BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
episode 16



*Bianca pov*


"Stel ... tungguin gue ...." Aku berlari mengejar Stella yang pergi dari kelas begitu saja tadi.


Stella berhenti sejenak, menatapku yang ngosh-ngoshan mengejarnya.


"Stel, lo kenapa sih? ada masalah apa lo sama tu manusia es? cerita ke gue." Dengan nafas yang masih tersengal- sengal, Aku mencoba memujuk Stella untuk bercerita padaku.


"Nggak ada Bi, gue kesal aja sama tu curut, masa tadi dia nabrak gue, terus bukannya minta maaf, malah ngatain gue cewek gak ada peraturan, kesal tau ... yah walaupun sebenarnya dia benar, tapi tetap aja gue gak terima." Tangannya terkepal kuat, raut wajahnya terlihat tidak bersahabat, ia memanyunkan bibirnya, jelas sekali terlihat jika seseorang yang ada di hadapanku sekarang sedang kesal.


" Sabar Stel, lo kayak gak tau aja tuh sifat tu es." Aku merangkul pundaknya sembari menenangkan amarahnya.


"Udah deh gak usah gitu mulu mukanya jelek, dari pada lo marah-marah mending kita ke kantin, biar lo lebih tenang gitu, jadi wajah lo gak jadi jelek, gara-gara mikirin dia yang gak penting."


"Benar tuh, ngapain sih gue mikirin dia, emang dia siapa gue? mending kita nongkrong."


"Tuh tau, yaudah yuk kantin, ntar lagi masuk kelas nih."


Saat kami ingin jalan tiba tiba Stella berhenti sambil memasang wajah bingung.


"Kenapa Stel? "


"Gue lupa nanya sama lo." Tatapannya terlihat serius terhadapku, membuatku menjadi penasaran sekaligus tegang.


"Nanyak apa? " Ucapku yang juga mulai serius.


"Dapet ilham dari mana lo? Kok bisa sebijak sana itu sih, perkataan lo tadi?" seketika ekspresiku berubah menjadi datar.


Sumpah ingin bangat rasanya Ku bejak– bejak nih anak, sayangnya dia sahabatku, udah cape cape serius sampek tegang begini, tau tau dia cuman mau nanyak hal begitu doang.


Keselkan?


Tapi mau gimana lagi, aku gak bisa marah sama dia, alhasil aku hanya bisa menghembuskan nafas berat mendengar pertanyaannya.


Meskipun dia baru masuk dalam dunia persahabatan kami, rasa sayangku terhadapnya sama besar terhadap rasa sayangku sama yang lain. Itu sebabnya Aku gak bisa marah sama dia.


"Gue pikir lo mau nanya apaan Stel, udah tegang gue menunggu pertanyaan lo, ternyata lo hanya mau nanya hal gak penting kayak


gini? " Aku menatapnya dengan ekspresi datar sedatar jalan tol, dan yang ditatap hanya tercengir lebar di sana, sumpah kesel bangat aku, andaikan dia bukan sahabatku, mungkin dahku bunuh nih bocah.


"Hehe sorry Bi, gue penasaran aja, tiba-tiba lo bisa berubah sebijak ini." Dia merangkul pundakku seolah tak ada kesalahan yang baru ia lakukan, dia menarikku menuju kearah kantin.


***


"Udahlah Bi ... jangan cemberut aja tuh muka, gue akui deh gue salah." Dia berkata sembari menyodorkan semangkuk bakso dan orange juice.


Sepertinya ini adalah sebuah sogokan untukku, agar aku bisa memaafkan kesalahannya, ya walaupun aku sebenarnya gak marah.


Tapi lumayan lah dengan berpura pura marah, aku bisa dapat semangkuk bakso dan segelas orange juice secara gratis ... tis ... tis.


"Apaan nih? Lo mau nyogok gue? " Aku menatap Stella dengan intens sambil mengambil makanan yang diberikannya.


"Dih siapa juga yang mau nyogok lo." Dia mengambil tempat duduk di depanku.


Saat mereka sedang makan tiba-tiba saja ada yang menggebrak meja mereka.


"Wei ... enak bat yah lo pada, gue nyariin kalian kemana-mana, ternyata kalian di sini asyik-asyik makan sendiri." Ujar Amanda.


Yah ternyata yang menggebrak meja tadi adalah Amanda.


"Apaan sih, kalau mau makan juga pesan sono, jangan gangguin orang lagi makan, lagi enak-enak jugaan."


Ku sembur aja tuh sekalian curut yang satu itu, gak tau apa dia Aku sedang kesal, lagi enak-enakan makan di gebrak, aneh.


Seketika Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah mereka, memberikan tatapan tajam, sementara mereka hanya diam tak acuh kepadaki. Merasa tak di perhatiin Aku kembali menatap baksoku dan menyantapnya.


Senyap ... sunyi, itulah yang terjadi sekarang, karena kami sibuk bergulat dengan fikiran kami masing-masing, hingga tak terasa bel masuk pun berbunyi.


****


"Wah sayang-sayang aku habis pada dari mana?" Bima berjalan ke arah kami sambil merentangkan tangannya, langsung saja ku berikan tatapan membunuh kepadanya, seketika raut wajahnya berubah dan menurunkan tangannya, aku langsung pergi dan melewatinya begitu saja.


"Dia kenapa sih, baru masuk juga." Bima menatap Stella dan Amanda secara bergantian, kemudian melirik ke arahku sebentar. Mereka berdua mengedikkan bahu dan melenggang masuk ke dalam kelas.


"Ah ... hari ini kenapa sih? Tadi yang marah stella, sekarang Bianca, ada apa ini? Apa mungkin ini bulan pms? Jadi cewe-cewe pada sensitif semua hari ini." Terlihat Bima mengacak rambutnya kesal, kemudian kembali masuk ke dalam kelas.


***


Tak butuh waktu lama kelas di mulai, keadaan menjadi senyap, tak ada yang berani bicara seperti biasanya. Karena hari ini yang mengajar adalah pak Juan, si guru olahraga tampan.


Pak juan emang jarang sekali bicara, kecuali saat iya mengajar, dia juga gak pernah menunjukkan amarahnya seperti guru-guru lain, tapi auranya itu loh guys, auranya ... auranya sangat mencekkam, seperti kita sedang berada di rumah angker sendirian, tau gak?


Tanpa ba–bi–bu lagi, ia langsung menyuruh kami ke luar dan berganti pakaian.


****


Seluruh anak kini telah berkumpul di lapangan, berbaris rapi tanpa ada yang mau membuat kegaduhan, Devano saja yang terkenal bandel namun cool, tiba-tiba diam dan tak berani membuat masalah saat pelajaran pak Juan.


"Semuanya lari 8 kali keliling lapangan, cepat!"


Semua anak membulatkan matanya mendengar printah dari sang guru, bagaimana bisa dia menyuruh lari 8 kali keliling lapangan sekolah ini, sementara 3 saja mungkin sudah membuat orang mau mati, kalian tau sendirikan, luasnya lapangan sekolah ini, tapi tak ada yang berani untuk membentah ucapan seorang Juan, kecuali satu anak yaitu ... Stella.


Saat mereka hendak berlari, tiba-tiba saja Stella mengangkat tangannya dan berbicara lantang di depan Pak Juan.


"Pak permisi, maaf sebelumnya saya lancang berbicara begini, tapi apakah bapak Berpikir, sebelum menyuruh kami lari di lapangan ini sebanyak 8 kali? Bapak taukan, lapangan sekolah ini luasnya gimana? 3 kali saja belum tentu kami sanggup, tapi bapak sekarang malah menyuruh kami lari 8 putaran, bapak mau buat anak orang mati?" Dengan beraninya Stella berkata begitu kepada pak Juan, dia bahkan berkacak pinggang sambil menatap intens ke arah pak Juan, dan pak Juan juga menatapnya dengan tajam.


Baru kali ini saya lihat ada orang yang berani menentang keputusan saya, apa lagi dia seorang siswi di sekolah ini, sungguh luar biasa. –Batin Pak Juan.


Semua orang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Stella, yang begitu berani melawan pak Juan. Mereka takjub dengan Stella, tapi bagi Stella itu adalah hal yang lumrah.


Kalian semua tentu ingat bukan gimana kelakuan Stella di sekolahnya yang lama? Jika dia berani melawan guru-guru di sana hanya untuk bolos, maka kenapa tidak dengan sekarang ini, apalagi yang dikatakannya benar.


"Stel ... lo apa-apan sih? Jangan bantah printah pak Juan, apa lagi sampai berkacak pinggang seperti ini." Bianca menghapiri sahabatnya itu sambil membisikkan sesuatu.


Dia tidak perduli lagi dengan kekesalannya sekarang ini, sekarang yang dia pikirkan giman nasip sahabatnya itu.


"Gih minta maaf buruan sama pak Juan, sebelum ia jadi marah." Bianca menyenggol lengan Stella agar Stella mau bergerak.Tapi tak membuahkan hasil sama sekali. Stella tetap bersikukuh pada pendiriannya, baginya dia hanya membela kebenaran, jadi tak perlu untuk meminta maaf.


"Gue gak mau, dia yang salah, enak aja dia nyuruh kita lari 8 putaran, dia pikir kita mesin robot apa? Robot aja mungkin juga gak bakalan sanggup, ini sih namanya bukan olahraga tapi penyiksaan." Bisik Stella tapi Tatapannya tak terlepas dari pak Juan.


"Gue tau Stel, masalahnya ini .... " Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya pak Juan sudah angkat bicara.


"Kemari kamu, yang berani protes terhadap saya," ucap pak Juan dengan datar, sedatar tubuh kamu.


"Stel, buruan minta maaf, gue gak mau lo dihukum sama dia." Stella mengalihkan pandangannya ke arah Bianca, Terlihat sangat jelas, tersirat sebuah kekhawatiran di wajah sahabatnya itu, bahkan sahabatnya itu menatap dirinya dengan sangat nanar.


Stella sangat mengerti kekhawatiran sahabatnya itu, tapi dia berusaha setenang mungkin untuk bisa menenangkan sahabatnya itu.


"Lo tenang aja, gue pasti baik-baik saja." Dia mengelus pundak sahabatnya itu dan pergi berlalu meninggalkannya yang masih mematung.


***


NB:JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE.


TRIMAKASIH:)