
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
Stella merenungi semua perkataan Bianca dan juga Aldo, dia sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
Kehilangan itu memang selalu menyakitkan, tapi kita tidak boleh selalu menangisinya, belajarlah arti kesabaran, dari sebuah kehilangan yang kau rasakan.
Stella menyusuri taman belakang sekolah, sekedar ingin menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk.
"Devan, gue salah yah Dev, apa gue salah mengartikan maksud lo Dev? kenapa sih Dev, kenapa lo buat hidup gue jadi serunyam ini? kenapa lo gak tetap bersama kita?" teriaknya sembari menjambak rambutnya.
"Lo tau Dev, di sini gue lagi berantam gara-gara lo, lo senang yah buat gue dibenci Bianca," lirihnya
Hiks ... Dev, gue benar-benar butuh seseorang yang bisa nenangin gue. Dulu ada lo dan Bi yang bisa memberikan gue ketenangan dari kata-kata kalian. Tapi sekarang semuanya pupus, lo pergi ninggalin gue dan Bi? dia marah sama gue Dev, terus gue harus apa?
Stella terduduk sambil menyeka air matanya.
Di kejauhan beberapa pasang mata sedang memeperhatikannya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Bi, udahan dong marahnya, lo gak lihat Stella tuh, cukup Devano aja yang buatnya merasa sedih, lo jangan ikutan juga." Bianca diam
"Lo benaran gak mau maafinnya Bi?" masih dalam keadaan diam, Bianca menghampiri Stella yang terduduk lemas dengan isak tangis di taman.
"Bangun!!!" menatap sang pemilik suara, "Bi ... Bianca." Stella bangkit dan langsung menghambur ke dalam pelukan Bianca.
"Ngapain lo disitu? nangisin gue? atau Devano lagi?" Stella melepaskan pelukannya, mukanya seketika berubah masam, semasam jeruk lemon.
"Gue minta maaf," ucapnya sambil tertunduk.
"Apa? gue gak denger." Bi bertanya seolah ia benaran tidak mendengar apapun dari Stella, padahal bibirnya sedang tersenyum tipis kepada Stella.
"Gue minta maaf, gue salah. Gak seharusnya gue bersikap gini, seharusnya gue berubah tanpa melupakan teman yang selalu ada." Bianca tergelak melihat ekspresi Stella, dia langsung memeluk Stella tanpa mengurangi gelak tawanya.
"Lo masih sama ogebnya Stel, meski udah banyak belajar." Bianca menepuk-nepuk puncak kepala Stella.
"Iyah lo egeb, masa lo berfikir gue bisa marah sama lo, sama manusia terbar-bar di sekolah ini, yang sekarang sudah berubah jadi alim." nada bicara Bianca terdengar seperti mengejek, dengan tawa ciri khasnyanya yang terukir.
"Apaan sih." Stella terlihat kesal dengan kelakuan temannya itu.
"Hahaha, udah ah dari pada lo galau di sini sendiri, ikut gue kantin yok, bareng yang lain juga, kitakan udah lama gak ngumpul, sekalian buat Devano iri di sana karena udah ninggalin kita." Bianca merangkul pundak Stella dan Amanda tanpa menghentikan tawanya.
***
"Hai guys, lihat ni siapa yang gue bawa," ucap Amanda dengan kerlingan matanya.
"Wish Man, lo berhasil menyatukan mereka berdua lagi?" tanya Kevin antusias
"Wah iyah dong, lo ngeraguin kemampuan gue?" berucap dengan bangganya sambil berkacak pinggang.
"Apaan sih kalian? emang kami sepasang kekasih yang lagi berantam, makanya harus disatukan segala," ucap Bianca dengan kesal.
"Wkwkw, lebih dari itu Bi," gelak tawa pecah diantara mereka, suasana hangat kembali terasa.
****
NB: Jangan Lupa Like, komen, rate dan vote, terimakasih🤗
sekedar info guys, bentar lagi novel ini bakalan tamat nih😁, aku belum pastikan tamatnya di episode berapa, tapi garia besarnya sudah ada di kepalaku.😄
Nah aku mau nanya nih, kalau novel ini tamat dan aku mau buat novel baru lagi, kira-kira ada yang mau baca gak yah?
Kalau nggak sih gak papa, aku hiatus aja😁🙂, jawab yah guys dikomentar ada yang mau baca gak novel baruku nanti?☺
Rencananya aku mau buat Novel genre horor, atau bisa juga bikin squel ini novel, tapi kalau banyak peminatnya aja, dan kalau novel ini tembus 11k like🤗.
So aku butuh jawaban kalian, kalian mau gak nanti baca novel terbaruku kalau novel ini tamat atau tidak?
WAJIB DI JAWAB!!