
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah🤗, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah😍😍
.
.
"Haha, nikmatin hari terakhirmu sayang." Sandra mengerlingkan sebelah matanya, tersenyum puas hingga pergi menghilang dari hadapan Stella.
Duar ....
Terdengar suara ledakan tak lama setelah kepergian Sandra dari tempat itu.
Disisi lain, Aldo sedang menunggu Stella dengan terus mondar-mandir. Dia menyesal menyuruh Stella untuk mengusir Sandra dari hadapannya. Harusnya dia tau bagaimana nekadnya Sandra sejak dulu bersamanya. Sandra bisa melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Tuh cewe kemana sih, kok gak balik-balik juga." Aldo mengepalkan tangannya, masih celingak-celinguk memandangi gerbang TPU diujung sana, berharap Stella datang menemuinya. Di saat keadaanya sedang cemas, seorang cewe tiba-tiba datang dan langsung bergelayut manja di lengan kokohnya. Aldo melirik sinis sebentar, kemudian menghempaskan tangan itu dengan kasarnya, hingga sang empu meringis kesakitan.
"Mana Stella?" tuduhnya secara langsung.
"Apaan sih, mana aku tau Aldo sayang, emang ngapain aku harus ngurusin si ja***ng penghancur hubungan kita," ucap Sandra acuh.
"Jaga omongan lo. Hubungan kita gak ada sangkut pautnya sama dia, camkan itu." Jari telunjuknya mengacung keras kearah gadis itu, menggeram kesal hingga membuat gadis itu sedikit meringsut ketakutan.
"Y–ya–gu–gue minta maaf," ucapnya terbata-bata. Ekspresi Aldo kembali berubah datar terhadap gadis itu.
"Dimana Stella," ucap Aldo datar tanpa basa-basi lagi.
"Gu–gue gak tau, tapi yang pasti Stella gak bakalan pernah kembali lagi." Aldo menatap tajam ke arah gadis tersebut, rahangnya seketika berubah keras, wajah merah padam kini sangat menampakkan kalau orang yang sedang berdiri di hadapan gadis tersebut sangat marah.
"Lo apain dia?" dingin namun sangat menusuk.
"Gu–gue gak ngapa–ngapin dia kok," ucap Sandra terbata-bata sambil mundur perlahan-lahan dari hadapan Aldo.
Aldo mendengus kesal, percuma saja bertanya pada anak ini, dia tidak akan memberitahukannya semudah itu, lebih baik dia mencari Stella sendirian, begitu pikirnya.
"Kalau Stella sampai terluka, gue gak bakalan pernah maafin lo," ucap Aldo dingin kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Disisi lain, orang-orang sudah berkumpul memadati lokasi peledakan mobil tadi, syukur tak ada korban yang meninggal dunia. Hanya ada dua orang gadis yang terluka karena percikan api dan satu pemilik mobil yang pingsan dengan luka-luka bakar di tubuhnya.
Aldo menatap kerumun itu dengan acuh, awalnya Aldo sama sekali tidak tertarik dengan segerombolan masa yang hanya menontoni kecelakaan tersebut tanpa ada niatan baik menolongnya, namun saat manik matanya menangkap sesosok yang sangat dia kenali melalui rambut dan postur tubuh orang tersebut, Aldo langsung berlari menerobos segerombolan manusia-manusia yang tak berprikemanusiaan itu.
"Stel, lo gak papa." Stella terkejut melihat siapa yang datang menghampirinya dengan raut wajah khawatir tersebut.
"Al? lo ...." bibirnya dibungkam seketika oleh jari telunjuk Aldo.
"Gue gak papa, untung ada Amanda tadi yang langsung narik gue." Stella melirik Amanda yang tersenyum manis ke arahnya meskipun seluruh tubuhnya terasa remuk saat menyeret Stella menjauh dari lokasi ledakan, meski percikan api tersebut tidak bisa dihindari oleh mereka.
"Kalau nggak ...," Stella melirik Aldo kembali,
"Gue udah mati mungkin, dengan keadaan lebih mengenaskan dari supir tersebut," ucap Stella dengan senyum manisnya.
"Siapa yang ngelakuin ini?" tanyanya dengan nada datar namun tersirat akan sebuah ancaman.
Stella melirik Amanda, seolah bertanya 'bagaimana ini?' dan Amanda juga menjawab melalui kepalanya yang mengganguk, seolah berkata, 'yasudah katakan saja.'
"Hm, bukan siapa-siapa, ini murni kecelakaan semata," bohong Stella. Padahal udah jelas-jelas dia didorong oleh Sandra saat menyelamatkan nyawanya Sandra sendiri.
"Jujur!"
"I ...."
"Sandra yang ngelakuinnya." Ucapan Stella terputus, kedua pasang mata tersebut menoleh menatap sang pemilik suara dengan kedua ekspresi yang berbeda. Satunya menatap terkejut dan satunya menatap kesal.
"Iyah Al, Sandra yang ngelakuin," ucap Amanda memperjelas maksudnya.
"Man, lo apaan sih," lirih Stella bahkab hampir seperti sebuah bisikan halus.
"Udah deh Stel, ngapain lo bohong, jujur aja kenapa sih, gue juga bakalan laporin Sandra kepolisi atas tuduhan pembunuhan, lo mau apa?" Ucap Amanda kesal. Dia merasa bahwa Stella terlalu baik kepada orang yang sudah berusaha mencoba membunuh dirinya.
"Sandra!!" Aldo menggeram kesel, dia ingin bangkit dari tempat duduknya, namun tangan Stella lebih dulu mencekal pergelangan tangan Aldo, dia menggeleng, seolah mengatakan, 'jangan lakuin apapun'. Aldo hanya bisa mendengus kesal dengan perasaan yang campur aduk bak es campur 5 ribuan.
Tak lama polisi datang memagari lokasi tersebut dengan tali pembatas milik polisi. Seluruh korban di evaluasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, termasuk Stella dan juga Amanda.
Sebelum itu Amanda sempat memberikan sebuah yang berisi vidio Sandra yang mencoba membunuh Stella dengan mendorongnya kearah mobil yang ingin meledak. Kini Sandra masuk dalam daftar pencarian polisi sebagai narapidana yang dituntut atas tuduhan percobaan pembunuhan, sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP. Dimana Sandra bisa terjerat hukuman penjara seumur hidup atau penjara dengan waktu tertentu dan juga hukuman mati.
****
Wkwkw, ini hasil tuntutan dari feb feb beibeb aku, walaupun malas dan mageran aku tetap ngetik, meski siapnya udah jam tengah sebelas😆😆. so berterimakasihlah padanya yang telah membuatku luluh untuk up lagi hari ini.😍
kalau tak? aku mah malas update, soalnya kalian jarang like,komen dan vote🙁😆,baik aku ngerjain urusan dunia realku dari pada terus nyisihkan waktu update tapi gak ada yg vote dan like😆😆
udahlah, janjiku dah lunas feby😍😘
NB: Jangan lupa Like, Komen dan Vote