
Budayakan like, komen dan vote setelah kalian membaca yah๐ค, dukungan kalian sangat berarti untukku, dan like serta vote itu merupakan salah satu dukungan kalian terhadap novel ini, bantu saya mengembangkan ini novel yah๐๐
.
.Hari ini mungkin adalah hari terburuk untuk kedua pasangan yang belum sempat menjalin kasih, dimana hari ini adalah hari pertemuan terakhir Stella dan Aldo. Karena setelah ini mungkin bakalan sulit untuk mereka bertemu dan bertatap mata, jangankan untuk tertawa bareng, bisa saling berkomunikasi dengan lancar aja syukur. Karena Stella tahu, jika Aldo sudah di sana, pria itu akan sibuk dengan kegiatan belajarnya.
"Gue harap, suatu saat nanti kita bisa kembali seperti dulu lagi," lirih Aldo. Dia mengelus puncak kepala gadis kesayangannya. Stella tersenyum hambar, tangannya terangkat mengusap pipi sang pujaan hati. "Gue harap juga begitu."
Kedua insan itu berjalan beriringan menuju bandara tempat keberangkatan Aldo nanti.
"Al, satu hal yang ingin gue katakan sama lo, gue sayang lo sama lo Al, maaf selama ini gue gak jujur sama lo tentang perasaan gue sendiri," lirih Stella. Ia menggapai tangan pemuda itu dan meletakkannya di sebelah kana pipinya.
"Gue udah lama tau itu, gue harap perasaan itu masih akan tetap ada hingga takdir mempertemukan kita kembali." Aldo mengelus pipi Stella dengan ibu jarinya. Menatap mata gadis itu dengan sendu.
Dari kejauhan terlihat beberapa pasang pemuda dan pemudi yang sedang menuju kearah Stella dan Aldo. Yah mereka adalah sahabat cecunguk Stella, yang diminta hadir oleh Aldo untuk menemani gadisnya nanti.
"Hai Al, hai Stel," ucap Bima sembari menepuk pundak Aldo pelan. Stella berbalik dan menatap teman-temannya dengan bingung. "Kenapa kalian bisa kesini?" tanya Stella spontan.
"Kami disuruh Aldo datang untuk nemani lo," ucap Bianca yang kini sudah merangkul bahu sahabatnya itu.
Stella menatap Aldo mencari kebenaran dari yang dikatakan temannya barusan, danAldo mengangguk sebagai jawabannya.
Aldo menarik tangan Stella menjauhi teman-temannya semenatara. Dia butuh waktu untuk terakhir kalinya berdua dengan gadis itu.
Angin berhembus kencang, membelai permukaan wajah keduanya. Awan mendung dan mentari yang bersembunyi, seolah menjadi tanda, bahwa mereka ikut merasakan kesedihan yang tengah dialami kedua insan itu.
Aldo meraih wajah sendu gadis itu, membelainya lembut.
"Stel, gue ingin lo tau, perasaan gue bakalan ada untuk lo selamanya, dan hanya akan untuk lo Stel, dan gue harap lo juga bakalan gitu" Aldo menarik tangan gadis itu ke genggamannya.
"Al, gue gak bisa janji sama lo bakalan jaga perasaan ini, karena gue gak bisa LDR Al," ucap Stella lirih.
"Lo bisa," ucap Aldo sarkas. Stella menggeleng dengan mata yang hampir meneteskan cairan sebening kristal itu.
"Gue takut Al, gue takut, suatu saat nanti lo gak bakalan bisa gue gapai lagi." Stella menundukkan kepalanya, enggan menatap Aldo dengan kondisinya yang seperti itu.
"Stel dengarin gue," Aldo menarik dagu gadis itu agar menatapnya. "Gue tau ini berat untuk kita berdua, tapi percayalah, takdir sudah menentukan semuanya Stel, dan gue percaya bahwa lo adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk gue." Aldo menarik gadis itu yang sudah menangis tersedu-sedu ke dalam pelukannya.
"Stel, maafin gue." Aldo mengelus puncak kepala gadis itu yang terus menangis.
Stella menguraikan pelukannya, ia menatap pemuda itu, "Jika emang itu yang terbaik, gue bakalan coba ikhlasin semuanya Al, karena cinta emang butuh pengorbanan." Stella mengusap kedua air matanya, ia mencoba tersenyum meski bibirnya terasa sangat keluh.
Suara microfon yang memberitahukan pesawat dengan tujuan ke inggris akan segera berangkat, membuat sepasang insan itu merasa semakin tersakiti.
Sungguh sebenarnya Aldo tak rela melepaskan Stella begitu saja, tapi dia bisa apa? keadaanlah yang menuntutnya harus melakukan itu semua.
"Al, gue sayang lo," ucap Stella yang masih menahan lengan Aldo.
"Gue juga, dan gue harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti, bukan sebagai teman tapi sebagai sosok pasangan yang akan terikat dalam sebuah hubungan." Aldo tersenyum sendu, dan untuk terkahir kalinya ia mengelus puncak gadis itu.
"Gue pamit Stel," ucap Aldo sembari mengecup kening Stella dalam, sebagai tanda perpisahan.
Genggaman tangan itu terlepas, dengan langkah yang berat, Aldo meninggalkan gadis itu dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Dalam diam, kristal itu terus jatuh membasahi permukaan bumi. Menatap nanar punggung seorang yang telah berhasil mencabik-cabik hatinya.
Alam ini seolah mengerti bahwa atma-nya sedang bersedih, menanti sosok pujaan hati kembali dalam kehidupan yang kosong tak berarti.
"Al, gue sayang lo sampai kapanpun hanya akan ada lo di hati gue," lirih Stella, setelah Aldo pergi menjauh.
ย
Manik mata itu terus menatap punggung orang yang telah berhasil mencuri hatinya, berharap bahwa sosok itu akan membalikkan badannya, namun semuanya nihil, itu hanya khayalannya saja. Dengan hati yang terluka parah, gadis itu berjalan gontai menuju teman\-temannya.
ย
โStella ....โ Langkah gadis itu terhenti, ia tersenyum dan segera membalikkan badannya, disaat namanya terdengar dipanggil oleh sosok yang sangat ia kenali suaranya.
โGue sayang lo Stel.โ Aldo mengecup puncak kepala gadis itu sangat lama, ia begitu enggan meninggalkan sosok yang baru ia dapatkan.
Stella menguraikan pelukannnya, menatap netra itu penuh harapan, hingga suara microfon kembali berbunyi, menyuruh agar seluruh penumpang segera memasuki peswatnya.
โAl,โ lirih gadis itu. Aldo mengusap air mata gadis itu yang tak henti-hentinya terjatuh.
โGue sayang lo, dan gue yakin kita bakalan ketemu lagi suatu saat nanti.โ Aldo berusaha melepaskan lengannya yang berada dalam genggaman Stella yang seolah enggan melepaskan tangannya.
โMaaf,โ ucap Aldo yang segera pergi dari tempat itu, ia takut semakin melukai perasaan gadis itu jika ia berlama-lama di sana.
Gue percaya Takdir akan mempersatukan kita kembali
Aldo menghembuskan nafasnya berat, ia terus berjalan tanpa mau membalikkan badannya menatap gadis itu lagi.
Hubungan kita mungkin akan terhenti, tapi ketika Tuhan menghendakinya alam sekalipun tak akan mampu memisahkan kita.
Dengan langkah gontai ia kembali kepada teman-temannya yang telah menunggunya dengan senyum yang mengembang.
***
setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tidak semua harapanmu dapat terwujudkan. Terkadang pengorbanan emang dibutuhkan untuk mendapatkan suatu yang lebih menguntungkan.
Jangan pernah berhenti berharap, hanya karena rasa kecewamu terhadapnya. Percayalah dia Tuhan yang tau segalanya.
Kau cukup berdoa dan serahkan semua hanya kepadanya. Berkeluh kesahlah kepadanya, niscaya ia akan mendengarkan dan membantumu keluar dari permasalahan.
Kau tau, bahkan keindahan sebuah pelangi hanya bisa kau nikmati setelah melalui hujan badai dan awan gelap.
****
Jika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan
Jika ingin ada pelangi maka harus melalui hujan dan badai.
Jika ingin cintamu abadi maka akan selalu diuji. ~Stella Pradginita Anindiya
End
***
Yeay, akhirnya novel absurd dan kacau balauku ini berakhir juga๐๐๐. Terimakasih untuk kalian semua para readers yang udah setia menunggu novelku update terus sampai tamat seperti ini๐๐๐.
Maafkan daku yang belum bisa membuat kalian terhibut dengan novel aneh ini๐๐
maklum baru belajar๐, maaf juga kalau misalnya dinovel ini banyak kata kata yang salah, author khilaf soalnya๐ญ๐
Oh iyah, mungkin kalau banyak peminat atau permintaan kalian terhadap novel ini, mungkin aku bakalan buat seson duanya๐๐, TAPI INGAT, JIKA HANYA PEMINATNYA BANYAK SAJA!!! Jika emang kalian sudah puas sampai sini maka aku gak akan lanjut๐๐
Makanya itu kalian harus komen sebanyak-banyaknya tentang novel ini okey๐๐, biar aku tau.๐๐
Oh iyah, aku punya rekomendasi novel keren nih, baca juga dong ini punya temanku
judulnya: Loyalty
Karya :SanzDae
Dukung dia juga yah, sembari aku menunggu komenan kalian๐
Okey guys, ingat yah komen sebanyak-banyaknya dikolom komentar ini๐๐
SEEYOU AGAIN IN NEXT MY NOVEL GUYS๐ค,
LOVE YOU ALL๐๐