BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 43



Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍


.


.


Tiga bulan sudah beralalu Devano meninggalkan mereka, kehidupan para sahabatnya juga sudah kembali normal seperti biasanya. Stella juga sudah perlahan-lahan mulai berubah menjadi baik tanpa harus meninggalkan teman-temannya.


"Woi Stel, lo ikut kaga nanti pulang sekolah kita jalan-jalan ke mall, pen nongski nih gue." Amanda bertanya layaknya preman pasar yang ingin memungut biaya pajak kepada pedagang kecil.


"Woah jelas dong, tapi bentar gue selesain dulu tugas-tugas gue, terus pamit ke Aldo gak ikut belajar bareng dulu, baru deh kita capcus." Stella masih berkutat dengan buku-buku pelajarannya, menyelesaikan tugas yang diberikan guru saat mata pelajaran tadi.


"Wah–wah, lihat teman kita guys, sudah berubah 180 derajat, dari yang bar-bar, suka cabut, mainannya suka berantem, sekarang lihat tuh, temannya buku terus hampir mirip tuh sama si ketua kelas somplak," ucap Amanda melirik Stella bergantian dengan melirik Kevin.


"Apaan sih lo Man, belum pernah lihat pulpen melayang yah?" sewot Kevin yang merasa tidak terima dikatakan somplak oleh Amanda.


"Kalau itu Vin, gue udah sering lihat, bahkan lihat pulpen hilang gue juga udah pernah, hahaha." Amanda tertawa mengejek Kevin, membuat raut wajah Kevin seketika berubah semakin masam.


Tawa mereka pecah bersamaan dengan guyonan-guyonan dari Amanda dan juga Kevin yang selalu saja berantam saat bersitatap muka.


****


Bel istirahat telah berbunyi, seluruh siswa dan siswi langsung berhamburan menuju tempat terindah di sekolah tersebut, yaitu kantin.


"Stel kantin yuk." Bima merangkul pundak Stella yang masih menulis itu. Dia menoleh, "Kalian deluan aja, ntar gue nyusul ada yang mau gue omongin dulu sama si Aldo." Stella tersenyum manis, membuat semua temannya mengangguk dan pergi deluan ke kantin.


"Al, tunggu." Stella menghampiri Aldo yang hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Apa?" Aldo menoleh malas menatap Stella.


"Nanti gue gak belajar bareng dulu yah," Stella berusaha memasang wajah imut dengan senyum semanis mungkin agar Aldo mau mengizinin dia pergi nanti.


"Kenapa?" Aldo mengerutkan keningnya.


"Gue mau pergi bareng teman-teman gue dulu," ucap Stella.


"Mau ngapain?" tanya Aldo semakin gencar.


"Hehe, mau nongkrong bareng, boleh yah? gue udah lama soalnya gak ngumpul bareng mereka." Aldo menatap Stella datar, sebenarnya ia merasa sedikit tidak suka, ketika Stella berada jauh darinya, tapi apa boleh buat, yang dikatakannya benar. Semenjak kepergian Devano Stella lebih banyak menghabiskan waktunya dengan belajar barang bersama dirinya.


Sebenarnya gue gak pengin lo jauh dari gue, tapi gue bisa apa Stel? gue juga pengin lihat lo ketawa lagi seperti itu. Ntahlah perasaan apa yang kini sedang gue rasakan.


Gue merasa bahagia ketika lo bahagia, gue juga merasa sedih ketika lo sedih, ntah mengapa ada rasa tidak suka saat lo dekat-dekat dengan Bima ataupun Kevin, meski gue tau mereka adalah sahabat lo.


"Oke, tapi besok lo harus belajar lebih banyak lagi, menggantikan waktu yang ini, gimana?" Stella langsung mengiyakannya tanpa pikir panjang lagi, dia juga langsung berhambur kepelukan Aldo sangking senangnya.


"Thanks Al, thanks." Stella melepas pelukannya dan langsung berlari meninggalkan Aldo yang mematung karena reaksi Stella yang tiba-tiba memeluknya.


Kok hati gue jadi deg-deg–an gini dipeluk tuh anak sih, apa bener yah gue jatuh cinta beneran sama tuh cewek. Aldo memegang dadanya yang terasa nyut-nyutan sehabis dipeluk oleh Stella tadi, sedetik kemudian senyuman terbit di wajah tampannya.


****


"Al, tunggu ...." Aldo menghentikan langkahnya saat sang empu mendengar namanya dipanggil dari suara yang sangat malas Aldo dengar.


Cewe itu berdiri tepat di hadapan Aldo sekarang, dengan nafas yang tersengal-sengal, ia memegangi perutnya dan menatap Aldo dengan wajah yang memelas.


"Lo benaran gak ada niatan buat maafin gue dan balikan lagi?" menatap penuh harap


"Gak!!" sahut Aldo cepat dengan nada yang super duper datar.


"Al, ayolah ... gue khilaf, gue minta maaf sama lo." Sandra meraih tangan Aldo namun segera ditepis secara kasar oleh Aldo.


"Jangan pegang-pegang," ucap Aldo ketus.


"Oke, gue gak bakalan megang lo, tapi please maafin gue, kita balikan lagi yuk, gue benaran masih sayang sama lo." Sandra menatap wajah Aldo penuh harap. Sementara yang ditatap masih memasang wajah yang super dingin.


Kenapa hati gue jadi sakit gini yah, ngelihat dia sama cewe lain? mungkin gak sih gue cemburu? masa iyah gue suka sama Aldo? bukannya gue sukanya sama Devano yah? tapi saat sama Devano gue gak pernah ngerasain hal semacam ini saat bersama Aldo.


Ah ... kalau gue benaran suka sama Aldo bisa malu gue. Masa iyah gue suka samanya? nanti kalau perasaan ini cuman gue aja yang ngerasain, kan malu. Bisa-bisa dia naik telinga lagi. Tanpa sadar Stella menggenggam erat tangannya, menatap kesal kearah sepasang pemuda-pemudi yang sedang asyik berbicara tersebut.


"Woi Stel, ngelamunin apa hayo ...." tepukan Bianca di bahu Stella, membuatnya tersadar dari lamunan panjangnya.


"Ah, gue gak ngelamun kok," ucap Stella gelagapan.


"Masa? tuh wajah kenapa panik gitu?" Bianca menunjuk wajah Stella yang terlihat tiba-tiba panik.


"Mana?" Stella langsung memegangi wajahnya. "Nggak ada kok, gue gak panik." Bianca langsung tertawa keras saat melihat wajah Stella yang berubah kaget mendengar penuturannya.


"Udah deh, lo jadi ikut kita ke Mall kan?" tanya Bianca yang langsung di angguki Stella. Bianca langsung menggandeng bahu Stella membawanya berkumpul bersama yang lain.


***


"Gak," sahut Aldo datar.


"Kenapa?" Sandra langsung mundur seketika saat melihat tatapan membunuh tertuju ke arahnya.


"Gue gak sudi sama cewe kayak lo lagi." Aldo hendak berjalan meninggalkan Sandra, namun tib-tiba ....


"Pasti karena cewe bar-bar yang lo bimbingkan?" Aldo langsung memutar tubuhnya menghadap Sandra.


"Gue tau lo pasti suka sama cewe itu, gue sering lihat lo bareng sama dia, dan tatapan lo sama dia berbeda dari tatapan lo sama orang lain." Sandra berteriak sambil berkacak pinggang terhadap Aldo.


Aldo berjalan perlahan mendekati Sandra, membuat Sandra merasa takut dan perlahan-lahan mundur menghindari langkah Aldo, sampai tak terasa tubuhnya mentok ke koridor sekolah yang saat itu sedang sepi.


"Kalau iyah kenapa?" bisik Aldo di telinga Sandra, sampai membuat Sandra merasa merinding mendengar suara Aldo.


"Ja ... jadi gu ... gue benarkan, lo emang suka sama tuh cewe, makanya lo nolak gue buat balikan lagi," ucap Sandra terbata-bata.


"Hahaha," Aldo tertawa kemudian melayangkan tatapan benci kepada Sandra.


"Iyah lo benar, gue suka sama dia." masih menatap Sandra.


"Apa sih yang lo suka dari dia? dia itu bar-bar, pembawa sial, lo lihat aja deh temannya mati karena di ...."


"Tutup mulut lo!!" Aldo langsung memotong perkataan Sandra dengan sarkas.


"Dia bukan pembawa sial," Aldo menekankan setiap perkataannya kepada Sandra, menatap gadis itu penuh amarah. Ntah kenapa dia merasa tidak terima jika Stella di jelek-jelekkan di hadapannya.


"Dia jauh lebih baik dari pada lo." Aldo menunjuk wajah Sandra sebelum ia benar-benar meninggalkan gadis itu.


"Aldo, lihat saja, gue bakalan dapatkan lo kembali, gue bakalan buat lo dan Stella gak bakalan pernah bersatu, pegang kata-kata gue." teriak Sandra saat tubuh Aldo sudah menjauh darinya.


****


NB: JANGQN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE:)


Hua.... hai readers kesayangan aku mau minta sarannya nih, untuk novel kedua aku, saat novel ini sudah tamat dan bisa menembus 11k like😁. Kalau gak tembus gak jadi buat, heheh😁😁.


Rumah Berdarah—> horor


Misteri ruang tari—> horor


Lorong waktu —> fantasi


Haha, aku berharap kalian lebih banyak pilih horor, soalnya genre fantasi aku masih lemah😂😂, tapi gak papa itu pendapat kalian.


Pilih Yak🤗