BAD GIRL VS ICE MAN

BAD GIRL VS ICE MAN
Episode 22



Hari-hari masa sulit anak sma Garuda telah berlalu, Meskipun ujian tersebut tidak berjalan terlalu mulus, setidaknya ujian tersebut terselenggarakan secara baik.


Untuk merayakan terlepasnya dari kesengsaraan, the six mouse friends merencanakan liburan ke puncak, tapi liburan kali ini sedikit berbeda, karena mereka tidak berlibur berenam saja, mereka juga mengajak Aldo dan Stevi untuk pergi berlibur barang. Semenjak ujian Aldo dan Stevi mulai dekat dengan the six mouse friends tersebut. Meskipun begitu Aldo tetap saja dingin dan kaku kepada setiap orang termasuk the six mouse friends yang sudah menjadi temannya, ralat maksudnya mereka yang menjadikannya teman.


Aldo bisa ikut liburan bersama the six mouse friends sebab ia pernah menolong Bima saat ujian, dan lagi pula Aldo adalah guru pembimbing Stella, jadi the six mouse friends memutuskan untuk mengajak Aldo berlibur bersama mereka, yah ... terkecuali Stella. Dia amat menolak keputusan itu, dengan alasan tidak menyukainya. Sempat ada perdebatan antara Stella dan kawan-kawannya, bahkan bukan hanya Stella, Aldo juga tidak ingin ikut sebenarnya, tapi dengan rayuan-rayuan maut dari teman-teman Stella, akhirnya ia menyerah juga dan terpaksa ikut dengan mereka. Bagaimana dengan Stella? Dia juga jadi terpaksa dengan keputusan itu, karena diancam oleh teman-temannya yang akan melaporkan Stella kepada nyokapnya atas kasus yang dilakukannya beberapa hari yang lalu, ia nyokap Stella belum mengetahui soal masalah Stella yang satu itu, dan Stella sendiri enggan untuk memberitahukannya, sementara kepala sekolah sengaja tidak memberitahukannya karena ingin melihat perubahan Stella sendiri terlebih dahulu.


Nah sementara Stevi bisa dengan mereka atas keinginan Amanda, karena ia merasa sangat berhutang budi kepada Stevi yang sudah mau memberikan asupan gizi selama ujian kepadanya dan the six mouese friends.


So ... Jadilah mereka berlibur dengan 8 orang.


***


"Semua barang udah masuk semuakan kedalam bagasi? " Tanya Devan yang sedang merapikan bagasi mobil.


"Sudah, oh iyah, mobil yang di tempati Stella udah dicek juga belom?" Tanya Bianca sambil ia mencek barang-barang yang akan di bawa ke puncak nanti


"Sudah kok. "


Yah mobil yag dipakai untuk berlibur ke puncak memang ada dua, mobil pertama berisikan Bianca, Devano, Stevi dan Bima.


Mobil kedua berisikan Aldo, Stella,Amanda dan juga Kevin.


***


Mobil yang berisikan Devano telah berangkat deluan, sementara mobil kedua sedang ribut mempermasalahkan siapa yang menjadi supirnya, karena tak punya pilihan lain, Kevin mengalah dan memutuskan untuk menjdi sopir.


"Man, lo di belakang yah, gue suka mabuk soalnya kalau duduk dekat es, bawaannya mau muntah terus. " Ucap Stella sambil melirik Aldo.


"Ogah ah, lo aja di belakang." Amanda langsung berlari masuk ke dalam mobil, di samping supir. Dengan perasaan kesal Stella mendengus dan terpaksa duduk bersama dengan Aldo di belakang, bersama dengan musuh bebuyutannya.


"Apaan lo lihat-lihat gue, gue cantik? emang iyah, dari lahir." Ucap Stella dengan pedenya.


Dan Aldo hanya bisa menatapnya jijik kemudian memasangkan headsed ke telinganya. Dia memilih mendengarkan musik dari pada mendengarkan ocehan Stella.


Di perjalanan menuju puncak, banyak hal yang terjadi kepada mereka salah satunya, harus menghadapi jalanan berlubang dan penuh becek.


Kepala Stella terjatuh ke pundak Aldo saat mobil tiba-tiba terguncang karena lobang, Aldo langsung mendorong kepala Stella menjauh dari bahunya, pergerakan dari Aldo membuat Stella membuka matanya, dia yang belum sepenuhnya sadar menatap Aldo dengan bingung, sementara Aldo terlihat tidak perduli dengan tatapan itu dan memilih mendengarkan musik.


Stella kembali memejamkan matanya, namun dia merubah posisi tidur menjadi menghadap ke arah jendela, dengan bantal leher yang mengganjal kepalanya, dia berharap agar kepalanya tak oleng lagi kebahu Aldo, dibakalan malu kalau itu sampai terjadi lagi.


"Man, lo tidur gak? " Kevin melirik Amanda yang tengah memejamkan matanya.


Dan Amanda hanya berdehem tanpa ada niatan membuka matanya.


"Ambilin gue permen dong, di kotak permen samping lo." Pinta Kevin.


Amanda segera membuka matanya dan mengbil sebuah permen, tak lupa pula ia membukakan bungkusnya, agar Kevin bisa lebih mudah memakannya.


"Nih .... "ucap Amanda sambil menyodorkan sebuah permen yang telah terbuka bungkusnya, Kevin membuka mulutnya dan langsung melahapnya.


"Thanks .... "Ujar Kevin yang masih fokus dengan jalanan, Amanda hanya mengangguk- angguk kecil saja.


"Stella udah tidur, coba lo lihatin deh Man." Ujar Kevin yang hanya diangguki oleh Amanda.


"Udah, tapi aneh deh Kev .... " Ujar Amanda sambil melirik Kevin sekilas.


"Bukannya Stella sama Aldo musuh bebuyutan yah, kok mereka bisa kelihatan akrab gitu?." Ujar Amanda.


"Akrab gimana? " Kevin mengerutkan dahinya, menatap Amanda dengan rasa penasaran.


" Lo lihat aja deh sendiri." Kevin langsung memutar kaca yang ada di atas dasbordh mobil mengarah ke belakang, dia tersenyum penu arti.


Nampak Stella yang menyenderkan kepalanya ke bahu Aldo, dan begitu juga sebaliknya, Aldo meletakkan kepalanya di atas kepala Stella yang menyadar kebahunya.


"Mereka serasi yah, sayangnya mereka sering bangat berntam." Ucap kevin dengan senyum mengembangnya.


"Iyah, mereka gak sadar aja kalau sebenarnya mereka itu cocok bangat. Alasannya aja musuh bebuyutan, tiap ketemu berantam, padahal ntar ujung-ujungnya jadi cinta."


"Kayak kita yah Man, musuh jadi cinta." Ucap Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Amanda.


"Apaan sih, siapa juga yang cinta sama kamu." Pipi Amanda seketika berubah menjadi merah merona, dia malu dengan perkataan Kevin yang mencoba menggodanya, meskipun dari luar Amanda terlihat tidak menyukai Kevin, dan selalu bersikap biasa saja, sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia sudah menyukai Kevin dari pertama mereka menjadi teman sekelas, tapi karena Kevin yang selalu membuatnya kesal, dia jadi terlihat sering marah-marah sama Kevin.


Kevin tersenyum melihat rona merah yang ada di wajah Amanda, dia senang bisa menggoda cewek yang selama ini selalu membuatnya tertawa dan bahagia tanpa alasan. Kevin memang belum menyadari perasaannya terhadap Amanda, tapi dia bisa merasakan perasaan aneh setiap kali bersama Amandanya.


"Kenapa wajah lo memerah gitu?" Tanya Kevin dengan nada menggoda.


"Gak ada kok, wajah gue gak merah." Amanda memalingkan wajahnya, agar Kevin tak bisa melihat rona merah di pipinya yang lebih lagi.


" Alah ngeles aja lo, lo naksir yah sama gue? makanya tuh pipi jadi merah pas gue godaain." Amanda langsung mencubit pinggang Kevin yang masih saja menggodanya. Kevin hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Amanda.


"Udah ah, lo fokus aja sama jalanannya, gue gak mau yah gara-gara lo terus ngegodain gue, kita jadi kecelakaan, gue gak mau, gue masih mau ngerasain yang namanya ena ena." Amanda berucap begitu polos, dia tidak tau sedang bicara apa dan sama siapa.


Kevin hanya menahan senyumnya mendengar ucapan polos dari sahabatnya itu.


****


Setelah perjalanan panjang yang penuh dengan lika-liku, akhirnya mereka sampai di sebuah villa milik orang tuanya Devano.


Villa tersebut terletak di atas bukit yang langsung menghadapkan mereka dengan jalanan di bawah.


Dengan ukuran tidak terlalu besar namun megah dan minimalis, chet putih bersih dengan halaman luas yang membentang disekitar villa




Pemendangan indahnya alam dapat kita saksikan secara langsung dari atas villa ini.


Rasa penat mereka seketika hilang begitu saja, saat memasuki kaki kedalam villa ini, yang pertama kali terlihat adalah sebuah bangunan kokoh, yang menjulang tidak terlalu tinggi. Didepan bangunan tersebut ada gardu masuk yang dihiasi bunga bunga, sungguh betapa terpukaunya mereka melihat keindahan villa milik orang tuanya Devano.


"Ayuk masuk .... " Ajak Devano yang melihat temannya terkagum-kagum melihat bangunan villanya tersebut.


Lagi-lagi mereka terpukau saat melihat interior di dalam villa tersebut, dengan lampu gantung yang berbentuk bunga besar dan meja makan yang terbuat dari kayu yang mengkilap, ini seperti parpaduan antara bangunan klasik dan juga moderen, Sungguh ini benar-benar sangat mengangumkam.


Devano langsung saja menunjukkan kamar mereka masing-masing, agar mereka bisa bersih bersih terlebih dahulu dan istirahat sebentar. Agar nanti malam mereka bisa melaksanakan acara BerbeQ-an.


****


NB: JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE