
"Ada apa pak?" Dia bertanya seolah tak terjadi sesuatu hari ini.
"Kamu masih nanya ada apa,kamu gak sadar apa kesalahanmu?"
"Saya gak salah pak." Ucap Stella dengan santainya.
"Kamu bilang kamu gak salah? berani sekali kamu berkata seperti itu."
"Yah jelas dong saya berani, orang saya gak salah, bapak aja yang terlalu berlebihan, saran saya pak, jadi orang jangan over plus sensian, ntar gak ada yang mau dekat sama bapak." Stella melipat tangannya didada,ia terlihat acuh menjawab pertanyaan pak Juan. Sungguh Stella benar benar membuat orang lain geleng geleng kepala.
"Kamu... " Pak juan menghentikan ucapannya, ia menghela nafas berat, menurunkan jari telunjuknya yang tadi sempat mengacung kepada Stella. Dia tampak sedang bergulat dengan fikirannya.
Sungguh luar biasa sekali anak ini, baru kali ini aku lihat anak perempuan sebrani dia, kebraniannya harus saya akui, dia sepertinya bukan anak perempuan biasa, dia punya keberanian yang tak dimiliki cewe pada umumnya.Tapi saya juga kesal berani sekali dia melawan saya, tidak seharusnya seorang siswa seperti itu bukan? -batin pak Juan
"Kamu ini siswa baru, baru berapa bulan disekolah ini tapi kamu sudah berani melawan saya."
"Terus kenapa rupanya kalau saya siswa baru, ada masalah sama bapak? " Stella terlihat begitu menantang Pak Juan, dia benaran tidak suka melihat orang lain yang menggunakan jabatan untuk menindas orang lain.
Tapi ayolah Stel... ini bukan sebuah penindasan, ini sebuah pelajaran.
"Cukup,kamu mau nantangin saya?" Suara Pak Juan kini berubah sedikit keras.
"Siapa yang mau nantangin bapak, tapi kalau bapak mau nantangin saya, saya oyo ayo aja, saya siap, saya gak takut sama bapak, jangan mentang mentang bapak guru,bapak bisa bertindak sesuka bapak,bapak pikir saya sama seperti mereka,takut gitu sama bapak? oh tidak saya tidak takut sedikitpun dengan bapak." Dengan Sinisnya Stella menjawab pertanyaan pak Juan, terlihat tidak ada rasa takut sedikitpun dimata Stella.
Disaat orang lain sedang deg deg an, Stella hanya terlihat begitu santai.
"Gila yah tuh Stella, berani benar." Ucap salah satu siswa berambut gondrong dgn mata sipit berkaca mata.
"Iyah... dia yang berantam, gue yang deg deg an lihatnya." Ucap salah satu teman sirambut gondrong.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar percakapan itu dan merasa jijik dengan Stella, siapa lagi jika bukan Aldo.
Orang yang sangat tidak suka dengan hal hal yang berbau pelanggaran seperti yang dilakukan Stella.
"Cih... dasar tidak tau malu." Tanpa sadar Aldo bergumam seperti itu.
Sementara disisi lain...
"Stella dengar yah... saya gak main main sama ucapan saya, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini, jika kamu tidak bisa menaati peraturan." Dengan wajah merah padam, dan jari telunjuk yang terangkat kewajah Stella,sudah cukup jelas menggabarkan jika sekarang Pak Juan sedang marah besar pada Stella,meskipun jauh dilubuk hatinya tersirat rasa kagum terhadap anak itu, tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
Baru kali ini dia dilawan sampai seperti itu, membuat harga dirinya sebagai guru terasa tercabik cabik begitu saja.
"Bapak mau ngeluarin saya? silahkan saja pak, saya gak takut. Selama saya benar, saya tidak pernah merasa takut. Saya hanya membela mereka semua, bapak saja yang mempermasalahkannya, jadi orang jangan ego pak, pikirkan juga orang lain." Stella semakin menjadi jadi, ia semakin tak suka dengan pak Juan.
Dan harus kalian ketahui, jika Stella sudah tidak menyukai orang itu, maka dia tidak akan perduli siapa orang tersebut. Baik tua, muda, kaya, miskin, anak pejabat dan anak belantara sekalipun, dia tidak perduli,dia tetap akan memperlakukannya sama,dia tetap akan melawan jika dia benar.
Banyak teriakan teriakan gak jelas dipinggir pinggir lapangan, mereka menontoni pertengkaran ini seperti sedang menonton bioskop gratis, tidak ada yang benar benar perduli dengan pertengkaran ini, bahkan untuk menengahi saja tidak ada yang mau, hanya ada beberapa orang yang terlihat jelas kekhawatiran diwajahnya.
"Guys.... tolongin Stella dong, gue gak mau dia kenapa napa, dia cewe, Dev lo kan cowo, lo juga yang paling jago berantam tolong pisahin Stella sama pak Juan." Terlihat tatapan memelas dari wajah Bianca. Sekarang ini dia benar benar khawatir terhadap sahabatnya itu.
"Sabar Bi, kita gak mungkin langsung misahin gitu aja, bisa bisa kita nanti yang kenak serang, kita lihat aja dulu, ntar kalau pak Juan sampai main fisik, kita baru turun tangan." Devano berusaha menenangkan Bianca yang mulai meneteskan air mata melihat pertengkaran itu, dia memegang pundak Bianca, dan mengusap air matanya.
"Sabar gimana, lo mau biarin pak Juan main fisik dulu gitu ke sahabat kita, baru lo pade turun tangan? Dia itu sahabat kita, sahabat kita paling kecil, lo semua kenapa? lo semua mau biarin Stella terluka dulu baru nolongin."
Suranya mulai meninggi,air matanya semakin meluruh, ia benar benar tak terkendali saat itu, dia benaran tidak bisa melihat sahabatnya itu bersitegang dengan guru angkuh super dingin itu, hanya demi membela teman temannya yang sama sekali tak perduli padanya.
"Oke,jika kalian gak mau nolongin Stella, biar gue aja yang pergi nolongin dia, kalian benar benar teman gak guna." Dia menghapus air matanya dengan kasar, dia ingin berlalu dari tempat itu namun tangannya dicekal oleh seseorang.
"Jangan gegabah Bi, kalau lo kayak gini ntar bukannya bantuin Stella kita justru malah membahayakannya." Saat Amanda menenangkan Bianca, tiba tiba Devano berlari kearah Stella dan pak Juan, terlihat tangan pak Juan yang dicekal oleh Devano.
Ternyata tadi pak Juan lepas kendali dan hampir saja menampar Stella yang terus kurang ajar padanya, tapi untunglah Devano datang tepat waktu atau sekarang pipi Stella akan merah bekas tamparan dan pak Juan akan sangat merasa bersalah serta harga dirinya akan turun.
"Pak...bapak apaan sih.... berani beraninya bapak mau nampar Stella, saya tau Stella sedikit berlebihan pak, tapi gak gini juga. Bapak itu pria dewasa, harusnya bapak lebih ngerti dari pada Stella, lebih dewasa. Bukan lebih kekanak kanakkan gini, bapak bahkan hampir nampar dia. Bapak berfikir gak sih sebelum ngelakuin itu, saya pikir bapak adalah guru yang paling bermartabat, ternyata apa ? cih... saya salah besar, bapak gak lebih dari pria pria brengsek diluar sana, yang hanya bisa main fisik doang." Devano menghempaskan tangan Pak Juan dengan sangat kasar ia berlalu meninggalkan tempat itu.
Tapi tiba tiba ia berhenti dan membalikkann badannya.
" Satu lagi pak, Stella ngelakuin itu semua karena dia ingin menyadarkan bapak, betapa arogannya bapak yang tidak mau mengerti perasaan siswa, jadi saya harap bapak bisa berubah." Devano berbalik sambil menarik tangan Stella menjauh dari tempat itu.
Stella diam diam melirik Devano,ia kagum dengan cara Devano membelanya tadi. Dia bangga punya sahabat sahabat seperti Devano, Bianca dan yang lainnya.
Dia berharap agar tuhan bisa membuat ke lima sahabatnya itu selalu bahagia dan bisa bersamanya sampai nanti takdirlah yang memisahkan mereka.
Sesampainya ia ditempat para sahabatnya mengumpul, Bianca langsung memeluknya sangat erat, benar benar erat, bahkan sangat sulit untuknya bernafas. Seolah Bianca ingin menunjukkan betapa khawatirnya dia terhadap sahabatnya itu.
"Kan gue udah bilang tadi, supaya lo minta maaf aja, gak usah pakek pakek berantam segala, kenapa lo gak mau dengar sih." Dengan isak tangisnya, ia berkata lirih seperti sedang menumpahkan sesuatu yang tak bisa dilihat namun bisa dirasakan.
"Maaf..., tapi gue gak papa kok, lo lihat sendiri kan." Stella berusaha menenangkan sahabatnya itu, ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Bianca. Stella menunjukkan senyum terindahnya agar Bianca percaya bahwa dia tidak apa apa.
Disisi lain para siswa telah bubar, seiring dengan Devano yang menarik Stella meninggalkan tempat itu. Sementara Pak Juan sudah berlalu ntah kemana, mungkin ia ingin menenangkan dirinya.
Devano memeluk ke dua sahabatnya yang sedang saling menghibur itu, melepaskan rasa cemas mereka masing masing.
Pelukan itu juga disusul oleh Amanda, Bima dan juga Kevin. Mereka saling memeluk, menguatkan satu sama lain.
****
* Sahabat yang benar benar sahabat adalah seseorang yang ada dikalah kita susah dan senang, orang yang juga bisa merasakan apa yang kita rasakan, orang yang selalu mendukung dan membela kita, orang yang benar benar ada untuk kita,dan mereka adalah orang yang siap membantu kita kapan pun kita terpuruk,walau mereka jugalah orang yang pertama kali menertawakan kita saat kita terjatuh, tapi percayalah sahabat yang benar benar sahabat akan tetap mengulurkan tangannya meskipun mereka tertawa
****
**NB: JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE, MKSH***:)