BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 46



Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍


.


.


Sebuah ruangan yang penuh kegelapan, bahkan cahaya enggan untuk menyapa, dinding tebal berlapis seolah sedang meredam rasa itu. Suara isak tangis menggema di ruangan itu, namun tak seorangpun yang menyadarinya.


Terlihat seoarang anak yang sedang duduk sambil memeluk dirinya sendiri di pojokan dinding. Merengkuk menahan sakit yang tak mampu dilihat secara kasat mata.


Tangisnya yang menggema tak ada yang menghiraukan, harapan memiliki sebuah cahaya juga pupus bersamaan dengan rasa kesepian.


Tak ada yang mampu membawanya dari ruang kegelapan, tak ada yang mampu mengusir rasa kesepian, semuanya hampa tak beraturan, semuanya pergi meninggalkannya, tak ada yang mau berteman bersamanya, bahkan orang tua yang selalu ia dambakan.


Kemana ia harus mengadu? kemana ia harus menumpahkan segalanya? siapa yang bersedia menjadi kakinya? tempat ia bertumpu kala ia terjatuh. Siapa juga yang suka rela memberikan bahunya untuk ia bersandar, adakah yang mau menjadi pelabuhannya?


"Aku benci kamu Mama!!! Aku juga benci kamu papa!!!"


seorang anak kecil berteriak, mengiba dengan suara penuh kebencian, meninggalkannya dengan rasa kesakitan.


"Takkan kubiarkan kalian menjadi orang tuaku!"


Berapa kali lagi suara teriakan itu terdengar?


berapa kali lagi anak itu harus menjerit menahan sakit? haruskah ia menahan semuanya karena ego mereka?


Apakah ada sebuah warna dan cahaya yang akan mengisi hidupnya? apakah bisa ia menjadikan seseorang sebagai pelabuhannya?


Kenapa harus begini? kenapa harus dia? dia mesi kecil, belum tau apa-apa, belum berdosa dan masih polos, tapi setega itukah mereka menanam kebencian di hatinya?


Tok ... tok....


Suara ketokan pintu terdengar dari luar, dengan malas dan langkah gontai, Aldo berjalan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa bi?" tanyanya malas.


"Makan siang sudah siap den, mari makan dulu." bik Lastri berucap dengan nada ragu-ragu.


"Nanti aja bik." Aldo langsung menutup pintu kamarnya kembali.


"Duh gusti Allah, punya majikan gini amat, atunya dingin, atunya lagi gak perduli anak🙂" bik Lastri mengedikkan bahunya kemudian pergi meninggalkan kamar Aldo.


Aldo menatap langit-langit kamarnya, tiba-tiba ia teringat akan Stella, rasanya seolah ia sedang terserang penyakit rindu yang hanya bisa di obati oleh pemilik hatinya.


Aldo mengambil hendponenya yang terletak di atas nakas, memencet sebuah nomor yang bisa mengobati hatinya.


Telepon


"Halo," ucap seseorang disebrang sana.


"Kemari cepatan, gue tunggu 5 menit," ucap Aldo seenaknya tanpa memperdulikan gerutuan dan perasaan kesal dari seseorang disebrang sana.


Aldo langsung mematikan hendponenya tanpa mau mendengar bantahan dari sebrang sana. Dia seolah ingin menumpahkan bebannya kepada gadis yang mampu mengobrak-abrik hatinya akhir-akhir ini.


***


Stella menghentak-hentakkan kakinya kesal, baru juga ingin liburan bersama temannya, melepaskan beban dan juga penat dihati yang ia rasakan, udah diganggu oleh seseorang yang bahkan tadi memberinya izin keluar.


Menyuruhnya datang dalam waktu 5 menit seenaknya saja, tidak mau mendengarkan permintaanya, dan yang lebih parahnya ia malah mematikan hp saat Stella ingin memprotes perintahnya.


"Kebiasaan tuh es yah, sesuka hati aja sama gue, dia pikir dia siapa sih? tadi ngizinin gue pergi, sekarang malah nyuruh balik dalam waktu 5 menit, pen gue tabok tuh ginjal." Stella merengut kesal, membuat para temannya saling menatap heran.


"Why Stell?" tanya Bima yang dibalas tatapan malas dari Stella.


"Gue disuruh Aldo balik dalam waktu 5 menit," ucap Stella sambil menggerutu. Sontak tawa anak-anak langsung pecah saat melihat ekspresi kesal Stella.


"Malah ketawa." memalingkan wajahnya melipat tangan di dada.


"Oke oke sorry," ucap Bima yang berusaha menghentikan tawanya.


****


NB: Jangan lupa like, komen, vote and rate