
Hari ini adalah hari yang paling ditakuti oleh para siswa-siswi di Sma Garuda, dimana hari ini adalah hari penentuan mereka naik atau tidaknya kejenjang kelas yang lebih tinggi.
Banyak anak yang terlihat cemas,takut sekaligus tegang dalam menghadapi hari ini, tapi itu tidak berlaku untuk anak kelas 11 MIPA 1.
Mereka terlihat sangat santuy dengan gitar yang dipetik oleh Devano, meja yang dipukul seperti gendang oleh Rafa, dan Bima yang terlihat seperti penari latar. Mereka bahkan sekarang sedang asyik menikmati hari ini dengan bernyanyi, banyak yang tertawa menyaksikan kelakuan Bima, dan banyak juga yang ikut bernyanyi Bersama Devano.
Jangan tanya mengapa mereka begitu santainya hari ini, disaat semua orang sedang sibuk belajar dan mereka malah asik bernyanyi.
Bukan ... bukan karena mereka sudah belajar terlebih dahulu di rumah, jika kalian berfikir seperti itu, maka kalian salah besar.
Mereka bisa sesantuy itu karena sebuah semboyan dalam kelas itu.
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, kerja sama nomor 1,salah benar urusan belakangan.
itulah semboyan mereka, yang membuat mereka bisa sesantuy ini.
Mereka percaya dengan kekuatan kerja sama, maka semua hal menakutkan ini bisa dilalui dengan baik.
Kalau kalian tanya kenapa mereka gak belajar, jawaban mereka mah simple.
" Tenang ada kertas ajaib yang bisa mengubah hidup kami."
Klise sekali bukan? Tapi yah begitulah mereka, bagi mereka kertas itu memang sebuah kertas ajaib yang bisa mengubah segalanya.
Tapi meskipun mereka begitu, kemampuan mereka jangan diragukan lagi, banyak kok perlombaan yang diambil dari siswa kelas 11 Mipa1. Walau bukan semuanya dari Akademik. Lagi pula gak semuanya yang ada di kelas itu bar-bar dan berjiwa santuy.
Contohnya Kevin, sang ketua kelas. Dia bahkan terlihat begitu fokus dengan buku yang berada di depannya, tak menghiraukan kami yang sedang bercanda ria di sini.
Ada juga Stevi yang sedang asyik menyiapkan contekan untuk ujian nanti, kalian para pelajar pasti tau lah ? Betapa pentingnya hal yang satu itu demi kelangsungan hidup:)
Nah, ada satu lagi nih siswa terdingin di sekolah ini, kalian pasti tau lah yah?
Kalau yang satu ini gak perlu dijelaskan lagi, udah bawaannya dari orok gak bisa diajak santuy, hidupnya terlalu penuh peraturan, gak ada santuy-santuy nya sikit pun, terlalu kaku.
****
Ujian telah berlangsung sekitar 10 menit, 5 menit awal memang terlihat baik-baik saja, sejurus kemudian terlihat grusah-grusuh dari arah belakang, mereka sedang sibuk mencari sumber kehidupan dari orang-orang lain.
"Woi Stev, bagi contekan yang lo punya dong." Terlihat Bima sedang berbisik-bisik dengan anak perempuan yang berada di belakangnya.
"Ntar, gue belum siap nyalin."
"Cepatan, gue banyak yang belum siap nih." Bima terlihat memaksakan kehendaknya kepada gadis itu.
"Sabar anj*ng, gue juga belum siap, lagian lo masih no berapa sih?" Gadis itu terlihat kesal kepada Bima yang terus memaksanya.
"Nomor 1-5 essay." Balas Bima dengan wajah memelas.
"Busyet dah ... banyak amat lo yang belum, masa tidak ada yang lo ketahui satupun?" Stevi terlihat kaget mendengar jawaban Bima, pasalnya Bima belum menjawab satupun soal Essaynya, dan yang lebih parahnya lagi, dia sama sekali tidak tahu satu jawaban sedikitpun di essay. Ngenes benar nasip ni bocah ....
"Udah gak usah banyak bacot lo, cepatan siniin jawabannya." Bima sudah menjulurkan tangannya kebawah meja, menunggu kertas contekan dari Stevi, meski terlihat kesal, Stevi tetap memberikan jawabannya kepada Bima.
"PG–nya jangan ikutan lo contek, gue bunuh lo ntar." Tersirat sebuah ancaman untuk Bima dari perkataan Stevi.
"Iyah bawel, ntar Pg gue nyontek dari Kevin, tenang ae."
"Enak benar hidup lo."
"Iyah dunds, dah ah ntar gue gak siap lagi gara-gara lo lagi."
Waktu berlalu begitu cepat. Ujian sesi peratama telah dilalui dengan baik, sekarang mereka sedang beristirahat untuk melanjutkan ujian sesi ke dua.
"Sumpah puyeng bat pala gue, susah bangat soal metematikanya. Siapa sih yang nyipatain pelajaran MM, pengen gue gelitiki ginjalnya." Ucap Amanda dengan bersungut-sungut.
"Eh ogeb kalau gak ada pelajaran MM gimana lo bisa ngitung? Emang mau lo dibodoh- bodohi sama orang, karena gak tau hitungan." Kevin menatap Amanda dengan tatapan jengah dan tangan yang terlipat, ia malas sekali jika sudah berurusan dengan curut yang satu ini.
"Iyakan pelajarannya bisa seputar tentang tambah, kali, bagi, kurang. Gak usah diikut ikutin tuh pelajaran mencari besar sudut, Geometri, phytagoras, logaritma, trigonobaktri."
"Trigonometri ogeb, bukan trigonobaktri." Sangkal Kevin.
"Ha itulah itu, bodo amat, mau namanya si trigonobaktri, trigonometri atau apalah, gak penting, intinya gue kesal."
Kami semua tertawa melihat ekspresi kesalnya Amanda, sebab wajahnya akan memerah jika ia sedang kesal dan tangannya juga tidak akan bisa diam jika sudah kesal begini.
Berbeda dengan kami yang tertawa melihat ekspresi kesalnya Amanda, Kevin justru malah memperhatikan Amanda dengan tatapan malas.
****
Bel masuk telah berbunyi, pertanda ujian sesi ke dua akan segera dimulai.
Kali ini ujian sangat tegang, karena yang megawasi adalah pak Jono, guru culun nan terekanal galak. Matanya bagaikan burung elang, setiap pergerakan dari siswa siswi tersebut tak luput dari pandangannya.
Tak ada yang berani bergerak, apalagi mencontek saat ia mengawas, padahal gayanya yang culun sangat tidak cocok dengan sifatnya seperti itu, tapi kita memang tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja. Bukan kah ada pepatah yang mengantakan
Don't judge people by cover
Akibat ulah pak Jono, banyak kertas ujian yang masih kosong, salah satunya Bima, dia benar benar frustrasi saat ini. Ingin bertanya pada temannya, namun tempat duduk teman temannya terlalu jauh darinya,ingin bertanya pada Stevi, takut dilihat pak Jono. Mau bertanya pada teman sebangkunya ujian, orang itu malah Aldo, mana berani dia nanyak sama Aldo, Aldo kan terkenal pelit sama jawaban. Yang ada belum sempat ia bertanya udah di tolak deluan.
Frustasi, satu kata yang mampu menggembarkan keadaan siswa siswi saat ini, dan Bima tidak punya cara lain selain diam diam mencontek Aldo, agar kertas ujiannya bisa terisi. Tapi rencananya gagal, Aldo mengetahui kalau dia sedang mencontek jawabannya.
Nyali Bima seketika menciut, saat melihat tatapan tajam dari Aldo.
"So... sory Do, gue putus asa." ucap Bima dengan senyum paksaan dan suara yang tersendat sendat.
"Ini kertas jawaban lo? " Tanya Bima ragu ragu.
"Baca aja sendiri namanya." Jawabnya dengan cuek.
Bima melihat kertas ujian itu, dan benar saja tertera nama Aldo disana. Dia bingung, kenapa tiba tiba Aldo mau berbaik hati kepadanya. Dia kembali melirik Aldo dan yang dilirik terlihat acuh.
"Cepatan kerjain, jangan natapin gue." Seketika Bima langsung mengalihkan pandangannya dan buru buru menyalin jawaban Aldo.
Setelah sekian lama, akhirnya ujian sesi kedua pun berakhir, banyak anak yang menjerit histeris saat bel pulang berbunyi, pasalnya banyak diantara mereka yang lembar jawabannya belum terisi semua.
Banyak anak yang keluar dengan ekspresi murung, mereka tidak menyangka, jika hari ini yang mengawas adalah guru culun itu.
"Stel, gimana ujian lo tadi?" Tanya Devan
"Lumayan lah." Ucap Stella dengan santainya.
"Lumayan apa? " Tanya Devano lagi
"Lumayan hancur." Devano memutar bola matanya dan Stella hanya tertawa melihat itu.
"Lo pikir apa? Gue bisa gitu ngejawab soalnya dengan mudah." Sella memicingkan matanya melihat Devano dan Devano mengangguk membenarkan perkataannya. Stella langsung tertawa terbahak bahak melihat Devano yang begitu polos menurutnya.
"Kenapa? Ada yang salah? " Tanyanya bingung, dan Stella menggelengkan kepalanya tanpa ada niatan untuk berhenti tertawa.
"Woi... ngapain kalian berduaan disitu." Suara menggelegar dari Kevin mengagetkan kedua manusia itu, sontak mereka melihat kebelakang,ternyata bukan hanya Kevin yang ada disana,melainkan ada Bima, Bianca dan Juga Amanda.
"Eh curut curut kita udah datang tuh Dev." ucapku Sambil menunjuk kearah empat manusia yang sedang berjalan kearah sini.
"Iyah, ganggu kemesraan kita aja yah." Sontak Stella langsung memukul bahu Devano.
" Aw..., sakit tau Stel, kejam amat lo ama gue." Devano meringis kesakitan, Sambil mengelus elus bahunya yang habis gue tonjok tadi.
"Lagian lo juga... " Ucapku tanpa memperdulikan wajah kesakitannya.
"Weish... cigeng kenapa lo, mukak ditekuk segala gitu." Ucap Bima yang langsung merangkul pundak Devano.
"Tanya tuh sama algojo kita." Ucapnya sambil menunjuk kearahku menggunakan bibirnya yang dimonyong monyongin.
"Kenapa Stel? " Tanya Bima.
"Habis gue tonjok." Ucap Stella acuh
"Yaampun kasar bat lo jadi cewek, gue rasa emang benar lo cewek jadi jadian kayaknya." Gue langsung memberikan tatapan tajam kearah Kevin, yang membuat seketika nyalinya menciut.
" Lo mau lihat dalamnya, biar lo tahu, gue cewek apa cowok." Dengusan kesal keluar dari bibirnya.
"Boleh tu, mana coba sini gue lihat." ucap Kevin dengan sangat antusias
Buk....
Satu pukulan Stella mendarat tepat dikepala Kevin, hingga membuatnya meringis kesakitan.
" Yaampun Stella, jadi cewek galak benar." ucapnya sambil mengelus elus kepalanya yang terasa sakit.
"Biarin."
" Guys ada yang mau gue kasih tau sama kalian." Ucap Bima tiba tiba disela senda gurau kami. Pandangan kami seketika teralihkan kearah Bima.
"Ada apa bim?" Tanyaku penasaran
"Kalian tau Aldo kan? "
"Ya taulah, kan dia teman sekelas kita." Ujar Kevin.
"Kalian tau gimana dingin dan pelitnya dia akan jawaban bukan? " Kami semua saling pandang kemudian mengangguk secara serentak.
"Terus.... apa masalahnya?" Stella bertanya bingung.
"Tadi tuh dia tiba tiba baik sama gue, gak tau apa alasannya, dia mau memberikan jawabannya untuk gue." Ucap Bima dengan tatapan yang sangat serius, sontak kami semua membulatkan mata kami.
"Are you serious? " Tanya Bianca yang tak kalah kaget.
" Yes...,I'm very very serious."
"Bima tatap gue." Bima langsung menatap mata Stella
Stella memicingkan matanya,menautkan kedua alis matanya, menatap Bima penuh selidik, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Dia mencari sebuah kebohongan dimata Bima, tapi sayang, sepertinya Bima memang berkata jujur.
"Gimana ceritanya lo bisa dikasih jawaban tuh, sama manusia es kayak dia?" Amanda bertanya dengan penuh keheranan, pasalnya semua orang tau Aldo tidak mungkin sebaik itu pada orang, jika orang tersebut tidak penting baginya,apalagi dia sampai mau berbagi jawaban seperti itu.
Bima menceritakan seluruh kejadian yang dialami saat ujian tadi, dan kami semua mengangguk angguk paham akan ceritanya Bima.
"Yaudahlah, mungkin Aldo gak seburuk yang kita bayangkan." Ucap Devan untuk mengakhiri perbincangan ini.
Kami semua mengangguk setuju akan ucapan Devan.
***
NB: JGN LUPA LIKE, KOMEN AND VOTE, MAKASIH:)