
Mohon maaf guys part yang sebelumnya part ini reviewnya benaran lama bangat🙁 gak tau kenapa😭
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
"Pagi kak Ren," sapa Stella sambil menuruni anak tangga.
"Pagi, tumben rapi benar, mau kemana pagi-pagi gini?" Renata menatap adek semata wayangnya itu dengan heran, pasalnya ia pagi-pagi begini sudah rapi, apalagi ini hari weekend, mana mungkin ada sekolah.
"Hm ... mau pergi sama teman-teman gue bentar." Stella mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan oleh Renata sebelumnya.
"Kemana?" Stella mentap kakaknya yang kelihatan kepo dengan urusannya.
"Jalan-jalan," ucap Stella acuh sambil mengunyah roti yang diambilnya.
"Oh ... siapa yang jemput lo?" Stella menghembuskan nafasnya secara kasar, jengah mendapati pertanyaan yang begitu banyak, tapi meskipun begitu ia tetap menjawab seluruh pertanyaan Renata dengan sabar.
"Gue dijemput sama 5 orang teman gue, pakai satu mobil, di dalamnya ada 3 cewe lain dan 2 cowo, udah?" Stella menatap kakaknya itu penuh harap, agar tidak bertanya banyak hal lagi dengannya.
Saat Renata ingin membuka suaranya lagi, tiba-tiba suara klakson mobil terdengar.
"Tuh, teman-teman gue udah datang, gue pergi dulu yah, bye." Stella melambaikan tangannya kepada Renata, sambil melenggang pergi dari tempat itu.
"Hati-hati Stell, jangan lama-lama pulang, firasat gue gak enak nih," Renata meneriaki adiknya itu yang sudah semakin jauh.
"Kenapa tiba-tiba firasat gue gak enak yah sama anak itu," gumam Renata saat Stella sudah menjauhi tempat tersebut.
"Semoga gak terjadi seseuatu padanya."
*****
"Hai guys, kita mau kemana nih?" Stella langsung bertanya ketika ia memasuki sebuah mobil ferrari berwarna putih dengan atap terbuka.
"Pantai Parangtritis maybe," jawab Amanda sambil menguyah snak keripiki kentang yang dibeli semalam.
"Lo Man, belum juga jalan, udah lo makan tuh kripik kentangnya," sewot Kevin, dan Amanda hanya mengedikkan bahunya acuh.
"udah siap semuanya?" Tanya Devano yang diangguki oleh mereka semua.
"Okey, lets go ...." ucap Devano yang langsung menjalankan mobilnya.
Semua orang sangat menikmati perjalanan ini, canda-tawa terdengar di dalam mobil sport berukuran 177,6 x 75,7 inci tersebut.
Tapi tidak dengan Stella, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak, dan seluruh memori kenangan bersama momy dan papinya berputar bagaikan roda film.
papi, apakah mungkin aku akan bertemu denganmu kembali? Apa mungkin aku bisa menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu lagi? Aku rindu, semenjak beberapa tahun lalu kau tak pernah kembali lagi, setelah kau bertemu dengan momy, kaupun tak kunjung kembali. Ketahuilah rasa benciku sudah berkurang padamu, seseorang telah mengubah cara berfikirku, sekarang aku ingin bertemu denganmu, tapi apakah bisa?
Semua bayangan-bayangan itu berputar, bayangan akan perkataan Renata, larangan Aldo, dan juga kenangan masa kecilnya.
Stella kembali mengingat pertengkarannya dengan Aldo semalam.
Ngapain lo cengar-cengir gitu? Aldo bertanya sambil memilih-milih buku yang akan ia baca.
"Gak ada, gue cuman terlalu senang aja, weekend besok gue mau pergi sama teman-teman gue jalan-jalan, setelah sekian lama gue terperangkap bersama lo, akhirnya gue bisa menikmati waktu bersama mereka kembali." Stella berucap penuh dengan binar-binar kebahagian di wajahnya.
"Gue gak setuju," ucap Aldo dengan memandang wajah Stella dengan lekat.
"Yah gue gak suka aja kalau lo keluyuran gak jelas gitu."
"Lah kan yang keluyuran gue, bukan lo*!!"
"*Lagian besok itu weekend, berarti lo gak ada hak atas gue, jadi lo gak usah ikut campur sama urusan gue." Stella bertolak pinggang menatap Aldo
" Lo itu yah ...." Aldo mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Stella*.
Gimana caranya gue bilang firasat gue gak enak sama ni anak. -batin Aldo
"*Gue kenapa?" Tanya Stella acuh, Aldo menghempaskan nafasnya secara kasar.
"Intinya gue gak mau lo keluar, lebih baik lo belajar aja di rumah, kan bentar lagi kita mau ujian." Aldo kembali melanjutkan aktivitasnya memilih-milih buku, namun Stella membalikkan badannya secara paksa.
"Mau lo apa sih? Besok itu weekend*, *lo gak berhak ngelarang-larang gue pergi, mak, bapak dan kakak gue aja gak larang, kenapa lo yang sewot bangat."
"Gue cuman mau lo belajar bagus-bagus, agar tugas gue cepat selesai." Bohong Aldo*
"*Lo tenang aja, gue bakalan belajar bagus-bagus, tugas lo bakalan cepat selesai, tapi lo gak berhak menyita waktu gue bersama teman-teman gue."
"Gara-gara lo berapa kali gue harus membuat teman-teman gue kecewa, gara-gara lo juga gue ha ...."
"Gue khawatir sama lo," ucap Aldo yang langsung memotong perkataan Stella*.
Deg ....
"*Gue punya firasat buruk akan terjadi sesuatu sama lo besok." Kini tatapan matanya menatap mata Stella dengan lekat.
Stella mematung mendengarkan penuturan Aldo, namun ia secepat mungkin menetralkan perasaannya.
"Hkem, gimana yah Al, gue mau ngakak takut dosa. Lo itu lucu, zaman sekarang lo percaya akan firasat-firasat gitu? Kalau emang takdir gue mati, dimanapun gue pasti akan mati." Stella menatap Aldo dengan tatapan jenaka, tapi Aldo malah menatapnya dengan tatapan khawatir yang teramat sangat, tapi dia berusaha bersikap biasa saja di hadapan Stella.
"Terserah lo deh, seperti yang lo bilang, gue bukan siapa-siapa lo, jadi gue gak berhak ngelarang-larang lo." Aldo langsung pergi meninggalkan Stella yang terdiam di sana.
"Hkem, baguslah kalau dia sadar," Stella berucap dengan senyum sinis*.
"Stel, Stel, lo kenapa," ucapan Devano menyadarkan Stella dari lamunannya.
"Ha? Gu ... gue gak papa kok," Stella menjawab dengan linglung, dia seolah tak paham dengan keadaan sekitar.
"Iyah Stel, lo dari tadi gue perhatiin diam mulu, kenapa?" Sambung Bianca.
Stella menggelengkan kepalanya, pertanda ia baik-baik saja.
Devano masih memandang Stella dengan lekat, gelagat Stella sepertinya ada yang aneh menurutnya.
"Devan awas...." Devano langsung melihat ke depan, sebuah truk dengan muatan batu melaju dengan cepat dari arah berlawanan, truk tersebut kehilangan kendali, sehingga membuat salah satu batu terjatuh ke bawah.
Bruk
****
Hai readers kesayanganku, mohon maaf atas ketidak nyamanannya yah, ini murni reviewnya yang lama, bukan karena saya yang tidak mau update, gak tau kenapa, gak seperti biasanya reviewnya lama bangat kayak gini, ini sudah hari 3 belum teriview, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan kalian😭🙏🙏🙏
Author sayang kalian semua😘😍
Nb: JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN RATE YAH, MAKASIH🤗