senyuman


"Kan lo belum sehat," kini Stella yang berkata.


Devano tersenyum kemudian melanjutkan perkataannya.


"Bim, gue titip sahabat-sahabat cewe kita yah, diantara lo dan kevin, kan lo yang pande berantam, jagain mereka yah, jangan biarkan mereka terluka, gue percaya sama lo."


"Apaan si lo Dev, lo kan juga jago berantam, kita sama-sama lindungin mereka lah, masa gue aja yang lindungi mereka." Bima memukul pelan bahu Devano.


"Gue takut gak bisa jagain mereka lagi," Devano menjawab dengan senyum dari bibir pucatnya.


"Lo bisa Dev, gue yakin, jangan kayak orang gak mampu berantam aja lo." Bima masih meyakinkan Devano.


"Vin, lo juga harus jagain mereka yah, buat mereka rajin belajar kayak lo lagi, jangan terpengaruh untuk cabut lagi yah, bantu mereka juga saat menjawab pertanyaan sulit dari buk Siti." Devano sedikit tertawa kecil saat menyebutkan nama buk Siti.


"Apaan si lo Dev, gak jelas ih," ucap Kevin.


"Hehe, ntar kalau mereka gak bisa jawab pertanyaan buk Siti, mereka bisa-bisa disuruh joget-joget lagi di lapangan." Devano masih berusaha tertawa di tengah-tengah kondisinya yang rapuh.


Devano kembali menatap Stella, ia menggenggam tangan wanita yang selama ini sebenarnya ia sukai.


"Stel, ada yang mau gue bilang sama lo sebelum gue pergi, tapi lo jangan marah yah." Stella menganggukan kepalanya, mengiyakan peryataan Devano.


"Sebenarnya dari awal pertemuan kita gue udah suka sama lo, cuman gue gak berani ngungkapinnya, gue takut lo hanya menganggap gue sebagai sahabat lo doang." Devano mulai menitikkan air matanya.


"Tapi sekarang gue harus ngungkapin itu, gue takut gue gak bakalan bisa ngomong perasaan gue sama lo besok-besok"


Aldo yang mendengar pernyataan cinta dari Devano, tiba-tiba ntah mengapa perasaannya merasa panas, seperti tidak terima.


"Lo tenang aja, gue gak bakalan buat lo bersama gue, gue bakalan pendam perasaan ini, dan membawanya pergi bersama gue." Tatapan mata Devano terlihat sangat jelas sebuah ketulusan.


"Lo apaan sih, dari tadi ngomongnya mau pergi, emang lo mau pergi kemana?" Stella menatap Devano pura-pura kesal.


Devano tersenyum dan melanjutkan perkataannya, "Gue mau lo berubah jadi baik, jangan sering cabut dan buat masalah lagi di sekolah, gue gak bakalan bisa lindungi lo lagi dari guru-guru yang bakalan marahin lo, berubahlah, dengarin segala nasihat dari Aldo, patuh samanya, biar lo bisa dapat nilai tinggi nanti pas ujian."


"Gue mau lo tunjukin sama gue nanti perubahan lo, pokoknya gue gak mau tau Stel, saat nanti gue gak ada, lo harus bisa jaga diri lo sendiri dan berubah jadi baik, gak seperti saat lo bersama gue."


"Gue ingin lo jadi yang terbaik tahun ini, belajar yang giat dan rubah semua sikap lo yah, janji sama gue." Devan menatap Stella dengan perasaan yang sangat sakit, ia berharap Stella bisa berubah saat dia tidak ada.


"Gue tau lo anak yang baik dan pintar, hanya saja lo sering malas dan buat masalah, sehingga orang sering menganggap lo jahat, dan gue gak mau membiarkan orang lain berprasangka itu lagi sama lo." Devano menahan bibir Stella dengan jarinya saat Stella ingin bicara lagi.


Devano menoleh menatap Aldo


"Al gue titip cewe yang gue suka yah, jagain dia, rubah dia jadi anak yang baik, gue tau meski lo dingin, lo masih punya hati nurhani yang baik. Bimbing Stella sampai dia berubah jadi anak yang baik."


"Jangan pernah sakiti Stella saat lo membimbingnya, jangan buat Stella menangis yah." Devano menatap Aldo dengan lekat, dan Aldo hanya menganggukkan kepalanya.


Devano menghela napasnya, ia menatal satu persatu teman-temannya.


"Gue pamit yah." Devano menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya.


teet ....


Seketika suara tangisan pecah menggema di ruangan tersebut seiring dengan suara elektrokardiograf yang sudah seirama.


"Devano!!!" Teriak mereka berbarengan, Stella terus mengguncang-guncang tubuh Devano, ia masih belum bisa menerima kenyataan, tapi dunia bisa apa? Devano mereka telah pergi meninggalakan mereka semua untuk selama-lamanya.


"Bangun gak lo? Gak usah becanda Dev, candaan lo gak lucu, gue tau lo cuman pura-pura tidur doang." Aldo langsung mendekap tubuh Stella yang terlihat syok, Stella masih saja menggoyangkan tubuh Devano berharap bahwa ini hanya sebuah prank.


Tapi takdir berkata lain, ini bukan sebuah prank, ini sebuah fakta yang sangat menyakitkan bagi mereka.


***


Kematian ada ditangan Tuhan, kita tidak bisa menebak kapan kematian akan datang menghapiri kita. Kita juga tidak pernah tau kematian menghampiri sipa terlebih dahulu.


Terkadang seseorang yang dekat dengan kita bisa lebih dulu menghampiri kematian dibanding kita, kita hanya bisa pasrah dan terua mengirim doa agar orang yang kita sayang bisa tenang di alamnya


***


Hai readersku sayang, aku bawa rekomndasi novel yang tak kala kece nih, keren habis ceritanya.


Lumayan dari pada kalian gabut gak ada bacaan saat nunggu novel novelku up kembali, mending baca novel ini.


Judul : Promise


karya: Light Queen


judul : Labuhan cinta sang casanova


Karya: Light Queen


Judul : I Hope Destiny Changes


Karya :Bintang Lynora