
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
"Hm ... telurnya udah dibeli tadikan Al?" Tanya Stella yang sedang mencek perlengkapan untuk tugas tambahan mereka.
Setelah kejadian tadi, Stella dan Aldo memutuskan untuk langsung mengerjakan tugas kelompok mereka saja, dibanding harus berdiaman dengan keadaan salting, toh bukannya Stella kemari untuk mengerjakan tugas kelompoknya?
"Udah, oh yah Stel, text prosedurenya nanti diketik aja, biar lebih rapi." ucap Aldo sembari melihat-lihat vidio tutorial membuat pancake dari youtube.
"Iyalah, lo pikir gue mau nulisnya gitu?" Stella melirik Aldo sebentar, kemudian melanjutkan aktivitasnya mencek barang-barang yang dibutuhkan.
"Gue udah dapat nih tutorial yang paling mudah, lo siapin tepung dulu deh." Aldo bangkit dari tempat duduknya menuju rak piring untuk mengambil wadah.
"Mana tepungnya," ucap Aldo yang masih fokus pada vidio tutorial.
"Nih." Stella menyodorkan sebuah tepung yang masih lengkap dengan plastik bungkusannya.
"Buka dong, gak lihat apa, tangan gue sebelah lagi megangin hp?" Stella mendengus kesal, tapi tetap saja membuka bungkusan itu.
"Tuangin langsung!!!" Perintah Aldo tanpa memperhatikan raut wajah Stella.
"Nanti kalau udah dituang, kocok telur di wadah satu lagi." Stella hanya mencibir Aldo secara diam-diam.
Nih bocah habis nangis, ngeselinnya balek lagi, pen tak sumpat tu mulutnya pakai kaos kaki gue yang belum dicuci 3 hari.
Hening–sepi, itulah suasana di dapur sekarang, kedua manusia dengan sifat berbeda tersebut tengah sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing.
Stella yang sedang mengaduk adonan tepung, dan Aldo yang sedang membuat cream coklat untuk ditabur diatas pancake nanti, membuat keduanya membisu tak bersuara.
Sumpah sampai kapan nih gue ngaduk-aduk tepung, kapan gue bisa ngaduk-aduk hatinya si doi, dari tadi tepung mulu yang gue aduk, mana tepungnya gak kalis-kalis lagi, capek gue. Eh gue kan gak ada doi ... bodo ah, nih enaknya gue ngapain? Bosan tauk, Aha ... gue dapat ide.
Stella yang merasa bosan sekaligus kesal tiba-tiba mendapatkan ide yang cemerlang, namun berakibat buruk untuk Aldo.
"Al tengok sini deh," ucap Stella yang sudah mencolek sedikit tepung di jarinya, dan menghadapkan jari itu ke dekat wajah Aldo.
"Hm apa? Bicara aja kalau mau bicara, gue sibuk," ucap Aldo yang masih fokus dengan kegiatannya.
"Tengok sini bentar," paksa Stella yang menarik-narik lengan Aldo.
"Ap ...." ucapan Aldo terputus, saat jari Stella terlebih dahulu mengenai pipinya. Aldo menggeram kesal, menatap Stella dengan wajah murka.
"Lo nyari ribut sama gue? Mau perang nih?" Ucap Aldo yang mengikis jarak diantara keduanya, menatap Stella dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Lo ... lo ... mau apa," ucap Stella sambil berjalan mundur, tapi Aldo tak menghiraukannya, dan tiba-tiba ....
Wush ....
"Aldo!!!" Teriak Stella saat segumpalan tepung mendarat mulus di wajahnya.
"Ha ... ha ... ha, siapa suruh lo ngibarin bendera perang sama gue," Aldo terus terbahak-bahak melihat ekspresi Stella yang lucu, dengan tepung yang mengotori wajah cantiknya beserta rambut hitam legam miliknya.
"Awas lo yah!!" Stella berlari ke arah Aldo sembari menyambar segenggam tepung di tangannya.
"Hahaha, coba kejar gue sini." Aldo berlari tanpa menghentikan tawanya.
"Kemari gak lo." Stella berusaha menggapai Aldo yang berada di balik pilar-pilar yang menyanggah dinding dapurnya.
Beberapa kali Stella mencoba melempar tepung ke arah Aldo yang sedang berlari, tetapi tepung tersebut meleset tanpa mengenai Aldo sama sekali.
"Al lo curang, gue cuman nyoret lo sikit, tapi lo balasnya banyak, kemari gak?" Ucap Stella yang mulai ngosh-ngosh-an mengejar Aldo.
"Gak mau, katanya lo hebat, coba tunjukin sama gue kehebatan lo." Aldo berkacak pinggang di depan Stella yang tengah memegangi perutnya yang kram.
Oh ni curut mau coba-coba bermain dengan gue yah, dengan Stella pradginita anindya, gak tau aja dia kalau gue punya banyak ide.
Tiba-tiba saja ....
Tuk
"Aw ...." Stella meringis sambil memegangi pergelangan kakinya, sontak Aldo merasa terkejut dan menghampiri Stella.
Gak tau aja Aldo, kalau itu adalah trik Stella untuk mengelabui dirinya.
"Lo gak papa Stel," ucap Aldo dengan khawatir, dia memegangi pergelangan kaki Stella sambil melihat-lihatnya.
"Kenak lo." Stella langsung memeluk Aldo saat berada di depannya. Aldo menatap Stella dengan tajam, "Jadi ini cuman akal bulus lo doang?" Tanya Aldo yang diangguki Stella. Aldo langsung menghempaskan kaki Stella yang dipegangnya dengan kasar.
"Sakit ****," Stella meringis sambil memegangi kakinya.
"Bodo amat." Aldo berjalan meninggalkan Stella, namun sebelum itu Stella sempat menyengkang kaki Aldo, sehingga ia juga terjatuh ke lantai.
"Aw ... rese bangat sih lo," ucap Aldo sambil memegangi bokongnya yang terbentur ke lantai.
"Haha, rasain tuh." Stella bangkit dari posisinya, berjalan ke arah Aldo.
"Nih mamam nih." Stella mengusapkan wajah Aldo dengan tepung yang digenggamnya. Reflek Aldo menarik pergelangan tangan Stella, sehingga membuat Stella terbentur ke dadanya. Untuk beberapa saat wajah mereka bertemu, dengan mata yang saling mengunci satu sama lain. Tersirat sebuah rasa di hati mereka masing-masing.
Ya Allah ternyata dia tampan juga kalau di perhatikan dari dekat gini, bola mata berwarna coklat, hidung mancung, bibir merah alami, alis tipis yang rapi, rahang yang kokoh, membuat setiap kaum hawa meleleh saat menatapnya, sayangnya dia suka ngeselin ya Allah, membuat paras gantengnya hilang seketika. -Stella
Nih cewe manis juga diperhatikan dari dekat, gak kelihatan tampang ngeselinnya, tampang bar-barnya juga tampang premannya. Jantung gue bisa gak sehat nih kalau ada di dekat dia terus. -Aldo.
cukup lama mereka di posisi itu, sampai tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua.
"Ya Allah aden ... ini dapur kenapa berserakan bangat." Reflek Stella mendorong tubuh Aldo menjauh darinya.
Ini bibik berapa kali lagi sih mergoki gue sama Aldo, suka bangat datang di waktu yang salah, pertama pas gue lagi meluk si Aldo, sekarang mergoki gue lagi beginian juga, bisa malu gue kalau ketahuan mengagumi si muka datar ini.
"Hehe, maaf bik, nanti kami beresin kok," ucap Stella yang mulai salah tingkah di hadapan Aldo.
"Iyah bi, nanti aku beresin," ucap Aldo kembali pada ekspresi datarnya.
Dih cepat amat berubah nih ekspresi manusia, tadi kelihatan marah sekarang malah adem ayem kayak gak terjadi sesuatu.
Stella melirik Aldo, seperti bertanya melalui kode, "Bagaimana ini?" dan Aldo hanya mengedikkan bahunya.
"Yaudah bik, bibi istirahat aja yah, nanti Stella yang beresin dapurnya," ucap Stella yang menggandeng bibi Lastri keluar dari dapur.
"Iyah bi, biar Stella aja yang beresin nanti," teriak Aldo yang mendapatkan plototan dari Stella.
***
NB:JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN RATE, MAKASIH:)