
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Sikap Stella yang asli, kini mulai kelihatan. Dia yang semulanya kelihatan baik, kini mulai menunjukkan prilakunya. Sudah banyak masalah yang Stella ciptakan di sekolah ini. Seperti sekarang ini, Stella sedang diproses di ruang BK, karena dia habis berantam dengan salah satu siswi di sekolah tersebut.
"Stel, kamu gak capek apa berantam mulu, kasihan orang tuamu, dia capek-capek kerja untuk bayar uang sekolahmu, tapi kamu di sini bukannya sekolah yang benar malah berantam mulu. Saya pikir kamu itu dulu orang yang baik tau gak sih." Pak Jono si guru bk yang terlihat culun namun galaknya yaampun ....
"Kali ini bukan saya yang salah pak, saya berani sumpah deh. Dia itu gangguin saya pak, bukan hanya saya tapi dia ngehina Amanda pak, masa dia bilang Amanda itu *******, hanya karena pacarnya ngobrol sama Amanda, saya mana terima pak, mentang- mentang dia kakak kelas, terus saya harus diam aja gitu pak?"
"Benar itu Amanda?" Pak Jono beralih melihat Amanda dan Amanda hanya mengangguk mengiyakan jawaban Stella.
"Huft ... Melani saya kecewa samamu, padahal kamu itu salah satu sisiwi teladan di sekolah ini, masa hanya gara-gara cowok kamu berani sampai mengatai temanmu sekejam itu? "
"Tapi pak ...."-Melani
"Sudah Melani ... saya gak mau dengar alasan apapun lagi, kalian semua bersihin lapangan sekolah sampai bersih pulang sekolah nanti. Saya gak mau tau, sekarang balik ke kelas kalian masing-masing."
"Baik pak"
"Dan untuk kamu Stella .... " Seketika langkahnya Stella terhenti, ia kembali menoleh ke arah pak Jono.
"Saya akan mencarikan kamu seorang pembimbing, yang mampu mengubah sikap badungmu itu."
Stella merasa tidak terima dengan keputusan pak Jono.
"Tapi pak ...." Stella menghembuskan napasnya, "Saya janji saya akan berubah, bapak gak perlu menyarikan saya seorang pembimbing." Stella menatap pak Jono penuh dengan permohonan.
"Saya gak percaya denganmu, tapi saya akan mencoba memberimu satu kesempatan, jika kamu tidak bisa menunjukkan perubahan dalam 1 minggu ini, terpaksa saya harus memberikanmu pembimbing yang serem, agar kamu bisa berubah." Stella seketika mengangguk penuh semangat, matanya berbinar-binar.
Lumayan satu minggu, dari pada gue harus pakai pembimbing segala, mending gue pura-pura berubah dulu. Dari pada ntar hidup gue makin kacau, mending gue turutin aja dulu perkataan si tua bangka ini.
Setelah pamit, Stella melangkahkan kakinya menuju kelas tercinta
****
Bel pulang telah berbunyi, seluruh siswa telah kembali, kecuali anak osis, anak ekscool, dan juga orang-orang yang tadi dihukum oleh pak Jono.
"Ini semua gara-gara lo Stel."-Melani.
"Enak aja gara-gara gue, gara-gara lo tu, coba aja lo gak gangguin kita-kita, terus gak bilangin Amanda *******, mungkin kita gak bakalan dihukum tau gak lo?"
"Semangat beibebs-beibebs aku." Suara teriakan Kevin membuat kami menoleh dan ternyata di sana bukan hanya ada kevin, melainkan Devano, Bianca, dan juga Bima yang sedang memberikan kami semangat.
Gue dan Amanda hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala kami melihat kelakuan mereka berempat.
"Kalian ngapain disitu? " Gue sedikit berteriak agar suara gue terdengar oleh keempat kawan gue tersebut.
"Nyemangatin kalian lah, setidaknya kalau kami gak bisa bantuin kalian ngebersihin lapangan ,setidaknya kami bisa nyemangatin kalian. " Teriak Bianca.
"Hm ... cocwetnya teman-teman akoeh " Ujar Stella, sedikit dimanja-manjain.
"Udah-udah kalian ini berisik sekali," Ujar pak Jono
"Hm ... Devano makasih, gue sayang lo," Teriak Stella.
"Gue juga sayang lo"
***
"Hm ... gue lelah bangat hari ini. "-Stella
"Kamu lelah Stel, nih gue bawain minum," ujar Devano.
"Hm ... makasih," Stella mengambil minuman yang disodorkan Devano padanya, sambil melemparkan senyum termanis yang ia miliki.
"Stella aja nih yang ditawarin, gue nggak?" Ujar Amanda pada Devano
"Nih minum untukmu yang ...." Bukan Devano yang berbicara, melainkan Kevin, orang yang sering berantem dengan Amanda, ketua kelas dari MIPA1.
cie .... sontak kata itu keluar dari mulut anak- anak biawak.
"Pepet terus Vin jangan kasih ampun," Sahut Bima.
"Idih najis, lo apa-apaan sih manggil-manggil gue yang–yang, emang gue kuyang," Ujar Amanda dengan tatapan jijik.
"Lo jangan galak-galak dong Man, ntar lo suka benaran lagi sama Kevin" Bianca semakin memanas-manasi suasana yang ada di sana.
"Amit-amit cabang baek, amit-amit ya Allah " Amanda mengetuk-ngetuk jidatnya pertanda ia tak ingin hal itu terjadi.
"Amit-amit atau amin-amin nih .... " Goda Devano.
"Amit-amit lah " Ucap Amanda sinis
"Ih yang ... kok kamu gitu bangat sih sama aku." Kini kevin memasang wajah melasnya seolah ia tak dianggap oleh pacarnya sendiri.
"Apaan sih lo, gue ini bukan sayang lo yah."
"Udah-udah kalian jangan berantam lagi, ayo pulang, sekolahan dah sepi nih, hari juga udah mau gelap." Stella menengahi perdebatan ini dan menyuruh mereka untuk pulang, alhasil mereka pun pulang kembali ke rumah mereka masing-masing.
***
NB:JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE
MKSH:)