
Stella mengerjapkan matanya berkali-kali. Setelah di rasa nyawanya telah berkumpul, ia berjalan mendekati balkon kamarnya, melihat suasana pagi yang tenang.
"Gak terasah yah, gue dah harus balik sekolah lagi." Dia bergumam sambil tersenyum mengingat-ngingat liburannya dengan sahabat-sahabatnya
"Tuh curut-curut udah pada bangun belum yah? " Pandangannya lurus ke depan dengan tangan yang terlipat di dada, dan kaki yang disilangkan, ia bersandar di pintu balkon dengan senyumannya yang terlukis indah di wajah putih tersebut.
"Kok gue jadi kangen gini yah ... sama mereka, padahal kan baru bertemu seminggu yang lalu." Stella tampak berfikir. Sedetik kemudian ia mengedikkan bahu nya dengan alis dan dagu yang terangkat.
"Ntah lah, mending gue mandi, kalau mikirin mereka terus gak bakalan ada habisnya, kenangan gue sama mereka begitu manis untuk diingat." Stella membalikkan tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi.
****
"Stella, cepatan gue udh mau telat .... " Renata berteriak kepada adiknya itu sambil melirik- lirik jam tangannya yg melingkar indah di pergelangan tangan yang putih mulus itu.
Stella tampak berlari kecil menuruni anak tangga rumahnya.
"Iyah-iyah sabar nape."
"Lo lama amat sih, lihat ni jam, udah jam berapa sekarang ? " Renata menggerutu kesal di tempatnya, dia menyodorkan jam tangan yang terikat indah di pergelangan tangannya kepada Stella.
"Gue manusia bukan robot yang ada mesinnya, gue gak bisa secepat yang lo inginkan." Stella mendelik tajam ke arah kakaknya sembari menyambar tasnya yang berada tak jauh dari sang kakak.
"Makanya lo jadi orang jangan ngebo ...." Stella melirik kakanya yang masih menggeretu di tempatnya.
"Ayo jalan sekarang, lo bilang lo mau cepatkan, ntar lo telat gue juga lagi yang disalahin." Stella menyindir kakanya itu, kemudian berlalu meninggalkannya sendiri. Sementara di belakang Renata terus menggerutu padanya, sambil menjulurkan lidahnya seperti sedang berbicara namun tak bersuara.
"Lihatlah anak tak tau malu itu, dia yang salah dia yang bersikap bossy, dasar kaum rebahan."
"Cepatan ... ntar kita telat." Stella berteriak pada kakaknya itu tanpa ada niatan membalikan tubuhnya. Sementara di belakang Renata menjulurkan lidahnya, kemudian berlari mengejar langkah adiknya itu.
****
"Selamat pagi mang Agus, apa kabar .... " Sapa Stella pada penjaga sekolah
"Baik non , non Stella apa kabar? " Balas mamang Agus si penjaga sekolah.
"Baik dong." Ucap Stella dengan senyum manisnya.
"Tumben non gak telat lagi, biasanyakan langganan pak Jono dimari." Ucap mang Agus sambil tertawa.
"Hedeh si mamang, tiap kali gue datang cepat pasti dibilang tumben, emang anehnya yah mang kalau gue datang cepat." Dengan tangan yang melingkar di dada, Stella memasang wajah sedih, yang tentunya hanya dibuat-buat saja.
"Oh yah mang Stella balik kelas deluan yah ...." Pamit Stella, setelah tawanya terhenti. Namun baru berapa langkah tiba-tiba saja mang Agus memanggilnya.
"Oh ya non." Stella membalikkan badannya menghadap mang Agus
"Kelas 12 ini jangan buat masalah lagi yah non, biar gak jadi langganan pak Jono lagi." Mang Agus berucap sambil tersenyum menggoda ke arah Stella.
"Tergantung mang .... " Ucap Stella sambil mengerlingkan sebelah matanya, kemudian berlalu begitu saja sampai bahunya tak dapat lagi dipandang oleh sang penjaga sekolah.
***
"Woi ... jalan sendirian aja neng." Stella melirik Devano yang merangkul bahunya.
"Dih ... siapa yah gak kenal." Ucapnya sinis
"Lo gitu sama gue sekarang?" Devano melepas rangkulannya dengan wajah pura- pura sedih.
Stella menghadap Devano, sambil mencubit pipinya gemas.
"Ini muka gak usah dibuat-buat sedih." Stella menggoyang-goyangkan tangannya yang berada di pipi Devano.
"Sakit ****:v" Devano berusaha melepaskan tangan Stella dari pipinya dengan wajah yang dibuat kesal sekesal mungkin. Stella tertawa melihat tingkah Devano yang lucu menurutnya.
"Sakit ya .... " Stella mengelus-elus pipi Devano dengan wajah sok pedulinya.
"Habisnya lo .... iyah kali gue ngelupain curut kayak lo." Stella memasang wajah acuh dan kembali berjalan ke depan.
Devano berlari kecil mengejar langkah Stella yang sedikit menjauh darinya.
"Berarti gue beruntung dong bisa diingat cewek cantik." Devano mengerlingkan sebelah matanya sambil menyikut lengan Stella. Stella meliriknya sekilas sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Apaan sih lo, gombal .... "
" Buruan ke kelas, ntar kita telat." Akhirnya mereka berjalan dengan tangan Devano yang setia merangkul pundaknya Stella.
****
NB:JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN SHARE