
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
Stella berlari dengan sangat kencang dari pagar rumah sampai ke dalam rumah Aldo, nafasnya tersengal-sengal mengejar waktu yang diberikan Aldo.
Bruk
"Maaf maaf," ucap Stella sambil merapikan barang bawaan lawan tabrakannya yang terjatuh.
"Hati-hati non." Stella memberikan barang itu, mengalihkan pandangannya ke wajah sang lawan tabrakan tadi.
"Maaf bik saya gak sengaja, tadi buru-buru."
"Gak papa non Stella, non Stella ada apa kemari?" bik Lastri menatap Stella yang tampak berkeringatan sehabis berlari tadi.
"Tuh bik si es nyuruh saya datang dalam waktu 5 menit, jadinya saya lari-lari deh," ucap Stella sambil menggeram kesel.
Bik Lastri menatap kebingungan, siapa si es? masa iyah es batu yang dibuatnya tadi menyuruh Stella datang? emang es batu bisa bicara?
Stella yang menyadari ekspresi bingung bik Lastri memukul mulutnya yang memang suka lepas sembarangan, merutuki kebodohan yang ia miliki.
Stella ... lo bodoh bangat, bodoh lo kayak pipa rucika, ngalir sampai jauh. Mana mungkin bik Lastri tau siapa itu es, yang ada malah dia ngira lo gila, berteman sama es. Eh gue emang gila deng, mau aja berteman sama es berwujud manusia gitu.
"Hm ... maksud saya Aldo," ucap Stella tersenyum canggung.
Bik Lastri hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku anak remaja zaman now, bisa-bisanya juga ngaku saling gak suka tapi punya nama panggilan sayang sendiri, begitulah pikiran bik Lastri.
"Yaudah gih sana, den Aldo udah nunggu noj di atas." Stella langsung lari ngibrit ke atas kamar setelah pamitan dengan bik Lastri.
Gusti Allah hamba harap non Stella adalah orang yang kau pilih untuk mengembalikkan warna dan cahaya dalam kehidupan den Aldo.
Bik Lastri lalu melangkahkan kakinya kembali menuju ke arah dapur setelah melihat Stella bener-bener hilang dari pandangan matanya.
***
Brak
Stella mendobrak pintu berwarna putih tersebut dengan keras, nafasnya tersengal-sengal saat ia sampai di atas, seluruh kekuatannya ia kerahkan agar ia bisa tepat waktu dalam memenuhi keingan yang mulia raja.
"Kenapa lagi lo?" tanya Stella to the poin.
Ya Allah enak bener tuh manusia, hamba lari-lari datang kemari, dan dia malah asik dengerin musik pakai headset di sono sambil selonjoran.
Stella menatap Aldo yang juga menatapnya dari atas tempat tidur.
"Kemari," ucapnya datar.
Dengan kekesalan yang teramat sangat, Stella berjalan dengan cepat, tanpa memperdulikan barang-barang yang terjatuh karena ia tabrak.
"Apa?" berkacak pinggang sambil membulatkan mata.
Aldo melepaskan headsetnya, menarik lengan Stella yang bertengger di pinggangnya dengan kuat, membuat gadis itu tersungkur jatuh ke atas dadanya Aldo.
"Biarin gue begini sebentar," lirih Aldo yang membuat pergerakan Stella terhenti.
Dia terdiam, masih heran dengan perubahan sikap Aldo yang tiba-tiba jadi dramatis gini, namun dia juga seperti merasakan rasa sakit yang teramat saat Aldo mendekapnya dengan erat.
Ni bocah napa, kok tiba-tiba gini. Hati ini juga, kenapa sakit saat melihat dia kayak gini. Stella membatin saat Aldo tak kunjung melepaskan pelukannya. Lama-lama Stella membalas pelukan itu. Satu tangannya ia gunakan untuk membelai rambut Aldo dan satunya lagi balas mendekap tubuh tegap Aldo.
"Lo kenapa?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Stella setelah sekian lama diam membisu.
Hening, tidak ada jawaban.
Stella melepaskan pelukannya, namun Aldo seolah enggan melepaskan sandaran yang baru ia dapatkan.
Stella menoleh kesamping, matanya sesaat bertemu dengan mata elang milik Aldo.
"Kenapa Al?" tanya Stella lagi yang tadi tidak mendapatkan respon dari Aldo.
Aldo menggeleng di ceruk leher Stella.
Lantaran tak mendapatkan jawaban lagi, Stella melepaskan pelukan Aldo dari tubuhnya, menunduk menatap mata Aldo yang kelihatan sayu dan murung.
"Kenapa? ada masalah apa? kalau lo punya masalah cerita aja sama gue, bukannya kita sudah berteman?" Stella bertanya dengan senyum manisnya.
Aldo tampak menghembuskan nafas berat.
"Gue mau minta sesuatu sama lo boleh?" Aldo menatap penuh harap kepada Stella, dan Stella mengangguk dengan senyum manisnya.
Menarik nafas dalam-dalam, "Jangan pernah tinggalin gue." mata Aldo menatap penuh iba ke arah Stella. Stella mampu melihat ada sebuah kesedihan di mata bernetra coklat itu.
"Gue gak mau sendiri lagi," lanjutnya yang menjatuhkan diri ke pelukan Stella kembali.
Stella mengelus-elus kepala Aldo, menyalurkan sebuah kekuatan kepada seseorang dalam dekapannya.
"Gue gak mau kesepian lagi, gue capek begini, gue butuh sesorang untuk tempat gue berlabuh."
"Semuanya pergi ninggalin gue, tinggal ada lo Stel, gue harap lo juga gak bakalan ninggalin gue." Aldo semakin menenggelamkan kepalanya di curuk leher Stella.
"Bebaskan gue dari ruang kegelapan ini Stel, gue gak mau lagi di sini, bawa gue pergi."
Ucapan Aldo bagaikan belati yang menikam hatinya, terdengar sangat menyayat hati. Bagaimana bisa anak serapuh ini selalu berpura-pura kuat.
Sakit, itu yang dirasakan Stella. Ntah mengapa dia mampu merasakan apa yang dirasakan Aldo sekarang.
Tersirat sebuah luka dari nada bicaranya. Seberapa dalam mereka menggoreskan luka itu di hati sang pemilik hatinya? seberapa besar luka yang mereka ciptakan? kenapa mereka begitu kejam kepada anak yang bahkan terlihat begitu rapuh, kenapa mereka kejam meninggalkannya tanpa sebuah tumpuan hidup?
"Gue tau apa yang lo rasakan, dan gue ada buat lo, gue gak bakalan ninggalin lo sama seperti mereka." Stella mengelus kepala beserta bahu Aldo.
"Stel, janji sama gue, lo jangan pergi, lo harus mau jadi labuhan gue, jangan tinggalin gue, gue gak mau kesepian lagi." terdengar isak tangis kecil dari mulutnya. Stella tak kuasa menahan haru, dia juga menumpahkan air mata sembari memeluk Aldo.
"Gue janji," ucapnya.
****
NB: Jangan lupa Like, Komen, Vote and Rate, makasih:)